PSM Makassar akhirnya memutus tren negatif mereka di kancah Super League musim ini. Skuad Juku Eja sukses mengamankan tiga poin perdana setelah menaklukkan PSIM Yogyakarta dengan skor tipis 2-1 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (16/10) sore WIB.
Kemenangan ini menjadi suntikan motivasi krusial bagi PSM yang sempat kesulitan menemukan ritme permainan terbaiknya dalam empat pekan sebelumnya. Bagi PSIM, kekalahan di markas sendiri menjadi catatan evaluasi mendalam terkait transisi pertahanan mereka yang sempat terbuka lebar pada babak kedua.
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, PSM tampil lebih agresif. Luka Bulatovic sempat memberikan ancaman nyata melalui sepakan kerasnya pada menit ke-17, meski bola masih melambung tipis di atas mistar gawang Cahya Supriadi. Dominasi PSM terus berlanjut hingga menit ke-42, di mana Aditya hampir saja membuka keunggulan melalui sundulan tajam setelah menerima umpan matang dari Rizky Eka.
Kebuntuan akhirnya pecah saat laga memasuki menit ke-50. Melalui skema serangan balik cepat yang terorganisir, Aditya berhasil memenangkan duel dan melepaskan tendangan mendatar kaki kiri yang gagal diantisipasi oleh penjaga gawang PSIM. Gol ini sekaligus membuktikan efektivitas taktik serangan balik yang diterapkan tim pelatih PSM.
PSM semakin di atas angin ketika Stefan Jevtoski menggandakan keunggulan pada menit ke-66. Berawal dari skema serangan balik yang kembali dimotori Rizky Eka, Jevtoski dengan tenang mengonversi peluang tersebut menjadi gol kedua. Keunggulan 2-0 membuat PSM tampak lebih nyaman dalam menguasai alur permainan di tengah tekanan pendukung tuan rumah.
Drama terjadi pada menit ke-77 saat wasit meninjau insiden di kotak penalti melalui teknologi Video Assistant Referee (VAR). Dusan Lagator dinyatakan melakukan pelanggaran keras setelah menginjak kaki Nermin Haljeta. Akibatnya, wasit memberikan hadiah penalti bagi PSIM sekaligus mengganjar Lagator dengan kartu merah langsung.
Ze Valente yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan dingin, memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Unggul jumlah pemain di sisa waktu pertandingan membuat PSIM membombardir pertahanan PSM. Namun, kedisiplinan barisan belakang PSM yang tersisa berhasil meredam setiap gelombang serangan hingga laga usai.
Kemenangan ini memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi PSM. Di tengah ketatnya persaingan Super League, raihan tiga poin perdana seringkali menjadi titik balik bagi sebuah tim untuk membangun momentum kemenangan beruntun di pekan-pekan berikutnya.
Di sisi lain, PSIM harus segera membenahi koordinasi lini pertahanan mereka saat menghadapi transisi cepat lawan. Penggunaan VAR yang berujung kartu merah menjadi pengingat bagi para pemain bahwa intensitas fisik yang berlebihan dalam sepak bola modern sangat berisiko terhadap kerugian tim.
Kehadiran VAR di liga Indonesia kini semakin memberikan transparansi dalam pengambilan keputusan krusial. Meskipun sempat memicu drama kartu merah, teknologi ini memastikan keadilan di lapangan tetap terjaga, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas kompetisi secara keseluruhan.
Ke depan, konsistensi akan menjadi ujian sesungguhnya bagi PSM. Setelah berhasil pecah telur, tantangan bagi pelatih adalah menjaga stabilitas performa pemain inti dan mengantisipasi absennya Dusan Lagator pada laga berikutnya akibat sanksi kartu merah.
Sementara bagi PSIM, kekalahan ini harus menjadi bahan refleksi agar tidak kehilangan poin di laga kandang. Persaingan di papan tengah Super League yang semakin ketat menuntut setiap klub untuk tampil lebih klinis dalam memanfaatkan setiap peluang di depan gawang.