Javier Tebas, Presiden La Liga, dengan tegas menolak rencana FIFA untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 dari 32 menjadi 64 tim. Dalam pernyataannya, Tebas menyebut perluasan tersebut akan memicu kehancuran berkelanjutan bagi industri sepak bola. Penolakan ini muncul di tengah rumor bahwa Piala Dunia 2030 akan diselenggarakan oleh Spanyol, Portugal, dan Maroko, ditambah tiga tuan rumah khusus yaitu Uruguay, Argentina, dan Paraguay.
Langkah FIFA untuk memperbesar format Piala Dunia bukan kali pertama. Pada edisi 2026, jumlah peserta sudah ditingkatkan dari 32 menjadi 48 negara. Perubahan aturan tersebut sebelumnya juga diiringi dengan kontroversi, seperti penerapan hydration break yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan komersial daripada kesejahteraan pemain. Tebas menilai pola ini menunjukkan ketidakbertanggungjawaban dari otoritas sepak bola dunia.
Menurut Tebas, fokus utama industri sepak bola tidak seharusnya hanya tertuju pada Piala Dunia. Kompetisi liga domestik, seperti yang dijalankan di Spanyol, justru menjadi tulang punggung perkembangan olahraga ini. "Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia, yang merupakan acara terpenting. Tetapi tidak semuanya dapat berputar di sekitar Piala Dunia. Kompetisi nasional-lah yang mendukung olahraga ini," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa perluasan masif akan menggeser perhatian dan sumber daya dari liga-liga top, termasuk Liga 1 Indonesia yang tengah berusaha memperkuat basis penggemarnya.
Dari sudut pandang Indonesia, perluasan Piala Dunia dapat berdampak pada jadwal kompetisi domestik. Liga 1 yang sudah bersaing memperebutkan perhatian penonton harus berbagi ruang dengan turnamen empat tahunan yang lebih besar. Jika 64 negara berpartisipasi, siklus kualifikasi bisa semakin padat, berpotensi menguras energi pemain dan mengurangi intensitas liga lokal. Hal ini juga bisa memengaruhi hak siar, karena broadcaster mungkin lebih memilih fokus pada Piala Dunia daripada liga domestik.
Tebas bahkan melangkah lebih jauh dengan menyerukan agar Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengundurkan diri. Menurutnya, keputusan-keputusan yang diambil Infantino tidak bertanggung jawab dan sistem FIFA saat ini sakit dari akarnya. "Kita membutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka [FIFA] tidak menyadarinya; Mereka mengambil keputusan secara tidak bertanggung jawab," tegasnya. Ia juga mengkritik ketiadaan oposisi dalam pemilihan pejabat FIFA, yang menurutnya membuat sistem tersebut tidak sehat.
Pernyataan Tebas ini mendapat respons beragam di kalangan pengamat sepak bola. Beberapa pihak setuju bahwa perluasan berlebihan dapat merusak keseimbangan kompetisi, sementara yang lain berpendapat bahwa hal ini bisa membuka peluang bagi negara-negara yang selama ini terpinggirkan. Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi pertimbangan untuk memperkuat struktur liga domestik agar tidak terlalu bergantung pada turnamen besar.
Ke depan, kemungkinan besar perdebatan tentang format Piala Dunia 2030 akan terus berlangsung. Jika FIFA tetap melanjutkan rencana perluasan, dampaknya bisa dirasakan di berbagai liga, termasuk Liga 1 Indonesia, baik dari segi jadwal, sumber daya, maupun minat penonton. Sebaliknya, jika tekanan dari para presiden liga seperti Tebas berhasil membuat FIFA berbalik arah, hal ini bisa menjadi momentum bagi kompetisi domestik untuk berkembang tanpa gangguan berlebihan dari turnamen empat tahunan.