Eks bek Timnas Portugal Ricardo Costa meluangkan suara di tengah kritik yang mengguyur Cristiano Ronaldo usai Selecao das Quinas tersingkir dari Piala Dunia 2026. Portugal harus pulang lebih awal setelah dikalahkan Spanyol 0-1 di babak 16 besar, hasil yang memicu desakan agar Ronaldo menggantung sepatu dari timnas.
Costa menilai kritik tersebut tidak adil mengingat kontribusi Ronaldo yang tetap konsisten bersaing di level tertinggi meski sudah berusia 41 tahun. Pelatih Roberto Martinez percayakan kapten itu sebagai ujung tombak penuh di kelima laga Portugal, mulai fase grup hingga babak knockout.
Dalam kelima penampilan tersebut, Ronaldo mencetak tiga gol. Dua di antaranya tercipta di gawang Uzbekistan di fase grup, sementara satu gol lain dibukanya ke gawang Kroasia. Angka tersebut membuatnya tetap menjadi pencetak gol tertinggi Portugal di turnamen, meski tidak cukup mengantarkan tim ke perempat final.
"Saya kira kita harus mengakui jasa Cristiano Ronaldo karena terus bersaing di level tertinggi," ujar Costa kepada O Jogo. Mantan pemain Valencia dan Bayern Munich itu menegaskan keputusan Martinez memasukan Ronaldo sebagai starter adalah pilihan taktis yang dihitung matang untuk keseimbangan tim.
Costa menambahkan, narasi kritik akan berubah drastis jika Portugal berhasil melangkah hingga ke final. "Seandainya Portugal melangkah sampai final, pilihan-pilihan ini mungkin tidak akan dibahas luas. Mengingat hasilnya tidak seperti harapan, kritik itu wajar," tandasnya dengan nada pragmatis.
Argumen paling menarik dari Costa muncul saat ia menarik perbandingan dengan lawan sejati Ronaldo, Lionel Messi. Argentina memang berhasil ke final Piala Dunia 2026 berkat kontribusi besar Messi — delapan gol dan empat assist — namun sang kapten justru redup di laga puncak melawan Spanyol.
"Messi toh juga tidak bersinar di final melawan Spanyol, dan tidak ada orang yang banyak membicarakan soal itu," sambung Costa. Pernyataan itu mengungkap standar ganda yang sering terpaut pada dua legenda sepak bola modern ini: Ronaldo dinilai berdasarkan keberhasilan tim, sedangkan Messi sering dinilai berdasarkan briliannya individu.
Fakta di lapangan menunjukkan Argentina memang tampil lebih konsisten. Albiceleste bermain final back-to-back setelah juara 2022, sebuah pencapaian yang mengukuhkan status Messi sebagai pemimpin yang masih dominan di usia 39 tahun. Namun, kegagalan mencetak gol atau assist di final jadi titik hitam yang jarang dibahas media global.
Di sisi Portugal, keputusan Martinez mempertahankan Ronaldo sebagai starter penuh justru menimbulkan perdebatan taktis. Beberapa pengamat menilai kehadiran Ronaldo membatasi ruang gerak pemain muda seperti Goncalo Ramos atau Rafael Leao. Namun, data menunjukkan Ronaldo tetap menciptakan peluang dan menyelesaikan tiga kesempatan emas.
Kendati demikian, efisiensi Portugal di babak knockout memang menurun. Tim hanya mencetak satu gol di fase grup lawan Kroasia dan gagal mencetak gol sama sekali di 16 besar. Masalah finishing kolektif, bukan hanya performa individu Ronaldo, menjadi faktor kunci kegagalan.
Proyeksi ke depan, masa depan Ronaldo dengan Timnas Portugal tetap kabur. Fedsep Portugal (FPF) belum mengeluarkan keputusan resmi, tapi regenerasi sudah menjadi keharusan. Costa sendiri menilai keputusan pensiun sepenuhnya ada di tangan Ronaldo dan manajemen tim, bukan tekanan publik.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan betapa tipisnya garis antara legasi dan realitas kompetitif. Ronaldo dan Messi telah mendefinisikan era, tapi sepak bola tidak akan berhenti menunggu siapa pun. Piala Dunia 2026 justru jadi bukti bahwa transisi generasi adalah keharusan, bukan pilihan.