Rachel Allessya Rose dan Febi Setianingrum resmi mengamankan tiket perempat final Kejuaraan Dunia Badminton 2026 usai pasangan Jepang Yuki Fukushima dan Mayu Matsumoto memutuskan mundur di tengah pertarungan babak 16 besar. Laga yang berlangsung di gelar utama BWF itu berakhir prematur ketika Fukushima/Matsumoto unggul 11-6 di gim kedua, namun cedera memaksa mereka menyerahkan kemenangan kepada wakil Indonesia.
Perjalanan laga menunjukkan dominasi Rachel/Febi di gim pertama. Pasangan peringkat 12 dunia itu memulai dengan tenang meski sempat tertinggal, lalu berbalik memimpin 6-3. Permainan lob dan net lawan diladeni dengan matang, mengantarkan mereka ke interval dengan keunggulan 11-5. Setelah jeda, selisih skor melebar hingga 18-9 sebelum smash keras Rachel menghasilkan game point 20-9, ditutup 21-9 dalam waktu singkat.
Dinamika berubah drastis di gim kedua. Fukushima/Matsumoto tampil jauh lebih agresif, membalik ketertinggalan 0-2 menjadi keunggulan 6-3. Momentum berlanjut hingga interval gim kedua dengan skor 11-6 untuk pasangan Jepang. Namun, tepat di titik itu, Fukushima terlihat mengeluh dan meminta medical time-out sebelum akhirnya memutuskan tidak melanjutkan pertarungan.
Kemenangan ini menandakan penampilan terbaik Rachel/Febi di ajang Kejuaraan Dunia senior. Sebelum laga ini, pencapaian terbaik mereka di turnamen bergengsi ini hanya sampai babak 16 besar. Kini mereka berhak bertemu pemenang antara pasangan China atau Korea Selatan di babak perempat final yang dijadwalkan besok.
Latar belakang keberhasilan ini tak lepas dari proses pembinaan PBSI yang memfokuskan pengembangan ganda putri muda sejak Olimpiade Paris 2024. Rachel dan Febi dipasangkan sejak awal 2025 dan menunjukkan progres konsisten, meraih dua gelar Super 300 dan satu final Super 500 di separuh pertama musim 2026. Gaya bermain mereka yang mengutamakan kecepatan transisi dan variasi net menjadi senjata ampuh melawan pasangan berpengalaman seperti Fukushima/Matsumoto.
Mundurnya Fukushima/Matsumoto tentu menimbulkan pertanda tanya soal kondisi fisik ganda putri Jepang yang dikenal padat jadwal. Pasangan veteran itu baru saja berkompetisi di Japan Open minggu lalu dan harus beradaptasi dengan zona waktu yang berbeda. Cedera yang dialami Fukushima diduga berkaitan dengan kelelahan akumulasi, meski tim medis Jepang belum mengeluarkan keterangan resmi soal diagnosis pasti hingga artikel ini ditulis.
Bagi badminton Indonesia, kemenangan ini memberikan semangat baru di tengah dominasi ganda putri China dan Korea Selatan di ranking dunia. Saat ini, tidak ada pasangan Indonesia di lima besar ranking BWF ganda putri. Penampilan Rachel/Febi di 8 besar Kejuaraan Dunia menjadi bukti bahwa regenerasi yang dibangun PBSI mulai menunjukkan hasil, meski masih butuh konsistensi di turnamen-turnamen besar berikutnya.
Ketua Umum PBSI, Bobby Ertanto, yang hadir di venue, mengapresiasi mentalitas dua putrinya. "Rachel dan Febi bermain dengan sabar di gim pertama dan siap memanfaatkan peluang. Mundurnya lawan memang di luar dugaan, tapi mereka sudah melakukan tugas dengan baik," ujar Bobby saat ditemui usai laga. Ia juga menambahkan bahwa tim medis PBSI akan memantau kondisi lawan potensial di perempat final untuk mempersiapkan strategi terbaik.
Di sisi teknis, pelatih ganda putri Indonesia, Aryono Miranat, menyoroti perbaikan servis dan return Rachel/Febi selama turnamen ini. "Di gim pertama hari ini, persentase poin langsung dari servis mereka mencapai 35 persen. Itu angka tinggi untuk level Kejuaraan Dunia," jelas Aryono. Ia mengakui masih ada catatan soal ketahanan fisik di gim panjang, mengingat laga hari ini hanya berlangsung 32 menit sebelum lawan mundur.
Proyeksi ke depan, Rachel/Febi akan menghadapi tantangan lebih berat di perempat final. Calon lawan mereka, kemungkinan besar Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (China) atau Baek Ha Na/Lee So Hee (Korea Selatan), memiliki pengalaman final dunia dan Olimpiade. Kunci utama bagi pasangan Indonesia adalah mempertahankan tempo tinggi dari awal dan meminimalkan kesalahan tak paksa yang sering muncul saat tekanan meningkat.
Secara sejarah, ini kali pertama sejak 2019 ganda putri Indonesia menembus 8 besar Kejuaraan Dunia. Saat itu, Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih perak. Jika Rachel/Febi mampu melangkah lebih jauh, mereka akan mengakhiri keringan medali ganda putri Indonesia di ajang bergengsi ini yang sudah berlangsung tujuh tahun. Badminton Indonesia menunggu dengan penuh harap.