Sepakbola

Presiden FA Ceko Dukung Jual Saham Piala Dunia, UEFA Tetap Menolak

Ringkasan

  • Presiden Federasi Sepakbola Republik Ceko, David Trunda, mendukung rencana FIFA menjual saham Piala Dunia melalui entitas baru FIFA Forward Enterprise, berbeda dengan UEFA yang menolak keras komersialisasi turnamen tertinggi dunia.

David Trunda, yang baru menjabat presiden Federasi Sepakbola Republik Ceko (FAČR) sejak lebih dari setahun lalu, menilai rencana Gianni Infantino sebagai langkah yang membawa dampak positif bagi perkembangan sepakbola di negara-negara anggota. Pernyataan ini muncul di tengah protes keras dari UEFA yang menilai Piala Dunia tidak boleh diperjualbelikan.

Rencana FIFA dirancang melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan baru yang akan mengelola komersialisasi hak-hak Piala Dunia. Investor swasta diizinkan berpartisipasi, dengan perusahaan asal Amerika Serikat, Thrive Eternal, memimpin konsorsium investor. Infantino berjanji seluruh keuntungan akan dialokasikan kembali ke program pengembangan sepakbola di 211 negara anggota FIFA.

Kontroversi ini memicu pecahnya suara di benua Eropa. Sebagai badan pengelola sepakbola Eropa, UEFA menentang keras wacana ini dengan alasan Piala Dunia memiliki nilai sejarah dan sportivitas yang tidak bisa dinilai uang. Aleksander Čeferin, presiden UEFA, sebelumnya menegaskan turnamen ini milik seluruh umat sepakbola dunia, bukan aset komersial yang bisa dijual kepada pihak ketiga.

Di sisi lain, Trunda justru melihat sisi praktis dari kebijakan ini. Menurutnya, setiap proyek kerja sama dengan FIFA selama masa jabatannya menunjukkan hasil nyata bagi sepakbola Eropa, termasuk di Republik Ceko. Ia mengakui butuh detail teknis lebih lanjut, namun sudut pandang pribadinya cenderung mendukung karena melihat manfaat jangka panjang bagi federasi-negara kecil dan menengah.

Angka yang dijabarkan Infantino cukup menggiurkan. Program FIFA Forward, yang sebelumnya mengalokasikan 8 juta USD per negara anggota per siklus empat tahun, dijadikan 20 juta USD. Kenaikan 150 persen ini diperuntukkan untuk infrastruktur, kompetisi domestik, pengembangan pemain muda, dan kapasitas manajemen federasi. Bagi negara seperti Ceko yang memiliki struktur sepakbola stabil namun butuh modernisasi fasilitas, dana tambahan ini signifikan.

Kritikus menilai langkah ini membuka pintu pengaruh investor swasta ke tata kelola sepakbola global. Thrive Eternal sebagai pemimpin konsorsium investor akan memiliki akses ke keputusan komersial Piala Dunia, meski FIFA berjanji tetap memegang kendali operasional. Para pengamat khawatir hal ini menciptakan presedenten berbahaya di mana turnamen besar bisa dikendalikan kepentingan keuangan bukan semangat olahraga.

Dampak bagi sepakbola Indonesia pun tidak bisa diabaikan. Sebagai anggota FIFA, PSSI berpotensi menerima peningkatan dana Forward dari 8 juta menjadi 20 juta USD per siklus. Dana ini bisa dialokasikan untuk revitalisasi stadion, penguatan liga akademi, hingga program pelatnas muda. Namun, PSSI harus memastikan tata kelola dana transparan agar tidak terjebak isu korupsi yang pernah melanda sepakbola nasional.

Di konteks Asia, AFC belum mengeluarkan sikap resmi. Namun, federasi-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia yang memiliki liga profesional matang cenderung hati-hati. Mereka khawatir komersialisasi berlebihan menggeser prioritas pengembangan basis rumput (grassroots) demi keuntungan jangka pendek investor.

Trunda menekankan butuh transparasi penuh mengenai struktur manajemen FFE. "Kami mendukung selama ada jaminan dana benar-benar turun ke tingkat akar rumput," ujarnya. Ia juga meminta FIFA menetapkan mekanisme pengawasan independen agar investor swasta tidak mengintervensi keputusan sportif seperti jadwal pertandingan, pemilihan tuan rumah, atau aturan main.

Langkah selanjutnya akan diputuskan di Kongres FIFA mendatang. Jika disetujui, FFE mulai beroperasi sebelum Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Infantino butuh mayoritas suara dari 211 federasi. Dukungan Ceko menandakan pecahnya blok Eropa, meski Jerman, Spanyol, dan Inggris melalui UEFA tetap menentang.

Bagi penggemar sepakbola Indonesia, isu ini bukan soal bisnis abstrak. Kenaikan dana FIFA Forward berarti peluang lebih banyak anak Indonesia bermain di lapangan bermutu, pelatih mendapat sertifikasi internasional, dan liga junior berkembang. Tapi semua itu bergantung pada bagaimana PSSI mengelola dana tersebut — apakah jadi investasi jangka panjang atau sekadar mengisi kekosongan anggaran tahunan.

Perdebatan ini mencerminkan tekanan fundamental sepakbola modern: antara mempertahankan murnitas sportivitas dengan kebutuhan dana masif untuk pengembangan global. Keputusan FIFA akan menentukan arah sepakbola dunia untuk dekade ke depan, dan Indonesia sebagai negara berpenduduk besar harus berposisi aktif, bukan hanya penunggu keputusan Zurich.

Mengapa Ini Penting

Kenaikan dana FIFA Forward dari 8 juta menjadi 20 juta USD per negara langsung berdampak pada anggaran PSSI untuk pengembangan sepakbola grassroots, infrastruktur, dan pelatnas muda. Dukungan Ceko memecah solidaritas Eropa dan memperbesar peluang proposal Infantino lolos di Kongres FIFA. Jika terealisasi, Indonesia harus siapkan tata kelola dana yang transparan agar dana benar-benar sampai ke tingkat akar rumput, tidak hanya membayar biaya operasional federasi. Isu ini juga menguji posisi PSSI di antara tekanan UEFA dan insentif finansial FIFA.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit