Ketua Umum PSSI Erick Thohir angkat bicara soal logistik perjalanan Timnas Indonesia dalam Piala AFF 2026. Ia memastikan skuad Garuda tidak akan menumpang pesawat jet pribadi (*private jet*) selama fase grup turnamen regional tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Erick seusai menyaksikan laga Timnas Indonesia versus Kamboja di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, pada Senin (27/7) malam. "Enggak [pakai private jet], kami coba *blocking seat* [di pesawat komersial]. Kemarin sudah didukung oleh Garuda," ujar Erick, yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.
Keputusan ini menarik perhatian mengingat logistik perjalanan merupakan salah satu kunci keberhasilan sebuah tim nasional dalam turnamen berskala multi-kota dan multi-negara seperti Piala AFF. Penggunaan pesawat jet pribadi kerap dianggap solusi mewah untuk menghemat waktu dan menjaga kondisi fisik pemain. Namun, PSSI memilih jalur berbeda.
Sejatinya, opsi *private jet* seringkali menjadi pertimbangan serius bagi federasi sepak bola di kawasan Asia Tenggara. Biaya sewa yang mencapai miliaran rupiah per jam penerbangan menjadi beban tersendiri, namun dianggap sepadan dengan kenyamanan dan efisiensi waktu yang ditawarkan.
Langkah PSSI kali ini menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis dan hemat anggaran. Dengan memanfaatkan maskapai komersial seperti Garuda Indonesia dan memesan blok kursi, federasi berupaya menjaga efisiensi biaya tanpa mengorbankan aspek kenyamanan dan ketepatan waktu yang memadai bagi para pemain.
Rencana perjalanan tim sendiri cukup padat. Setelah melawan Kamboja, mereka akan terbang ke Thailand untuk menghadapi Timor Leste pada Jumat (31/7) di Stadion Chonburi. Erick memperkirakan durasi penerbangan dari Jakarta ke Thailand sekitar empat jam lebih, ditambah perjalanan darat dari bandara ke stadion sekitar 30-40 menit.
Setelah pertandingan di Thailand, skuad Garuda harus segera kembali ke Indonesia untuk menjamu Vietnam di Stadion Pakansari pada Senin (3/8). Perjalanan terakhir di fase grup akan membawa mereka ke Singapura untuk melawan tuan rumah pada Jumat (7/8). Pola pulang-pergi ini menuntut manajemen waktu dan pemulihan yang sangat ketat dari tim pelatih.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman. Pelatih asal Inggris itu dituntut menyusun program pemulihan (*recovery*) yang sangat presisi di tengah jadwal perjalanan yang padat. Kesiapan fisik dan mental pemain akan diuji, terutama setelah menempuh perjalanan udara dan darat yang melelahkan antar negara.
Dari sisi industri olahraga nasional, keputusan ini juga menggambarkan realitas anggaran dan pertimbangan bisnis di balik pengelolaan tim nasional. Meskipun dukungan sponsor dan federasi meningkat, alokasi dana tetap harus dikelola secara cermat. Penghematan di sektor transportasi bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih prioritas, seperti program pelatihan atau *scouting* pemain.
Bagi para penggemar dan publik, berita ini memberikan gambaran transparan tentang bagaimana PSSI mengelola sumber daya untuk tim kebanggaan mereka. Ada harapan agar keputusan logistik yang lebih sederhana ini tidak mengganggu fokus dan performa tim di lapangan, melainkan justru menjadi motivasi tambahan untuk membuktikan prestasi.
Ke depannya, model perjalanan seperti ini mungkin bisa menjadi standar baru bagi tim nasional Indonesia dalam turnamen serupa. Selain efektif secara biaya, pendekatan ini juga menanamkan kedisiplinan dan pola pikir profesional di lingkungan tim. Faktor kunci yang perlu terus diamati adalah bagaimana efektivitas program pemulihan Herdman di tengang jadwal perjalanan yang padat dengan moda transportasi komersial.
Piala AFF 2026 menjadi panggung awal bagi eksperimen ini. Keberhasilan atau kegagalan tim dalam menjaga kondisi fisik selama turnamen akan menjadi bahan evaluasi penting bagi PSSI untuk kebijakan logistik di masa mendatang, termasuk kemungkinan revisi strategi untuk turnamen atau kualifikasi dengan skala perjalanan yang lebih ekstrem.
Pada akhirnya, semua keputusan manajemen di luar lapangan bertujuan satu hal: memberikan performa terbaik di atas lapangan hijau. Masyarakat Indonesia akan menanti buktinya, apakah strategi perjalanan yang hemat ini berbanding lurus dengan semangat dan hasil kompetitif yang diharapkan dari timnas di Piala AFF 2026.