Olahraga

Presiden La Liga Tolak Rencana FIFA Perpanjang Piala Dunia 2030

Ringkasan

  • Javier Tebas, presiden La Liga, menolak rencana FIFA menambah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, menyebut perluasan itu akan merusak industri sepak bola dan menyerukan Presiden FIFA Gianni Infantino mundur.

Javier Tebas, presiden Liga Spanyol (La Liga), dengan tegas menolak wacana FIFA untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim. Penolakan ini disampaikan setelah organisasi sepak bola dunia tersebut mengisyaratkan rencana perluasan yang dianggap Tebas akan merusak tatanan industri sepak bola secara berkelanjutan. Piala Dunia 2030 sendiri direncanakan berlangsung di tiga negara Eropa dan Afrika, yaitu Spanyol, Portugal, dan Maroko, ditambah tiga tuan rumah bersejarah dari Amerika Selatan: Uruguay, Argentina, dan Paraguay.

Tebas mengutarakan kekhawatirannya bahwa perluasan jumlah tim nasional tidak masuk akal dan akan berdampak buruk bagi industri sepak bola. Menurutnya, Piala Dunia bukanlah satu-satunya pilar utama; kompetisi liga domestik justru menjadi tulang punggung olahraga ini. Perluasan jumlah peserta dari 48 menjadi 64 tim, seperti yang diusulkan untuk edisi 2030, dinilai akan menggeser fokus dari persaingan di tingkat nasional yang selama ini menjadi dasar perkembangan pemain dan penggemar.

Sejarah FIFA dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan untuk mengubah format Piala Dunia. Setelah edisi 2022 di Qatar masih diikuti 32 tim, FIFA memutuskan untuk memperluas jumlah peserta menjadi 48 tim untuk Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Perubahan ini tidak hanya soal jumlah tim, tetapi juga soal penyesuaian format pertandingan dan pengenalan jeda hidrasi di tengah laga, yang menurut Tebas lebih mengutamakan kepentingan komersial daripada kesejahteraan atlet.

Presiden La Liga ini bahkan melangkah lebih jauh dengan menyerukan agar Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengundurkan diri. Menurut Tebas, keputusan-keputusan yang diambil Infantino dinilai tidak bertanggung jawab dan mengabaikan kepentingan sepak bola di tingkat nasional. "Kita membutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan bagi sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka tidak menyadarinya; mereka mengambil keputusan secara tidak bertanggung jawab," kata Tebas dalam sebuah pernyataan yang dikutip ESPN.

Pernyataan Tebas mencerminkan perdebatan yang lebih luas di kalangan pecinta sepak bola dan pelaku industri. Di Indonesia, misalnya, PSSI dan Liga 1 BRI selalu berupaya menjaga keseimbangan antara persaingan di tingkat klub domestik dan aspirasi untuk tampil di ajang internasional. Perluasan Piala Dunia yang drastis dikhawatirkan akan mengurangi kesempatan bagi liga-liga domestik untuk menarik sponsor dan penonton, karena fokus dunia akan sepenuhnya tertuju pada turnamen tersebut.

"Bagi kami di Indonesia, menjaga kualitas Liga 1 adalah kunci untuk memproduksi pemain berkualitas yang bisa bersaing di level Asia, apalagi dunia. Jika Piala Dunia terus diperluas, kompetisi domestik akan semakin terpinggirkan," ujar seorang pengamat sepak bola Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran Tebas tidak hanya relevan di Eropa, tetapi juga di pasar sepak bola emerging.

Teguran keras dari Tebas juga menyoroti dinamika internal FIFA yang sering kali dianggap elitis. Dia menilai bahwa sistem saat ini dipenuhi dengan kandidat-kandidat yang tidak bersedia menantang status quo karena takut kalah. "Dia (Infantino) sudah habis masa jabatannya. Tetapi dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi, tidak banyak lagi yang perlu ditambahkan," tegas Tebas.

Ke depan, reaksi dari anggota FIFA dan asosiasi sepak bola nasional akan menjadi penentu apakah rencana perluasan ini akan terealisasi. Bagi La Liga dan liga-liga top lainnya, kemungkinan besar mereka akan terus bersuara untuk melindungi ekosistem sepak bola yang sudah ada. Sementara itu, bagi penggemar di Indonesia dan negara-negara lain, perkembangan ini akan terus dipantau karena dampaknya bisa terasa pada persaingan di liga domestik, alokasi anggaran, dan bahkan peluang bagi pemain muda untuk unjuk gigi di panggung global.

Mengapa Ini Penting

Penolakan Tebas terhadap perluasan Piala Dunia menjadi 64 tim mencerminkan kekhawatiran mendalam dari pelaku industri sepak bola global, termasuk di Indonesia, bahwa fokus berlebihan pada turnamen terbesar akan menggeser perhatian dan sumber daya dari liga domestik yang menjadi fondasi pengembangan pemain. Di tengah upaya PSSI dan Liga 1 BRI untuk meningkatkan kualitas kompetisi lokal, keputusan FIFA yang dianggap sembarangan dapat menghambat kemajuan sepak bola di pasar-pasar emerging. Berita ini penting karena bisa memicu perdebatan internal di tubuh FIFA dan berdampak pada masa depan format turnamen yang mempengaruhi keseimbangan ekosistem sepak bola dunia.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
22 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit