Rachel Allessya Rose dan Febi Setianingrum tidak memainkan game ketika berbicara tentang target di Kejuaraan Dunia 2026. Keduanya seragam menjawab 'juara' saat ditanya ambisi pelatih maupun keinginan pribadi mereka. Keyakinan itu tidak muncul begitu saja — ia tumbuh dari persiapan khusus yang dirancang tim pelatih PBSI selama berbulan-bulan.
Pasangan yang baru digabungkan sejak September 2025 ini memang memiliki rekam jejak mengesankan. Gelar juara Australia Open 2025 menjadi bukti kimia mereka di lapangan sudah terbangun dengan cepat. Namun, Kejuaraan Dunia adalah panggung berbeda. Tekanan mental, intensitas lawan, dan format turnamen yang lebih lama menuntut persiapan yang jauh lebih matang.
Pelatih ganda putri Pelatnas mempersiapkan program latihan yang diferensiasi untuk pasangan yang berangkat ke New Delhi. Rachel mengungkapkan, setiap pasangan memiliki program masing-masing yang disesuaikan dengan kebutuhan teknis dan fisik. Pendekatan ini menunjukkan PBSI tidak lagi menerapkan pola 'satu ukuran untuk semua' dalam menyiapkan atlet untuk turnamen bergengsi.
Di luar jam latihan, Rachel dan Febi juga sengaja meluangkan waktu untuk membangun komunikasi di lapangan. Bukan sekadar seruan 'aku' atau 'kamu', tapi pemahaman ritme permainan satu sama lain. Febi mengakui, komunikasi intensif ini menjadi acuan agar mereka lebih giat mengejar target. Keduanya sadar, di level Kejuaraan Dunia, kesalahan komunikasi sekecil apapun bisa memutus momentum permainan.
Mengelola tekanan mental menjadi babak tersendiri dalam persiapan. Febi memilih relaksasi sebagai cara menenangkan saraf, sedangkan Rachel memprioritaskan istirahat penuh dan recovery setelah sesi latihan berat. Perbedaan pendekatan ini justru menunjukkan kematangan masing-masing atlet dalam mengenal diri sendiri — aspek yang sering terabaikan tapi krusial di panggung besar.
Indonesia mengirim total 11 wakil ke New Delhi, komposisi yang cukup seimbang di seluruh sektor. Di ganda putri, Rachel/Febi dibarengi Febriana Dwipuji Kusuma dan Meilysa Trias Puspitasari. Sektor ganda putra dikukuhkan oleh tiga pasangan: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, serta Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani.
Ganda campuran mengandalkan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dan Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri. Sementara tunggal putri diwakili Putri Kusuma Wardani dan Thalita Ramadhani Wiryawan, serta tunggal putra oleh Jonatan Christie dan Alwi Farhan. Susunan ini mencerminkan strategi PBSI yang ingin menguji kedalaman bakat di semua sektor secara bersamaan.
Kehadiran dua pasangan ganda putri muda seperti Rachel/Febi dan Febriana/Meilysa menandakan regenerasi sedang berjalan. Fajar/Rian sebagai senior tetap menjadi tulang punggung, tapi kehadiran Raymond/Nikolaus serta Sabar/Reza menunjukkan lapisan kedua yang siap bersaing. Di ganda campuran, pasangan muda juga mulai mendapat kepercayaan — sinyal positif untuk jangka panjang menuju Olimpiade 2028.
Kejuaraan Dunia 2026 ini juga menjadi uji coba bagi sistem pelatihan baru PBSI yang lebih menekankan individualisasi program. Jika Rachel/Febi berhasil meraih podium, ini akan menjadi validasi kuat bahwa pendekatan 'customized training' layak diteruskan dan diperluas ke atlet lain. Kegagalan pun tidak berarti akhir, tapi masukan untuk menyempurnakan metodologi.
Bagi Rachel dan Febi secara pribadi, turnamen ini adalah momen 'make or break' dalam karir ganda mereka. Menjuarai Kejuaraan Dunia di debut akan meletakkan nama mereka di samping legenda seperti Greysia/Apriyani atau Nitya/Krisna. Bahkan jika belum emas, performa yang meyakinkan sudah cukup untuk mengunci posisi mereka sebagai ganda putri andalan Indonesia ke depan.
Jadwal padat menunggu pasangan ini. New Delhi dikenal dengan kondisi lapangan yang cepat dan kelembaban tinggi — tantangan fisik tersendiri. Keseimbangan antara agresivitas dan konsistensi akan menentukan nasib mereka. Satu hal pasti: mereka tidak pergi ke India hanya untuk 'mengalami', tapi untuk menaklukkan.