Ronaldinho telah mendarat di Bandara Forli Ridolfi, Kamis (20/8) waktu setempat, menggunakan jet pribadi untuk memulai babak baru kariernya di Italia. Kedatangannya menandai resmi bergabungnya dengan Ravenna, klub yang berkompetisi di Seri C, liga ketiga Italia. Legenda Brasil berusia 46 tahun itu disambut langsung oleh manajemen klub dan segera menjalani prosedur administrasi pendaftaran pemain.
Klub Ravenna merekrut Ronaldinho pada musim panas ini sebagai bagian dari proyek ambisius mereka. Wakil Presiden Ravenna, Ariedo Braida, mantan direktur sport AC Milan yang pernah membawa Ronaldinho ke San Siro, mengonfirmasi bahwa pemain tersebut akan didaftarkan secara resmi. Soal apakah ia akan benar-benar turun ke lapangan, Braida menjawab santai: "Kita lihat saja, tapi hal itu tidak dikesampingkan."
Latar belakang rekrutmen ini tidak lepas dari peran Braida yang memiliki hubungan erat dengan Ronaldinho sejak masa keduanya di AC Milan. Braida percaya kehadiran Ronaldinho tidak hanya soal performa di lapangan, tetapi juga nilai komersial dan branding global yang dibawanya. Ravenna, klub dengan sejarah bergulir sejak 1913, sedang berusaha bangkit ke kasta lebih tinggi setelah beberapa musim di liga bawah.
Bagi Ronaldinho, keputusan ini datang tujuh tahun setelah ia menggantung sepatu secara resmi pada 2018. Penampilan terakhirnya di level profesional klub adalah bersama Fluminense pada 2015, sebelum ia sempat bermain futsal di liga India. Selama karier senior, ia mencatat 699 penampilan dan 266 gol, meraih gelar Liga Champions, La Liga, Serie A, serta Piala Dunia 2002 dengan Brasil.
Ketibaan Ronaldinho di Italia memicu spekulasi soal seriusnya niat bermain kompetitif di usia yang sudah tidak muda. Namun, sang legenda sendiri menegasikan motivasinya dengan gaya khasnya: "Saya tidak sabar untuk menari bersama bola. Sepak bola selalu menjadi sumber kegembiraan bagi saya, dan saya sangat antusias untuk membawa semangat itu ke Ravenna. Mari kita mulai keajaibannya!" Pernyataan itu diucapkan kepada media Flashscore saat tiba di bandara.
Dari perspektif industri sepak bola, rekrutmen ini mengikuti tren klub-kulb liga bawah Eropa yang merekrut bintang lama untuk menarik perhatian global. Fenomena serupa pernah terjadi saat David Beckham bergabung LA Galaxy, atau baru-baru ini Lionel Messi ke Inter Miami. Perbedaan, Ravenna bukan klub top-tier, melainkan tim Seri C yang rata-rata penonton stadionnya hanya ribuan orang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kehadiran Ronaldinho di liga Italia — meski di kasta ketiga — tetap menjadi momen nostalgia. Generasi milenial Indonesia tumbuh menonton aksinya di Barcelona dan AC Milan melalui siaran TV kabel. Banyak yang mengingat gol bebas ikoniknya melawan Chelsea di Liga Champions 2005, atau assist 'no-look' yang jadi tanda tangan. Kehadirannya di Italia kembali memancing kenangan emas era Ronaldinho.
Secara komersial, Ravenna sudah memanfaatkan momen ini dengan merilis merchandise edisi khusus dan konten media sosial yang viral. Akun resmi klub membanjiri timeline dengan video kedatangan Ronaldinho, yang dalam hitungan jam meraih jutaan tayangan. Ini menunjukkan daya tarik nama Ronaldinho melampaui batas usia dan level kompetisi.
Tantangan teknis tetap ada. Fisik Ronaldinho pada usia 46 tahun tentu tak seprima masa keemasan di Camp Nou. Intensitas Seri C Italia, meski lebih rendah dari Serie A, tetap menuntut kecepatan dan ketahanan fisik 90 menit. Ronaldinho sendiri realistis: "Saya pasti akan bermain beberapa menit dalam pertandingan resmi, lalu lihat saja nanti bagaimana perasaan saya."
Langkah selanjutnya adalah proses pendaftaran resmi ke Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan penentuan jadwal debut potensial. Ravenna akan memulai musim Seri C grup B pada September mendatang. Jika Ronaldinho benar turun ke lapangan, ia akan menjadi pemain tertua yang pernah beraksi di liga profesional Italia, melewati rekaman Paolo Maldini yang pensiun di usia 40 tahun.
Di luar lapangan, kehadiran Ronaldinho dibuka peluang kolaborasi komersial dengan sponsor klub dan mitra broadcasting. Beberapa brand olahraga global sudah menunjukkan minat mengaktifkan kembali kontrak endorsement dengannya, memanfaatkan momentum comeback ini. Bagi Ravenna, ini investasi berisiko tinggi tapi potensi return-nya masif — baik finansial maupun reputasional.
Apapun hasilnya di lapangan, Ronaldinho sudah memenangkan narasi: ia menolak pensiun diam dan memilih kembali ke tempat yang paling dicintainya — lapangan hijau. Bagi jutaan penggemar di Indonesia dan dunia, melihat 'Dinho' kembali memakai sepatu bola, meski hanya untuk beberapa menit, sudah menjadi kemenangan emosional yang tak ternilai harta.