Olahraga

Protokol VAR Baru Bikin Polemik di Piala Dunia 2026, Argentina Jadi Sasaran

Ringkasan

  • Penerapan aturan 'mistaken identity' baru IFAB di Piala Dunia 2026 memicu kontroversi beruntun yang menguntungkan Argentina, hingga mantan wasit FIFA menilai VAR berperan seperti wasit kedua.

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung teknologi wasit paling canggih, justru melahirkan gelombang protes tak terduga. Sejak fase gugur, keputusan-keputusan VAR yang menguntungkan Argentina memunculkan istilah 'VARgentina' di media sosial — sindiran tajam yang mencerminkan kepercayaan publik yang retak terhadap integritas kompetisi.

Mantan wasit FIFA Christina Unkel, yang kini menjabat analis regulasi untuk stasiun televisi Inggris ITV, menilai protokol 'mistaken identity' yang diberlakukan IFAB musim 2026/2027 memiliki cakupan terlalu luas. Menurutnya, aturan ini tidak hanya mengoreksi identitas pemain yang salah dikartu, tapi justru membalik keputusan fundamental wasit lapangan — dari pelanggaran ke arah tim A, dialihkan ke tim B.

"Di sinilah VAR resmi menjadi 'wasit kedua' yang menganulir keputusan di lapangan," tegas Unkel dalam wawancara dengan Reuters, Selasa (14/7). "Ini persis apa yang selama ini mati-matian dihindari filosofi dasar VAR." Kritiknya menimpa titik rawan: intervensi teknologi yang seharusnya 'minimum interference, maximum benefit' justru mengubah narasi laga secara drastis.

Puncak kontroversi terjadi di perempat final ketika Argentina mengeliminasi Swiss. Striker Breel Embolo dikartu kuning kedua — yang berarti merah — setelah VAR menilai ia melakukan diving. Pelatih Swiss Murat Yakin mengutuk keputusan itu sebagai aturan yang 'tidak bisa diterima'. Insiden ini jadi pemicu ledakan amarah suporter netral yang sudah mengumpul sejak babak sebelumnya.

Bacak ke babak 16 besar: Mesir sempat unggul 2-1 hingga menit ke-62, tapi gol penyama dianulir VAR karena pelanggaran di fase membangun serangan. Protes penalti Mesir di menit-menit akhir diabaikan, dan Argentina menebus kemenangan 3-2 lewat gol di menit ke-92. Sebulan sebelumnya, Aljazair menuntut Messi dikartu merah usai menginjak betis Aissa Mandi — wasit tidak bertindak, dan Messi mencetak hat-trick.

Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina pada 8 Juli lalu membantah keras adanya keberpihakan. Namun penjelasan teknis dari Collina justru tertutup oleh realita visual: tiga laga beruntun, tiga keputusan besar, semua mengarah ke keuntungan bagi juara bertahan. Unkel sendiri mengakui tidak ada 'kesalahan fatal' teknis dari wasit dalam laga lawan Aljazair dan Mesir, tapi menegaskan persepsi publik tak bisa dipisahkan dari pola yang terbentuk.

Di Indonesia, di mana Liga 1 baru menerapkan VAR penuh musim 2024/2025, kasus ini jadi studi kasus kritis. PSSI dan PT LIB harus memastikan protokol 'mistaken identity' dan aturan IFAB terbaru disosialisasikan utuh ke wasit dan klub lokal sebelum musim depan. Kelalaian dalam adaptasi aturan baru berpotensi menciptakan kekacauan serupa di kancah domestik — di mana tekanan suporter dan media jauh lebih intens.

Lebih jauh, FIFA perlu mengevaluasi kesiapan mental wasit menghadapi era 'VAR sebagai wasit kedua'. Pelatihan teknis semata tak cukup; dibutuhkan simulasi tekanan real-time dan kerangka akuntabilitas transparan. Tanpa itu, setiap keputusan kontroversial akan terus dibaca sebagai konspirasi — merusak esensi olahraga: keadilan di lapangan.

Untuk Argentina, trofi keempat mereka — jika tercapai — akan selalu dibayangi tanda tanya. Bukan soal kualitas Messi atau tim, tapi soal apakah sistem yang dirancang untuk menegakkan keadilan justru jadi alat yang memihak. Sejarah akan mencatat: Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen sepak bola, tapi uji coba gagal bagi tata kelola teknologi wasit global.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini jadi momentum krusial bagi sepak bola Indonesia: Liga 1 harus belajar dari kegagalan implementasi aturan baru di panggung dunia sebelum menerapkannya domestik. Jika PSSI tidak menyiapkan wasit dan infrastruktur VAR dengan matang — termasuk protokol 'mistaken identity' yang ambigu — musim depan berpotensi menghadapi krisis kepercayaan serupa. Lebih jauh, ini memaksa FIFA merevisi filosofi VAR: apakah teknologi harus mengoreksi kesalahan faktual semata, atau berhak menginterpretasi ulang keputusan wasit lapangan? Jawabannya akan menentukan masa depan keadilan di sepak bola global.

Sumber Asli
Internasional
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit