Kekalahan Prancis dari Spanyol pada babak semifinal Piala Dunia 2026 menghentikan ambisi tim Les Bleus meraih gelar juara dunia ketiga. Hasil tersebut sekaligus membuka kembali perdebatan di dalam negeri soal masa depan Didier Deschamps sebagai pelatih kepala.
Deschamps menangani timnas Prancis sejak 2012. Selama kurun waktu lebih dari satu dekade, ia membawa negara tersebut menjuarai Piala Dunia 2018 dan UEFA Nations League 2021, serta masuk final Euro 2016 dan Piala Dunia 2022. Namun, performa pragmatis yang ia terapkan mulai menuai kritik tajam ketika skuadnya gagal mengembangkan permainan menyerang yang atraktif.
Di Piala Dunia 2026, Prancis sebenarnya memiliki materi pemain elite. Nama seperti Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, dan Eduardo Camavinga menghuni daftar skuad. Sayangnya, pendekatan bermain yang lebih mengandalkan serangan balik ketimbang penguasaan bola membuat penampilan mereka kerap disebut membosankan oleh pengamat.
Ketika berhadapan dengan Spanyol yang tampil dinamis, kelemahan taktik Deschamps terlihat jelas. Timnya kehilangan arah saat tertinggal dan tidak memiliki opsi cadangan yang matang. Kekalahan itu mempertegas batas dari era keemasan yang dibangun pelatih berusia 57 tahun tersebut.
Deschamps sendiri menolak membahas statusnya usai pertandingan. "Saya tahu apa tanggung jawab saya. Kami baru saja kalah di semifinal. Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan apakah saya akan bertahan atau pergi," ujarnya dalam konferensi pers.
Nama Zinedine Zidane langsung mencuat sebagai kandidat pengganti. Legenda hidup sepak bola Prancis itu sukses menyumbang tiga trofi Liga Champions beruntun untuk Real Madrid. Ia menjadi figur yang paling diharapkan publik untuk mengambil alih kendali tim nasional.
Kabarnya, Zidane menolak tawaran dari klub besar seperti Paris Saint-Germain, Juventus, hingga beberapa tim nasional lain. Penolakan itu dilakukan demi menunggu kursi pelatih Prancis kosong. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) sebelumnya memperpanjang kontrak Deschamps hingga pasca-Piala Dunia 2026, membuat Zidane harus bersabar.
Kini, dengan berakhirnya turnamen di Amerika Utara tersebut, tekanan terhadap FFF meningkat. Pendukung mulai menagih transisi kepelatihan agar generasi emas Mbappe tidak terbuang sia-sia. Di sisi lain, Zidane yang sudah berusia 54 tahun tidak mungkin terus menunggu dalam ketidakpastian.
Bagi penggemar di Indonesia, isu ini menarik karena mencerminkan dinamika klub besar yang kerap terjadi di Liga 1. Banyak pelatih berprestasi dipertahankan terlalu lama hingga taktiknya kebaca lawan. Persib atau Persija misalnya, kerap menghadapi dilema serupa ketika pelatih asing berhenti memberi progres namun masih punya kontrak.
Stagnasi bukan cuma soal hasil, tapi juga hiburan. Penonton lokal yang mengonsumsi siaran Piala Dunia via streaming juga menuntut pertandingan atraktif. Jika tim sekelas Prancis saja dinilai membosankan, maka standar taktik di level Asia Tenggara wajib dievaluasi.
Keputusan akhir berada di tangan FFF. Mempertahankan Deschamps adalah pilihan aman dari sisi prestasi historis. Namun, batas antara stabilitas dan stagnasi sudah sangat tipis.
Jika Prancis berani mengambil langkah besar, era baru bersama Zidane bisa dimulai. Sebaliknya, kegagalan di semifinal 2026 akan terus menyisakan tanda tanya tentang seberapa jauh kehebatan Les Bleus jika dipimpin kejeniusan taktis sang maestro lapangan hijau.