Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, atau yang akrab disapa Rayjo, tidak lagi melihat persaingan di pelatnas sebagai beban. Sebaliknya, ketatnya peta ganda putra Indonesia justru menjadi katalisator bagi pasangan berusia 22 dan 23 tahun itu untuk menaikkan standar permainan mereka ke level berikutnya. Di tengah suasana latihan yang memanas di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (12/8), Raymond mengakui tekanan internal sudah terasa sejak lama, namun ia memilih memandangnya sebagai motivasi sehat.
"Dari awal kayaknya juga sudah berasa persaingannya, enggak mau kalah pokoknya," ujar Raymond dengan nada tenang namun penuh keyakinan. Sikap itu mencerminkan kematangan mental pasangan yang baru lolos dari kualifikasi Kejuaraan Dunia BWF 2026. Mereka tidak ingin hanya jadi pelengkap di Arena Indira Gandhi, New Delhi, pada 17 hingga 23 Agustus mendatang, melainkan benar-benar bersaing untuk podium tertinggi.
Latar belakang eskalasi persaingan ini jelas terlihat dari performa rekan-rekan mereka sendiri. Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin baru saja mengemas dua gelar berturut-turut di Thailand Open dan Taipei Open 2026. Tak kalah hebat, Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri — senior yang sudah lama jadi tulang punggung ganda putra — menjuarai Japan Open dan China Open 2026 secara beruntun. Kedua pasangan itu saat ini menempati posisi teratas ranking dunia dan otomatis menjadi tolok ukur ketat bagi seluruh peserta pelatnas.
Raymond menilai dominasi rekan sejawat justru membawa angin segar. "Bagus sih menurut saya, jadi kayak teman-teman lain juara, kemarin ada yang juara dua kali kan. Itu jadi memotivasi kami juga biar bisa sama kayak mereka, kalau bisa harus lebih dari mereka," tegasnya. Pernyataan itu bukan sekadar omong kosong. Rayjo sendiri memiliki rekam jejak solid: mereka juara Indonesia Masters 2026 dan konsisten lolos ke babak akhir turnamen BWF World Tour level Super 300 hingga Super 750 sepanjang musim ini.
Dinamika ini menciptakan ekosistem yang langka di dunia bulu tangkis: persaingan internal yang tidak memecah belah, tapi saling mengangkat. Pelatih ganda putra nasional, Herry Iman Pierngadi, sebelumnya telah menegaskan bahwa sistem rotasi dan evaluasi berkala diterapkan secara transparan. Tidak ada jaminan tempat untuk siapa pun, termasuk pasangan senior. Kebijakan itu memaksa setiap atlet untuk mempertahankan performa puncak minggu demi minggu.
Bagi Rayjo, Kejuaraan Dunia 2026 menjadi ujian kebangkitan sekaligus pembuktian. Indonesia belum lagi menyabet gelar ganda putra dunia sejak keemasan Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan di Basel 2019. Kesenjangan tujuh tahun itu menjadi beban historis yang harus dipikul generasi baru. Raymond dan Joaquin sadar, debut di ajang bergengsi ini bukan sekadar mengisi kuota, tapi kesempatan untuk menulis babak baru.
Persiapan dua pekan terakhir dirancang spesifik untuk menghadapi gaya bermain lawan potensial di New Delhi. Latihan fisik ditingkatkan dengan pola interval tinggi, sementara sesi video analisis difokuskan pada pasangan-pasangan China, Korea, dan Denmark yang dikenal taktis dan fisik. Joaquin, yang dikenal cerdik di net, dilatih untuk lebih variatif memainkan tempo, sedangkan smash Raymond dipoles agar lebih tajam menembus pertahanan lawan.
Faktor mental pun jadi perhatian utama. Tim psikolog timnas telah melakukan sesi simulasi tekanan besar, meniru suasana partai pentas di babak knockout. Raymond mengakui, pengalaman bermain final Indonesia Masters 2026 di depan penonton rumah sendiri jadi modal berharga. "Kami sudah terbiasa dengan tekanan, sekarang soal bagaimana mengelolanya di panggung dunia," ujarnya.
Di luar lapangan, dukungan manajemen PBSI juga terasa nyata. Program nutrisi disesuaikan dengan beban latihan puncak, sedangkan jadwal turnamen pasca-Kejuaraan Dunia sudah dirancang agar tidak terlalu padat, memberikan ruang pemulihan optimal. Hal ini berbeda dengan era sebelumnya di mana atlet sering dipaksa main beruntun tanpa pertimbangan kesehatan jangka panjang.
Sejarah mencatat, ganda putra Indonesia selalu jadi andalan medali di kancah internasional. Dari era Rexy Mainaky/Ricky Subagja, Candra Wijaya/Tony Gunawan, hingga Ahsan/Setiawan — garis keturunan keunggulan itu tak terputus. Rayjo hadir di saat transisi generasi, di mana senior mulai mundur dan junior belum sepenuhnya siap ambil alih. Posisi mereka strategis: cukup muda untuk fisik prima, cukup berpengalaman untuk tidak gugup di panggung besar.
Kejuaraan Dunia 2026 di New Delhi akan jadi batu uji apakah sistem regenerasi dan budaya persaingan sehat di Pelatnas PBSI benar-benar berbuah. Jika Rayjo berhasil meraih gelar, itu bukan hanya kemenangan pribadi, tapi validasi bagi seluruh ekosistem bulu tangkis Indonesia. Dan jika belum, setidaknya mereka sudah menanamkan standar baru: di sini, tidak ada tempat untuk zona nyaman.