Inggris gagal memanfaatkan momentum kemenangan telak di format T20 setelah tunduk enam wicket dari India pada pertandingan pertama seri One Day International (ODI) di Edgbaston. Kekalahan tersebut menambah daftar panjang inkonsistensi tim berjuluk Three Lions di format 50-over, sekaligus menjadi pengingat keras bagi Brendon McCullum di awal penugasannya yang dikurangi perannya sebagai pelatih white-ball.
Menyusul pemecatan McCullum dari kursi pelatih Test dua hari sebelumnya, timnas Inggris justru tampil melempem di hadapan publik Birmingham. Meski sempat mengoleksi 258 run dari 47,5 overs berkat resistensi Joe Root dan Liam Dawson, target tersebut terlalu gampang bagi India yang membalasnya dengan 262-4 hanya dalam 45,2 overs. Shubman Gill memimpin pesta run tim tamu sebelum mengalami kram, disusul aksi Axar Patel dan Washington Sundar yang memastikan kemenangan dengan sisa 28 bola.
Konteks kekalahan ini tidak bisa dilepaskan dari komposisi skuad India yang jauh berbeda saat mereka dibantai 4-0 di seri T20. Kali ini, raksasa kriket seperti Virat Kohli, Rohit Sharma, Jasprit Bumrah, dan Gill kembali meramaikan starting eleven. Formasi bintang tersebut mengubah total wajah pertandingan, di mana Bumrah langsung mengancam sejak lemparan pembuka, sementara Kohli yang berusia 37 tahun tampak lincah di lapangan pada seri yang dikabarkan menjadi penutup kariernya di Inggris.
Di sisi Inggris, awal yang menjanjikan justru berubah jadi bencana. Mereka sempat berada di posisi 61-0 sebelum runtuh menjadi 64-3, lalu 107-6 akibat keruntuhan tiga wicket hanya dalam enam lemparan. Ben Duckett sempat mencetak 43 run, namun Jacob Bethell terlihat kebingungan saat dipaksa membuka batting, dan Jos Buttler yang merayakan caps ke-200 hanya mampu menyumbang lima run. Kehadiran Dawson di urutan kedelapan membawa ketenangan, menghasilkan stand 111 run bersama Root yang notabene rata-rata mengoleksi 70 run sejak awal 2025.
Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dawson yang menghadapi 83 lemparan, lebih banyak dari total sembilan laga ODI sebelumnya digabung, tertarik untuk menarik bola pendek Axar hingga tertangkap di deep square. Axar, yang sebelumnya mencetak 4-62 dengan bola, lantas membabat ekor batting Inggris. Adil Rashid, Jofra Archer, dan Josh Tongue gugur dalam enam lemparan Axar, meninggalkan Root tanpa partner dan memaksa Inggris tersingkir untuk ke-11 kalinya dalam 19 ODI terakhir.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, akses terhadap pertandingan kriket elit semacam ini kini tidak lagi terhalang jarak dan waktu berkat kemajuan platform streaming Over-The-Top (OTT) dan aplikasi analitik olahraga. Komunitas kriket lokal yang sebelumnya kesulitan menemukan siaran langsung, kini bisa memantau setiap lemparan melalui layanan berlangganan yang didukung teknologi pelacakan bola berbasis kecerdasan buatan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana portal teknologi turut berperan memopulerkan olahraga minoritas di Tanah Air.
Meski demikian, performa Inggris di Edgbaston menyoroti masalah klasik yang juga kerap dialami timnas kriket Indonesia dalam fase pembinaan: ketergantungan pada segelintir pemain pilar dan minimnya kedalaman pelatih all-rounder. Indonesia sendiri terus mengembangkan kriket melalui program berbasis komunitas di Jakarta dan Bali, namun jarak kualitas dengan negara peringkat delapan dunia seperti Inggris masih terjal. Kekurangan satu peluncur bola cepat (pace bowler) di skuad Inggris akibat cedera Jamie Overton menjadi pelajaran betapa krusialnya rotasi pemain di format panjang.
Teknologi wearable dan sensor di pakaian atlet pun menjadi sorotan terselubung dari laga ini. India sukses memanfaatkan data biomekanik untuk mengatur pola istirahat Gill yang kram, memastikan dia fit untuk laga berikutnya. Di Indonesia, pemanfaatan sensor kebugaran serupa mulai menyasar klub kriket amatir untuk mencegah cedera otot, menunjukkan adopsi teknologi olahraga global yang perlahan merasuk ke akar rumput domestik.
Gill, yang tampil gemilang dengan 80 run sebelum meninggalkan lapangan, memberikan klarifikasi tegas terkait kondisi fisiknya. Ia memastikan cederanya hanya kram dan siap bermain pada pertandingan kedua di Cardiff, meredakan kekhawatiran akan cedera hamstring yang sempat diisukan. Di sisi lain, kekalahan ini memunculkan sorotan mengenai masa depan McCullum yang secara teori masih terikat kontrak white-ball hingga Piala Dunia 50-over di Afrika Selatan pada akhir 2027.
Secara peringkat, Inggris berada di posisi kedelapan dunia dan wajib bertahan di sembilan besar demi menghindari babak kualifikasi Piala Dunia. Mengingat West Indies berada di urutan ke-10, peluang McCullum dan anak asuhnya untuk lolos otomatis terbilang aman. Namun, dengan catatan 14 kekalahan dari 20 ODI terakhir, tekanan untuk merestrukturisasi tim tidak bisa lagi ditunda.
Laga kedua di Cardiff pada Kamis mendatang akan menjadi ujian krusial bagi Inggris untuk bangkit sebelum seri berakhir. McCullum dituntut segera menemukan formula keseimbangan antara spinner dan peluncur bola cepat, mengingat kehadiran Dawson terbukti memberikan terlalu banyak spinner di dalam skuad. Kehadiran Overton yang diharapkan pulih juga dinanti untuk memperkuat dimensi kecepatan bowling Inggris.
Tren ke depan menunjukkan bahwa dominasi India di format ODI akan terus berlanjut selama kombinasi pemain senior dan all-rounder muda seperti Sundar terjaga. Bagi Inggris, transformasi budaya bermain agresif yang sukses di T20 harus diekspansi ke ODI dengan pendekatan ilmiah, termasuk pemanfaatan video analisis untuk membongkar kelemahan bowling lawan. Tanpa adaptasi cepat, mimpi merebut gelar pada 2027 hanya akan jadi angan.