Claudio Ranieri resmi menjabat sebagai Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Pria berusia 74 tahun itu mendapat mandat besar: mengakhiri rentetan tiga kali kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia. Ia langsung menempatkan pembenahan sepak bola usia muda sebagai prioritas utama.
Ranieri diangkat setelah drama panjang yang diawali batalnya penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih. Pirlo gagal maju lantaran terafiliasi dengan perusahaan judi asal Rusia, Fonbet. Situasi itu memicu mundurnya Leonardo Araujo dan Paolo Maldini dari posisi penasihat teknis dan direktur teknik. FIGC akhirnya menunjuk Ranieri untuk mengisi kekosongan.
Langkah pertama yang ditekankan Ranieri adalah membuat sepak bola lebih terjangkau bagi anak-anak. Ia mencontohkan pengalamannya di Cagliari, di mana biaya masuk sekolah sepak bola dinilai terlalu mahal. "Ini tidak boleh terjadi," tegas Ranieri. Ia khawatir banyak anak berbakat kehilangan akses karena alasan finansial.
Italia memang tengah menghadapi masalah besar pada sektor pembinaan. Meski memiliki sejarah empat gelar Piala Dunia, Gli Azzurri gagal tampil di turnamen paling bergengsi itu sejak 2014. Kegagalan beruntun ini menjadi aib yang tak bisa dibiarkan. Ranieri percaya solusinya bukan sekadar berganti pelatih atau taktik.
Menurut Ranieri, Italia sebenarnya sering tampil baik di level usia muda. Tim-tim junior Italia kerap menjuarai turnamen hingga mencapai final. Namun, masalah muncul saat transisi dari level U-21 ke tim senior. Banyak talenta muda yang tidak berkembang dan gagal menembus tim utama.
Ranieri juga menyoroti pendekatan taktik yang terlalu dominan di Italia ia mengatakan, "Terlalu mudah untuk bilang kami tak lolos, tapi itu karena kami tak punya cukup banyak pemain untuk dipilih." Menurutnya, di luar Italia, taktik tim tidak serumit di Italia. Ia meminta agar pembinaan taktik dan teknik individu berjalan seimbang.
Pemenang Premier League bersama Leicester City itu ingin anak-anak Italia kembali mahir dalam keterampilan dasar. Ia menyebut kontrol bola, pergerakan, kemampuan mengumpan silang, dan menembak harus diajarkan sejak dini. "Kami harus mengajari anak-anak bagaimana menguasai bola," ujarnya.
Fokus pada teknik individu ini penting diperhatikan Indonesia. Negara kita sering kali lebih mengagungkan hasil instan tanpa membangun fondasi skill dasar. Indonesia bisa belajar dari kesalahan Italia yang terlalu menekankan taktik sejak usia muda. Akibatnya, pemain Indonesia pun kerap kalah dalam hal penguasaan bola dan kreativitas.
Lebih jauh, Indonesia juga menghadapi masalah serupa dalam hal akses dan biaya. Sekolah sepak bola di Indonesia kerap mahal sehingga tidak semua anak bisa mengaksesnya. Jika Italia, negara sepak bola sekelas Italia, masih bergulat dengan masalah ini, Indonesia harus berbenah lebih serius.
Proyek Ranieri tidak akan berbuah instan. Ia menargetkan perbaikan sistem dari bawah untuk memastikan regenerasi pemain berkualitas ke tim nasional. FIGC sendiri mendukung penuh visi Ranieri untuk mengakhiri era kelam sepak bola Italia.
Ke depan, kita bisa melihat apakah Italia mampu kembali menjadi kekuatan Piala Dunia. Jika reformasi Ranieri berjalan, Indonesia dan negara berkembang lainnya patut meniru langkah ini. Sepak bola usia muda adalah pondasi yang tak boleh diabaikan oleh siapa pun.