Putri Kusuma Wardani tidak lagi bersedia puas dengan medali perunggu. Di usia 24 tahun, tunggal putri andalan Indonesia itu menatap target yang lebih tinggi: merubah warna medali di Kejuaraan Dunia 2026 yang akan digelar di Paris, Prancis, Agustus mendatang. "Targetnya ingin memperbaiki warna medali. Syukur-syukur bisa juara atau minimal menjadi runner-up," ucap Putri saat ditemui di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Selasa (4/8).
Pernyataan itu bukan sekadar omong kosong. Kepercayaan diri Putri melonjak drastis usai ia berhasil memecahkan 'kode' Wang Zhi Yi di perempat final Japan Open 2026 kemarin. Kemenangan 21-19, 21-17 atas unggulan China itu menjadi sejarah — pertama kalinya Putri mengalahkan pemain berusia 26 tahun tersebut setelah beberapa kali gagal di laga-laga sebelumnya. Lebih dari sekadar poin ranking, kemenangan itu membuktikan bahwa permainan Putri sudah setara dengan elite dunia.
Momentum itu tak berhenti di sana. Di semifinal, Putri harus menyerah pada Akane Yamaguchi, juara dunia bertahan. Namun, berbeda dengan kekalahan-kekalahan lama, kali ini Putri merasa benar-benar punya peluang. "Sebenarnya saya merasa punya peluang untuk menang juga," tuturnya. Rasa 'dekat tapi belum' itulah yang justru jadi bahan bakar mental. Bukan lagi ketakutan menghadapi nama besar, tapi keyakinan bahwa celah kemenangan memang ada.
Latar belakang pencapaian Putri tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang bulu tangkis putri Indonesia mencari jati diri pasca era Susi Susanti. Sejak Susi meraih emas di Kejuaraan Dunia 1993 di Birmingham, tidak ada tunggal putri Indonesia yang kembali menyentuh puncak. Lindaweni Fanetri, Maria Febe Kusumastuti, hingga Gregoria Mariska Tunjung pernah dekat — Gregoria sempat meraih perak di Tokyo 2022 — tapi emas tetap sirna. Putri KW kini jadi panutan baru untuk mengakhiri keringan 33 tahun tersebut.
Di sektor tunggal putri, Putri tidak sendirian. Dia dibantu Thalita Ramadhani Wiryawan, pemain muda yang mulai menonjol di ajang-ajang internasional. PBSI sengaja memasangkan sistem 'tunggal putri ganda' di pelatnas: Putri sebagai pemimpin, Thalita sebagai pelapis sekaligus regenerasi. Strategi ini mirip era dulu ketika Susi didampingi Yuliani Santosa dan Mia Audina. Bedanya, kompetisi sekarang jauh lebih ketat dengan dominasi China, Korea, dan Jepang yang memproduksi pemain dalam kedalaman besar.
Kemenangan atas Wang Zhi Yi juga membuka wawasan teknis baru bagi tim pelatih. Putri bermain agresif di net, memaksa lawan ke area tidak nyaman, dan memanfaatkan smash tajam dari posisi belakang. Pelatih tunggal putri, Aryono Miranat, menilai pola main ini harus dijadikan 'senjata standar' bukan sekadar kejutan sekali pakai. "Konsistensi jadi kunci. Putri sudah punya kemampuan teknis, sekarang soal bagaimana dia memainkannya di bawah tekanan besar," ujar Aryono.
Sisi mental jadi babak paling kritis. Putri jujur mengakui bahwa di Japan Open, kelelahan mental jauh lebih berat dibanding fisik. "Setelah pertandingan selesai, yang terasa capek bukan badannya, tapi justru pikirannya," ceritanya. Hal ini wajar: setiap poin lawan top-5 dunia menuntut fokus penuh, kalkulasi risiko, dan pengendalian emosi dalam detik-detik. PBSI kini melibatkan psikolog olahraga untuk melatih simulasi tekanan match point, final, hingga skenario tertinggal jauh.
Dampak keberhasilan Putri melampaui prestasi personal. Sponsor dan media mulai memperhatikan bulu tangkis putri dengan serius. Beberapa merek peralatan olahraga dan nutrisi telah menawarkan kerja sama eksklusif. Lebih penting, minat anak-anak perempuan di klub-klub bulu tangkis di daerah meningkat. Data PBSI menunjukkan pendaftaran pelatihan tunggal putri naik 18% pada kuartal kedua 2026 dibanding periode sama tahun lalu. Efek 'role model' nyata terasa.
Tantangan di Paris nanti tak akan mudah. Undian bisa mempertemukan Putri dengan An Se Young (Korea), Chen Yu Fei (China), atau kembali menghadapi Yamaguchi di babak awal. Format kejuaraan dunia tanpa seeding ganda seperti Olimpiade membuat jalan menuju final penuh kejutan. Putri butuh daya tahan fisik untuk bermain hingga tujuh pertandingan dalam sembilan hari — uji nyata untuk manajemen recovery dan jadwal latihan puncak.
PBSI telah menyusun rencana khusus: Putri tidak akan ikut turnamen Super 1000 Malaysia Open minggu depan. Alih-alih, dia akan menjalani blok latihan intensif di Cipayung selama tiga minggu, fokus pada ketahanan tiga set dan variasi servis. Hanya akan turun di Indonesia Open (Super 1000) awal Juni sebagai simulasi final sebelum ke Paris. Keputusan ini berani tapi perlu, mengingat jadwal padat tahun ini.
Jika Putri berhasil meraih emas, dia akan menuliskan nama baru di sejarah bulu tangkis Indonesia setelah Susi Susanti. Lebih dari medali, itu akan menjadi bukti bahwa sistem regenerasi PBSI berfungsi — dari pengembangan Thalita, penguatan mental, hingga pemilihan jadwal turnamen yang cerdas. Bagi jutaan penggemar bulu tangkis di negeri ini, harapan itu sudah cukup layak ditunggu.
Langkah selanjutnya ada di tangan Putri sendiri. Dia sudah membuktikan bisa menaklukkan 'gunung' bernama Wang Zhi Yi. Sekarang, tugasnya menaklukkan gunung-gunung lain satu per satu, dengan kepala dingin dan hati yang percaya diri. Paris menunggu.