Legenda sepak bola Brasil Ronaldo Luis Nazario de Lima memprediksi Spanyol akan menjuarai Piala Dunia 2026 dengan kemenangan mudah atas Argentina pada laga final yang berlangsung Senin (20/7) dini hari WIB. Ramalan tersebut disampaikan Ronaldo melalui unggahan di akun TikTok resminya bersama Denilson, rekan sesama juara dunia 2002.
Spanyol melangkah ke partai puncak setelah menekuk Prancis 2-0 di semifinal pekan ini. Penampilan La Furia Roja sejak fase grup terbilang dominan. Usai secara mengejutkan ditahan imbang Cape Verde di laga pembuka, mereka menyapu bersih enam laga beruntun dan baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen.
Argentina sebagai juara bertahan harus bekerja keras. Tim asuhan Lionel Scaloni melakukan comeback dramatis di masa injury time untuk menyingkirkan Inggris. Ketergantungan pada magis Lionel Messi yang sudah berusia 39 tahun menjadi sorotan dalam perjalanan mereka di Amerika Utara.
Ronaldo menilai final nanti bukan sekadar soal individu, melainkan benturan dua filosofi. Spanyol membawa konsistensi gaya main yang sudah mendarah daging dalam skuad. Sang mantan penyerang Barcelona menilai DNA tersebut lahir dari pengaruh Pep Guardiola sejak 2006–2007 di klub Catalan.
Bagi pengamat di Tanah Air, prediksi Ronaldo mencerminkan tren sepak bola modern yang mengutamakan penguasaan bola dan transisi otomatis. Indonesia yang masih membangun fondasi teknik melalui Elkan Baggott dan pemain muda lainnya bisa mengambil pelajaran dari struktur pembinaan Spanyol.
Dampaknya bagi penikmat bola Indonesia cukup langsung. Final Piala Dunia selalu menjadi momentum rating tertinggi stasiun televisi dan platform streaming. Prediksi legenda sekelas Ronaldo ikut memanaskan perbincangan di media sosial menjelang kick-off.
Komparasi dengan situasi lokal menarik. Timnas Indonesia kerap kali mengandalkan fighting spirit dan organisasi bertahan ketimbang dominasi possession. Kelemahan terhadap tim yang mengalirkan bola cepat terlihat saat menghadapi negara-negara Asia Timur di Kualifikasi Piala Asia.
Ronaldo menegaskan Spanyol akan mendikte tempo dan meredam agresivitas lawan lewat penguasaan bola. "Spanyol akan menang mudah dengan memperagakan sepak bola yang luar biasa. DNA mereka bukan baru muncul di Piala Dunia ini," ujar pria berusia 49 tahun tersebut.
Ia memuji karakter Argentina meski memprediksi kekalahan. "Messi sekali lagi mengukir kisah indah. Tim ini menunjukkan semangat pantang menyerah yang mengagumkan," kata Ronaldo. Namun, menurutnya, otomatisasi permainan Spanyol sulit dibendung La Albiceleste.
Ke depan, hasil final akan memengaruhi peta kekuatan sepak bola dunia pasca-Messi. Jika Spanyol menang, generasi pemain muda mereka diproyeksikan mendominasi edisi 2030. Argentina harus mulai merancang transisi tanpa sosok berjuluk La Pulga tersebut.
Bagi Indonesia, euforia final bisa menjadi ajang edukasi taktik bagi pelatih akar rumput. Penggunaan video analisis dan kurikulum berbasis possession layak diadopsi demi mengejar ketertinggalan dari negara Asia Tenggara lainnya.
Turnamen di Amerika Utara ini membuktikan bahwa kedalaman skuad dan filosofi jangka panjang lebih menentukan ketimbang sekadar bintang tunggal. Pelajaran itu relevan untuk federasi di negara berkembang termasuk PSSI.