Sepakbola

PSG Targetkan Treble Juara Liga Champions, Tiru Real Madrid

Ringkasan

  • PSG menargetkan gelar Liga Champions ketiga beruntun untuk menyamai rekor Real Madrid.
  • Ambisi ini ditegaskan Luis Enrique jelang laga Piala Super Eropa melawan Aston Villa di Red Bull Arena, Kamis (13/8) dini hari WIB.

Paris Saint-Germain (PSG) mengusung misi besar saat menghadapi Aston Villa dalam ajang Piala Super Eropa 2026 di Red Bull Arena, Kamis (13/8) dini hari WIB. Bukan sekadar mempertahankan gelar juara, pelatih Luis Enrique secara terbuka menegaskan ambisi timnya untuk menyamai rekor Real Madrid yang pernah menjuarai Liga Champions tiga kali beruntun.

PSG datang ke laga ini dengan status juara bertahan Liga Champions setelah dua musim beruntun mengangkat trofi tertinggi antarklub Eropa. Kemenangan atas Aston Villa akan mengukuhkan PSG sebagai penguasa Piala Super Eropa untuk kedua kalinya secara beruntun, tetapi Enrique menolak menjadikan laga ini sekadar perebutan satu trofi.

"Saya fokus membangkitkan kembali hasrat untuk menang. Sulit untuk terus meraih kemenangan. Saat ini, kami menghadapi tantangan unik, sesuatu yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola Eropa, yaitu menyamai rekor Real Madrid jika kami berhasil memenangkan Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun," ujar Enrique dalam konferensi pers yang dikutip dari laman resmi UEFA.

Real Madrid menjadi satu-satunya klub yang mampu memenangkan Liga Champions tiga musim beruntun pada era kompetisi modern. Pencapaian itu diukir Los Blancos pada 2015/2016 hingga 2017/2018 di bawah arahan Zinedine Zidane. Madrid mengalahkan Atletico Madrid di final 2016, Juventus di final 2017, dan Liverpool di final 2018.

Enrique menyadari betapa beratnya tantangan tersebut. Ia bahkan menyebut pencapaian Madrid sebagai sesuatu yang berada di level berbeda. Namun, pelatih asal Spanyol itu justru merasa tertantang dan percaya tidak ada tim di Eropa yang memiliki motivasi lebih besar daripada PSG saat ini.

"Wow! Itu adalah pencapaian di level yang berbeda. Tidak ada yang pernah memenangkannya tiga kali berturut-turut dalam sejarah, kecuali Real Madrid. Kami bisa menyamai mereka. Namun, menurut saya, tidak ada tim di Eropa yang lebih termotivasi daripada kami," tambah Enrique.

Perjalanan PSG menuju dua gelar beruntun tidak selalu mulus. Pada awal musim Liga Champions 2025/2026, penampilan PSG jauh dari kata meyakinkan. Mereka sempat diragukan mampu mempertahankan gelar juara, tetapi perlahan bangkit dan akhirnya kembali tampil di final serta keluar sebagai pemenang.

Konsistensi inilah yang kini membuat PSG tidak lagi dipandang sebelah mata. Enrique menegaskan bahwa status favorit yang melekat pada PSG saat ini merupakan hasil kerja keras yang harus dipertahankan dengan pembuktian di lapangan.

"Tidak ada lagi yang meremehkan Paris Saint-Germain. Dua tahun lalu, mustahil untuk menempatkan kami sebagai salah satu tim favorit, bukan mustahil, tapi kami memang bukan salah satu unggulan. Kini, tidak ada yang akan mengatakan bahwa Paris Saint-Germain bukan tim favorit. Itu adalah status yang telah kami raih, namun jika ingin mempertahankan posisi tersebut, kami harus bekerja lebih keras lagi," tutur Enrique.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, ambisi PSG ini menjadi tontonan menarik karena menambah warna persaingan di papan atas Eropa. Dominasi Real Madrid dan Manchester City selama satu dekade terakhir kini mendapat penantang serius dari klub asal Prancis yang sebelumnya kerap dianggap gagal di pentas Liga Champions.

Keberhasilan PSG mempertahankan gelar dua musim beruntun juga menjadi sinyal bahwa era baru sepak bola Eropa sedang terbentuk. Klub-klub dengan kekuatan finansial besar seperti PSG kini mampu membangun kedalaman skuad yang konsisten, sesuatu yang sebelumnya menjadi kunci sukses Madrid.

Laga melawan Aston Villa sendiri akan menjadi ujian pertama PSG pada musim ini. Aston Villa, yang lolos setelah memenangkan Liga Europa, bukan lawan mudah. Tim asuhan Unai Emery itu telah menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa musim terakhir dan tentu mengincar kejutan di panggung Eropa.

Enrique enggan meremehkan Aston Villa meski PSG datang dengan status juara bertahan Liga Champions. Ia menegaskan bahwa setiap laga final memiliki tekanan tersendiri dan PSG harus tampil dengan mentalitas yang tepat sejak menit pertama.

Jika mampu mengalahkan Aston Villa, PSG akan mengamankan trofi Piala Super Eropa kedua beruntun sekaligus membangun momentum menuju musim 2026/2027. Namun, target utama tetap tertuju pada Liga Champions, di mana PSG berusaha mengukir sejarah baru dengan tiga gelar beruntun.

Tantangan PSG tidak hanya datang dari lawan-lawan di Eropa, tetapi juga dari ekspektasi publik yang semakin tinggi. Setelah dua musim sukses, kegagalan mempertahankan gelar akan dianggap sebagai kemunduran. Tekanan ini yang kini harus dikelola Enrique bersama para pemainnya.

Sementara itu, Real Madrid yang menjadi patokan kesuksesan PSG justru sedang dalam masa transisi. Jika PSG berhasil menyamai rekor Madrid, maka status mereka sebagai salah satu klub terbaik Eropa akan semakin tidak terbantahkan. Pertanyaannya, sanggupkah PSG menjaga konsistensi di tengah persaingan yang semakin ketat?

Mengapa Ini Penting

Ambisi PSG menyamai rekor Real Madrid menandai pergeseran peta kekuatan sepak bola Eropa yang selama satu dekade didominasi klub-klub Spanyol dan Inggris. Bagi penggemar Indonesia, ini menjadi narasi baru yang menarik di tengah euforia sepak bola nasional yang tengah berkembang, terutama dengan semakin banyaknya pemain Asia Tenggara yang merumput di kompetisi Eropa. Keberhasilan PSG juga membuktikan bahwa klub dengan investasi besar bisa membangun budaya menang berkelanjutan, pelajaran yang relevan bagi klub-klub Indonesia yang mulai serius mengembangkan tim. Jika PSG berhasil, status mereka sebagai salah satu raksasa baru Eropa akan memengaruhi cara klub-klub lain, termasuk di Asia, membangun strategi jangka panjang.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
12 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit