Real Madrid harus menelan pil pahit pada pekan keempat La Liga Spanyol musim ini setelah takluk 0-1 di markas Real Betis, Stadion Cartuja, Sevilla, Sabtu (5/9) dini hari WIB. Hasil ini menjadi kekalahan perdana bagi skuad asuhan Jose Mourinho, sekaligus menghentikan tren positif mereka setelah sebelumnya sukses menyapu bersih tiga laga pembuka melawan Espanyol, Real Sociedad, dan Malaga.
Sepanjang 90 menit pertandingan, Los Blancos sebenarnya mendominasi jalannya laga dengan penguasaan bola mencapai 60 persen. Kylian Mbappe dan rekan-rekannya tercatat melepaskan 20 upaya ke gawang, dengan tujuh di antaranya tepat sasaran. Namun, tembok pertahanan Real Betis yang digalang kiper Alvaro Valles terbukti terlalu tangguh untuk ditembus oleh lini serang bertabur bintang milik Madrid.
Petaka bagi tim tamu datang pada menit ke-81 ketika Troy Parrott berhasil memecah kebuntuan. Gol tersebut mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah. Madrid sempat berusaha membalas melalui gol Carlos Espi pada menit ke-87, namun intervensi VAR membatalkan gol tersebut karena posisi penyerang Madrid itu sudah berada dalam kondisi offside.
Klimaks dari performa buruk Madrid terjadi pada masa injury time. Wasit menunjuk titik putih setelah Natan melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Kylian Mbappe yang maju sebagai eksekutor gagal menjalankan tugasnya dengan sempurna; tendangannya berhasil dibaca dan diamankan oleh Alvaro Valles, memastikan tiga poin tetap berada di tangan Real Betis.
Kekalahan ini menempatkan Madrid di posisi kedua klasemen sementara dengan koleksi sembilan poin, setara dengan perolehan poin Real Betis yang berada di peringkat ketiga. Situasi ini tentu memberi celah bagi rival abadi mereka, Barcelona, untuk menjauh di puncak klasemen jika mampu meraih kemenangan pada laga pekan keempat yang berlangsung Minggu (6/9).
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa dominasi statistik tidak selalu berbanding lurus dengan hasil akhir. Seperti halnya dalam Liga 1 Indonesia, di mana tim dengan penguasaan bola tinggi sering kali terjebak dalam serangan balik efektif lawan, Madrid pun harus mengakui efektivitas strategi pragmatis Real Betis.
Secara industri, kegagalan eksekusi penalti pemain bintang seperti Mbappe sering kali memicu perdebatan mengenai tekanan mental di level elit. Di Indonesia, di mana antusiasme terhadap La Liga sangat tinggi, performa pemain bintang menjadi komoditas utama yang memengaruhi minat penonton terhadap tayangan olahraga di platform digital maupun televisi.
Kekalahan ini juga menjadi alarm bahaya bagi Jose Mourinho. Dengan jadwal padat yang menanti, termasuk laga krusial menghadapi Inter Milan di Liga Champions tengah pekan depan, efisiensi di depan gawang menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera diselesaikan oleh tim pelatih.
Para pengamat sepak bola menilai bahwa ketergantungan Madrid pada skema serangan yang monoton memudahkan lawan untuk melakukan antisipasi, terutama saat menghadapi tim dengan organisasi pertahanan yang disiplin seperti Betis. Jika pola ini terus berlanjut, posisi Madrid di papan atas klasemen akan semakin rentan digeser oleh tim-tim kuda hitam lainnya seperti Alaves atau Osasuna.
Menilik susunan pemain, Madrid sebenarnya menurunkan skuad terbaiknya, termasuk Thibaut Courtois di bawah mistar serta kuartet pertahanan Dumfries, Konate, Huijsen, dan Cucurella. Namun, rotasi dan adaptasi pemain baru tampak belum sepenuhnya menyatu di lapangan, terutama dalam transisi dari menyerang ke bertahan yang sering kali menyisakan lubang di lini belakang.
Ke depannya, Madrid dituntut untuk lebih variatif dalam membongkar pertahanan lawan. Ketergantungan pada aksi individu, khususnya dari Mbappe atau Vinicius Jr, tidak cukup untuk menghadapi tim yang menerapkan blok pertahanan rendah. Mourinho perlu meracik strategi yang lebih taktis untuk memastikan dominasi penguasaan bola mereka benar-benar menghasilkan gol.
Laga kontra Inter Milan akan menjadi ujian mentalitas sesungguhnya bagi skuad Madrid. Apakah kekalahan ini hanya sebuah anomali atau tanda awal penurunan performa, jawabannya akan tersaji dalam pertarungan sengit di ajang antarklub paling bergengsi di Eropa tersebut dalam beberapa hari ke depan.