PSSI resmi mengarahkan fokus Timnas Indonesia untuk melakoni dua laga uji coba di Timur Tengah pada periode FIFA Matchday November mendatang. Langkah ini diambil sebagai strategi persiapan skuad Garuda sebelum menghadapi agenda kompetisi internasional yang lebih berat, sekaligus menyesuaikan diri dengan karakteristik permainan tim-tim di kawasan tersebut.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa pihaknya saat ini tengah intensif berkomunikasi dengan beberapa federasi sepak bola di Timur Tengah untuk melengkapi agenda tersebut. Yordania telah dipastikan menjadi lawan pertama yang akan menjamu Indonesia. Meski demikian, PSSI masih berupaya mencari satu lawan tambahan guna memaksimalkan slot dua pertandingan yang tersedia dalam kalender FIFA.
Keputusan untuk menggelar laga tandang ini bukan tanpa alasan teknis. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), yang selama ini menjadi markas utama Timnas Indonesia, dipastikan tidak dapat digunakan untuk kegiatan sepak bola pada akhir tahun karena akan menjadi lokasi konser grup idola asal Korea Selatan, BTS, yang dijadwalkan pada 26, 27, dan 29 Desember 2026.
Situasi ini memaksa PSSI untuk memutar otak dan mengubah pola persiapan tim. Selama beberapa tahun terakhir, Timnas Indonesia memang lebih sering mengandalkan laga uji coba di dalam negeri untuk menjaga ritme dan kedekatan dengan suporter. Terakhir kali skuad Garuda menjalani laga persahabatan di luar negeri terjadi pada Juni 2019, yakni saat bertandang ke Yordania.
Erick Thohir secara terbuka menyebut bahwa pihaknya harus mengalah demi agenda hiburan berskala internasional tersebut. Meski demikian, ia memandang ini sebagai tantangan positif bagi tim asuhan pelatih untuk merasakan atmosfer pertandingan di kandang lawan yang memiliki kultur sepak bola berbeda.
Secara teknis, pemilihan Timur Tengah sebagai destinasi uji coba didasari oleh kebutuhan tim untuk menghadapi gaya permainan yang keras dan penuh drama. Erick menilai karakter sepak bola di wilayah Timur Tengah sangat cocok untuk menguji mentalitas dan disiplin para pemain Timnas Indonesia, terutama dalam menghadapi tekanan penonton dan provokasi di lapangan.
Bagi industri sepak bola nasional, kebijakan ini memberikan sinyal bahwa PSSI mulai berani keluar dari zona nyaman. Mengandalkan laga kandang memang menguntungkan dari sisi pendapatan tiket dan dukungan massa, namun untuk meningkatkan peringkat FIFA dan kualitas permainan, uji coba tandang melawan tim yang levelnya setara atau di atas Indonesia menjadi krusial.
Langkah ini pun berdampak pada pola konsumsi hiburan olahraga bagi masyarakat Indonesia. Meskipun suporter tidak bisa menyaksikan laga secara langsung di stadion, antusiasme melalui siaran televisi diprediksi tetap tinggi. Hal ini menuntut kesiapan infrastruktur penyiaran agar pengalaman menonton dari rumah tetap optimal meski laga digelar di zona waktu yang berbeda.
"Nanti kita tunggu surat balasan dari calon lawan. Yang pasti kita akan main di Middle East. Mudah-mudahan situasinya kondusif supaya persiapan tim berjalan maksimal melawan karakter sepak bola yang keras," ujar Erick Thohir di SCTV Tower, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Erick menambahkan bahwa adaptasi adalah kunci. Pemain diharapkan tidak hanya mengasah kemampuan taktik, tetapi juga belajar mengelola emosi di bawah tekanan penonton tuan rumah. Pengalaman bermain di luar negeri menjadi bekal berharga sebelum menghadapi laga-laga krusial dalam kualifikasi turnamen besar di masa depan.
Ke depannya, PSSI diprediksi akan lebih sering mengagendakan laga tandang ke luar negeri untuk mematangkan kesiapan tim. Tren ini menunjukkan pergeseran fokus dari sekadar memenuhi kuota pertandingan menjadi upaya nyata dalam meningkatkan kualitas kompetitif skuad Garuda di level internasional.
Dengan kepastian jadwal yang akan ditentukan dalam waktu dekat, para pemain diharapkan segera melakukan persiapan fisik dan mental. Uji coba di Timur Tengah nanti akan menjadi tolok ukur sejauh mana perkembangan permainan timnas di bawah asuhan pelatih dalam menghadapi tekanan atmosfer pertandingan yang sesungguhnya.