Ganda putri Indonesia Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum tersingkir pada babak pertama Japan Open 2026 setelah kalah dari unggulan kedua asal China, Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian. Kekalahan tersebut terjadi di Tokyo, Jepang, pada Rabu dengan skor akhir 11-21, 21-19, 14-21 dalam pertarungan tiga gim.
Pasangan Merah Putih sebenarnya sempat memberi perlawanan sengit. Mereka bangkit di gim kedua setelah tertinggal telak di gim pembuka. Namun, inkonsistensi kembali menghantui Rachel/Febi pada gim penentuan sehingga peluang lolos tertutup.
Japan Open 2026 merupakan salah satu turnamen bergengsi dalam kalender BWF World Tour Super 750. Keikutsertaan Rachel/Febi di ajang ini menjadi ujian konsistensi bagi pasangan muda yang diproyeksikan mengisi slot inti ganda putri Indonesia pasca-era Greysia Polii/Apriyani Rahayu.
Pada gim pertama, Rachel/Febi langsung dihadapkan pada tekanan agresif dari Jia/Zhang. Duo China tidak banyak mengangkat bola dan lebih memaksa serangan sejak awal. Hal ini membuat wakil Indonesia kehilangan ritme dan kebobolan 21-11.
Menurut Rachel, perubahan pola permainan lawan terlambat terbaca oleh timnya. Pertemuan sebelumnya menunjukkan karakter bermain yang berbeda, sehingga kesiapan taktik di lapangan menjadi tidak optimal. Kesalahan anticipasi itu berujung pada kekalahan gim pembuka dengan selisih 10 poin.
Memasuki gim kedua, Rachel/Febi mengubah strategi dengan mengurangi pukulan lob dan berupaya menguasai area depan lebih dulu. Penyesuaian tersebut membuahkan hasil. Mereka menyamakan kedudukan 21-19 dan memaksa partai berlanjut ke gim ketiga.
Sayangnya, momentum tersebut tidak bertahan lama. Febi mengakui bahwa pada gim penentuan pasangannya kehilangan konsistensi terhadap pola yang sudah terbukti ampuh di gim sebelumnya. Banyak kesalahan sendiri dan hilangnya ketenangan menjadi faktor utama kekalahan 14-21.
Bagi perbulutangkisan Indonesia, hasil ini menambah catatan evaluasi terhadap duet muda yang sedang digembleng PBSI. Ganda putri menjadi sektor yang cukup kritis mengingat tekanan prestasi di Olimpiade dan Kejuaraan Dunia ke depan. Kegagalan di Tokyo memperlihatkan bahwa modal teknik saja tidak cukup tanpa stabilitas mental.
Kondisi serupa sempat dialami pasangan Amri/Nita yang juga tersingkir di Japan Open akibat kehilangan ketenangan. Begitu pula sektor ganda lain yang masih bergulat dengan transisi generasi. Ini menunjukkan bahwa persoalan konsistensi bukan kasus tunggal Rachel/Febi, melainkan tantangan sistemik di pelatnas.
"Permainan hari ini banyak kurang puasnya, harusnya bisa lebih baik. Banyak kesalahan sendiri, banyak tidak tenangnya," ucap Rachel melalui keterangan resmi PBSI usai laga. Febi menambahkan, "Sebenarnya tadi kan gim kedua sudah dapat cara mainnya, kami berusaha main no lob dan mendahului depannya. Tapi di gim ketiga kami kurang konsisten dengan pola tersebut."
Kekalahan di Jepang menjadi bahan evaluasi langsung jelang China Open 2026 pekan depan. Ironisnya, Rachel/Febi akan kembali berhadapan dengan Jia/Zhang pada babak pertama turnamen tersebut. Febi menegaskan perlunya peningkatan fokus sejak awal dan konsistensi penerapan pola permainan.
Prospek ke depan menuntut PBSI melakukan pendekatan psikologis yang lebih intensif bagi atlet muda. Pertemuan beruntun dengan lawan sama dalam dua pekan berturut-turut dapat dipakai sebagai laboratorium pembelajaran. Jika Rachel/Febi mampu meretas konsistensi, mereka berpeluang kembali ke jajaran ganda putri kompetitif Asia.
Di sisi lain, publik bulutangkis Tanah Air tetap menaruh harap pada regenerasi yang sedang berjalan. Kegagalan di Japan Open bukan akhir, melainkan titik tolak penyempurnaan strategi sebelum rangkaian turnamen Eropa dan Asia tersisa di 2026.
Perspektif Indonesia dari sisi pembinaan menunjukkan bahwa turnamen Super 750 seperti Japan Open adalah barometer kesiapan atlet pelatnas. Ketergantungan pada improvisasi di lapangan harus dikurangi dengan pemetaan video lawan yang lebih disiplin. Dengan demikian, inkonsistensi semacam yang dialami Rachel/Febi dapat ditekan sebelum bertanding.
Pembinaan ganda putri juga perlu melihat tren permainan China yang makin mengandalkan kecepatan dan serangan rendah. Indonesia wajib menyesuaikan metode latihan fisik dan taktik agar tidak selalu tertinggal pada adaptasi pola. China Open pekan depan akan menjadi tes nyata apakah pelajaran Tokyo sudah terserap.