PSSI melalui anak usahanya PT Garuda Sepakbola Indonesia (GSI) memutuskan menjual tiket pertandingan Timnas Indonesia melawan Singapura di Stadion Jalan Besar dalam bentuk paket bundling. Kebijakan ini diambil setelah federasi hanya memperoleh kuota 256 tiket dari total 6.000 kursi yang disediakan oleh tuan rumah.
Harga tiket standar ditetapkan Rp550.000, namun suporter bisa membeli paket tiket ditambah jersey resmi Garuda seharga Rp650.000. Paket alternatif kedua menawarkan tiket dan syal bermerek Timnas dengan banderol Rp727.100. Arya Sinulingga, anggota Exco PSSI, menegaskan penambahan Rp100.000 saja sudah memberikan merchandise bernilai jauh lebih tinggi dari harga pasar.
Latar belakang keputusan ini adalah keterbatasan alokasi tiket yang diberikan Football Association of Singapore (FAS). Dari 6.000 kapasitas stadion, hanya 254 hingga 256 tiket yang diserahkan ke PSSI, persentase yang sangat kecil bagi basis suporter Indonesia yang masif. Kondisi ini memaksa federasi mencari cara agar tiket yang tersedia tersebar adil sekaligus menambah nilai bagi pembeli.
Arya mengakui bundling merupakan gimmick pemasaran yang diserahkan sepenuhnya ke GSI. Menurutnya, harga jersey di pasaran bebas bisa mencapai angka jauh lebih besar, sehingga paket Rp650.000 dinilai menguntungkan suporter. Namun, ia juga menyatakan belum ada keputusan final apakah pola serupa akan diterapkan pada laga tandang Timnas berikutnya, karena masih perlu kajian mendalam.
Kebijakan bundling ini memicu perdebatan di kalangan pecinta sepak bola. Sebagian suporter merasa terbantu karena mendapatkan merchandise resmi tanpa harus berbelanja terpisah, sementara yang lain menilai PSSI memanfaatkan keterbatasan tiket untuk mencetak keuntungan tambahan. Isu transparansi alokasi tiket juga sering dikritik, mengingat jumlah kursi yang sangat minim dibandingkan permintaan.
Dari sisi industri, langkah ini menunjukkan bagaimana federasi sepak bola mulai mengadopsi strategi penjualan berbasis nilai tambah (value‑added) untuk mengoptimalkan pendapatan non‑matchday. Jika dikelola baik, bundling bisa menjadi model baru untuk laga internasional lain, terutama saat kuota tiket suporter tandang selalu terbatas.
Sementara itu, GSI berperan sebagai operator teknis penjualan, mulai dari platform pembelian hingga distribusi merchandise. Kinerja GSI dalam memastikan proses berjalan lancar akan menentukan kepercayaan publik ke depan. Kegagalan logistik atau ketidakjelasan harga bisa merusak citra PSSI yang sudah rentan terhadap kritik.
Menatap ke depan, PSSI berencana mengevaluasi dampak bundling setelah laga berakhir. Hasil evaluasi akan menjadi acuan apakah skema serupa akan diterapkan pada kualifikasi Piala Dunia 2026 atau turnamen regional lainnya. Faktor kunci akan menjadi respons suporter, penjualan merchandise, serta kelancaran alur distribusi.
Secara keseluruhan, keputusan bundling tiket Timnas di Piala AFF 2026 mencerminkan realitas keterbatasan kuota tiket tandang dan upaya federasi mengubah tantangan itu menjadi peluang komersial. Keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada keseimbangan antara kepuasan suporter dan kebutuhan pendanaan operasional sepak bola nasional.