PSSI memasuki tahap negosiasi lanjutan dengan RANS Entertainment untuk mengamankan hak siar resmi Indonesia Women's League (IWL) musim 2026/2027. Keputusan ini tidak terlepas dari keberhasilan RANS mengelola siaran Srikandi Merdeka Cup 2026 yang baru berakhir, di mana kanal YouTube mereka mencatat angka concurrent viewers melebihi 120 ribu per laga.
Anggota Komite Eksekutif PSSI Vivin Cahyani mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan pihak media milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina telah berjalan ke arah yang positif. "Pembicaraan sih sudah positif, tapi memang kami masih jajaki lagi, kan secara komersialnya bagaimana, paperwork-nya bagaimana, kontraknya berapa lama," ujar Vivin di Jakarta, Kamis (20/8).
Latar belakang pemilihan RANS bermula dari strategi PSSI untuk menembak demografi penonton perempuan yang masif. Nagita Slavina sebagai CEO RANS Entertainment dinilai memiliki daya tarik dan citra role model yang cocok untuk menggerakkan basis suporter wanita. Faktor inilah yang memisahkan RANS dari pesaing media lain yang juga berminat.
Kendati sinyal positif, penunjukan RANS sebagai penyiar Srikandi Merdeka Cup 2026 sempat memicu kontroversi kecil. Pengumuman resmi baru keluar menjelang babak semifinal, menimbulkan tanda tanya soal transparansi proses seleksi. Direktur Program turnamen Teddy Tjahjono mengakui keterlambatan itu murni karena penyesuaian jadwal antara Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan manajemen RANS yang keduanya padat.
Di balik keributan jadwal, data penayangan justru membuktikan keputusan PSSI tidak sia-sia. Srikandi Merdeka Cup yang digelar di Kudus, Jawa Tengah, berhasil menarik perhatian publik jauh melebihi ekspektasi awal. Angka 120 ribu penonton simultan per pertandingan menjadi bukti nyata bahwa konten sepak bola wanita memiliki daya tarik komersial besar jika dikemas dengan tepat di platform digital.
Prestasi ini menjadi batu loncatan krusial. PSSI kini memiliki bukti empirik bahwa RANS mampu mengonversi potensi pasar sepak bola wanita menjadi angka penonton nyata. Hal ini selaras dengan visi Erick Thohir yang ingin mempopulerkan liga putri ke lapisan masyarakat yang lebih luas, bukan hanya komunitas pecinta sepak bola murni.
Bagi industri media olahraga Indonesia, kolaborasi ini menandakan pergeseran paradigma. Hak siar liga profesional wanita yang selama ini dianggap minim nilai jual kini bertransformasi menjadi aset komersial yang menarik. RANS dengan basis langganan YouTube puluhan juta dan jaringan cross-platform (TV, streaming, media sosial) memiliki infrastruktur yang tepat untuk menskalakan jangkauan IWL.
Namun, tantangan komersial tetap menghadang. Vivin menyoroti tiga poin kritis: skema pembagian hasil, kelengkapan administrasi hukum, dan durasi kontrak. PSSI yang kini bertransformasi jadi entitas komersial profesional tidak akan menandatangani kesepakatan tanpa jaminan keuntungan berbagi risiko yang adil bagi kedua belah pihak.
Nagita Slavina menyikapi peluang ini dengan optimisme terukur. "Tapi, ya semoga ke depannya memang akan ada lebih banyak lagi di RANS Entertainment, didoain. Salah satunya liga putri, mohon doanya semoga lancar," ujarnya. Sikap rendah hati ini mencerminkan kesadaran bahwa hak siar IWL bukan hadiah, melainkan mandat bisnis yang harus dibuktikan performanya setiap musim.
Jika kesepakatan tercapai, IWL 2026/2027 yang bergulir 17 Oktober mendatang akan menjadi uji coba nyata. RANS harus membuktikan kemampuan mempertahankan momentum penayangan dari turnamen pendek Srikandi Merdeka Cup ke liga berdurasi panjang dengan jadwal padat dan dinamika tim yang lebih kompleks.
Secara jangka panjang, kemitraan ini berpotensi mengubah lanskap sepak bola wanita Indonesia. Paparan media masif akan menarik sponsor baru, meningkatkan nilai transfer pemain, dan mendorong profesionalisasi klub. Bagi anak-anak perempuan yang bermimpi jadi pemain sepak bola, visibilitas di layar RANS bisa jadi inspirasi nyata yang selama ini sulit didapatkan.
Langkah selanjutnya ada di meja negosiasi hukum dan komersial. PSSI dan RANS diharapkan menyelesaikan "paperwork" dalam waktu dekat agar persiapan produksi siaran liga berjalan lancar. Keberhasilan kolaborasi ini tidak hanya menentukan nasib IWL, tapi juga menjadi teladan bagi pengelola liga wanita lain di Asia Tenggara.