Ketua Umum PSSI Erick Thohir akhirnya angkat bicara mengenai nasib suporter tandang di Super League musim 2026/2027. Setelah sebelumnya menjadi tanda tanya besar, larangan penonton away resmi dicabut. Namun, keputusan final kini diserahkan sepenuhnya kepada operator liga, I.League, dan klub-klub peserta.
Pernyataan itu disampaikan Erick Thohir di Jakarta, Jumat (7/8). Ia menegaskan PSSI tidak lagi menjadi pihak yang menentukan mekanisme suporter. "Kan sudah jelas, kita bicara kepada Liga, bahwa itu Liga bersama klub yang bisa menentukan seperti apa mekanisme suporter," ujarnya.
Kebijakan ini bukannya tanpa perhitungan matang. PSSI mendorong adanya keterbukaan, sebagaimana catatan dari FIFA. Namun, dinamika suporter di Indonesia yang kerap memanas menjadi pertimbangan tersendiri. "Dari catatan FIFA, kita sudah mendorong ada keterbukaan. Tetapi tentu, kita bisa lihat dinamika suporter kita sendiri harus benar-benar menjaga keselamatan satu dan lainnya," tutur Erick.
Langkah ini menandai perubahan signifikan. Sebelumnya, larangan suporter away diberlakukan sebagai respons atas tragedi kelam Stadion Kanjuruhan pada 2022 lalu. Insiden yang menewaskan ratusan jiwa itu menjadi noda terbesar sepak bola Indonesia dan memantik evaluasi menyeluruh di berbagai lini.
Erick Thohir tidak ingin sejarah kelam itu terulang. Ia menegaskan keselamatan suporter adalah harga mati. "Kita tidak mau ada kejadian Kanjuruhan terulang lagi. Yang di mana banyak suporter yang harus meninggalkan tentu orang tua dan lain-lainnya. Kita harus pastikan suporter pulang ke rumah dengan selamat," kata Erick dengan nada serius.
Pesan itu sekaligus menjadi peringatan keras bagi I.League dan seluruh klub. PSSI meminta para pemangku kepentingan memahami kondisi suporter masing-masing. Keputusan yang diambil jangan sampai membahayakan nyawa manusia dan berujung pada sanksi berat dari FIFA.
"Nah ini yang saya minta benar-benar, Liga dan klub-klub mengerti kondisi suporter masing-masing klub. Jangan sampai mengambil keputusan yang sangat membahayakan, sehingga mengorbankan nyawa yang kemudian juga. Kemudian bisa dihukum FIFA lagi di kemudian hari," tegasnya.
Persoalan suporter away kini sepenuhnya berada di tangan I.League dan klub. PSSI melepas tanggung jawab itu dengan harapan ada mekanisme yang lebih matang dan terkontrol. "Kita sudah lepas. Silakan mekanisme dari klub dan Liga masing-masing mengatur konsekuensi daripada masing-masing pertandingan di Liga," papar Erick.
Keputusan ini tentu menjadi angin segar bagi atmosfer kompetisi. Kehadiran suporter tandang kerap menghadirkan euforia dan warna tersendiri dalam setiap laga. Tidak sedikit yang menilai sepak bola tanpa suporter lawan terasa hambar, layaknya pertandingan tanpa rivalitas sejati.
Namun, euforia itu harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan manajemen keamanan. Klub tuan rumah wajib memiliki protokol ketat untuk mengakomodasi kedatangan suporter lawan. Kapasitas stadion, sistem ticketing, hingga pengamanan di dalam dan luar stadion harus dipersiapkan dengan baik.
Pengalaman di luar negeri bisa menjadi pelajaran berharga. Di Liga Inggris atau Jepang, suporter tandang mendapat alokasi tiket khusus dan area tribun yang terpisah. Koordinasi antara kepolisian, panitia pelaksana, dan perwakilan suporter menjadi kunci kelancaran.
Tantangan terbesar tetap ada pada perilaku oknum suporter. Risiko bentrok antarpendukung dan aksi anarkis masih membayangi. Karena itu, edukasi kepada suporter menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan oleh klub maupun federasi.
Ke depan, kerja sama semua pihak akan menentukan sukses atau gagalnya kebijakan ini. PSSI, I.League, klub, dan suporter harus bergerak seiring. Mencabut larangan adalah satu langkah maju, tetapi menjaga keselamatan dan kelancaran kompetisi adalah perjalanan panjang yang baru dimulai.