Olahraga

Prabowo Targetkan Indonesia Lolos Piala Dunia 2030, Pemerintah Siap Dukung Penuh

Ringkasan

  • Presiden Prabowo Subianto menilai Indonesia layak lolos ke Piala Dunia 2030.
  • Dukungan penuh pemerintah disiapkan untuk PSSI dan Timnas Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia layak tampil di Piala Dunia 2030. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang dibacakan Ketua Umum PSSI Erick Thohir pada pembukaan Kongres Biasa PSSI 2026 di Jakarta, karena Prabowo berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa bangsa besar harus berani bermimpi besar. Ia memandang sepak bola Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di level tertinggi, meskipun jalan menuju Piala Dunia tidak akan mudah.

"Indonesia adalah bangsa yang besar dan harus punya cita-cita besar serta punya keinginan mewujudkannya. Saya memandang Indonesia layak tampil di Piala Dunia 2030," bunyi pidato yang dibacakan Erick tersebut.

Target ini bukan sekadar retorika. Prabowo berjanji pemerintah akan mendukung PSSI dan tim nasional secara maksimal. "Bukan hal yang mudah, tetapi kita harus berupaya semaksimal mungkin. Pemerintah akan mendukung PSSI dan Timnas Indonesia. Kita harus bisa berprestasi dengan disiplin, kerja keras, dan persatuan," lanjutnya.

Kongres Biasa PSSI menjadi panggung yang tepat bagi Presiden untuk menyampaikan visi besar tersebut. Seluruh pemangku kepentingan sepak bola, mulai dari pengurus federasi hingga perwakilan klub, mendengar langsung arahan kepala negara.

Indonesia memang belum pernah merasakan tampil di putaran final Piala Dunia sejak pertama kali ikut kualifikasi pada 1938. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebangkitan timnas ditandai dengan lolos ke Piala Asia 2023 dan meningkatnya peringkat FIFA setelah PSSI menaturalisasi sejumlah pemain diaspora.

Dukungan politik dari level tertinggi menjadi sinyal bahwa sepak bola kini masuk prioritas pembangunan bangsa. Ini bukan hal yang biasa terjadi. Sebelumnya, perhatian pemerintah terhadap timnas cenderung muncul saat momentum besar, tetapi tidak diikuti kebijakan berkelanjutan.

Kini, dengan target Piala Dunia 2030, pemerintah memberi jaminan dukungan. Artinya, pembiayaan persiapan timnas, pembenahan kompetisi, hingga pengembangan usia muda berpeluang mendapat angin segar.

Dari sisi regulasi, putaran final Piala Dunia 2030 akan diikuti 48 tim, delapan lebih banyak dibanding edisi 2022. Jatah Asia pun bertambah menjadi 8,5 tiket. Peluang Indonesia terbuka lebih lebar, tetapi persaingan tetap ketat karena harus bersaing dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, Arab Saudi, Iran, hingga Uzbekistan.

Prabowo menekankan bahwa sepak bola lebih dari sekadar pertandingan 90 menit. "Tidak ada kemenangan tanpa disiplin, tidak ada prestasi tanpa pengorbanan, tidak ada kejayaan tanpa kerja sama. Nilai itulah fondasi kemajuan sebuah bangsa," ujarnya.

Baginya, membangun sepak bola berarti membangun karakter bangsa. Sepak bola juga mengajarkan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi. "Semangat inilah yang harus dirawat bangsa Indonesia," kata Prabowo dalam pidato tersebut.

Ia juga menyoroti kekuatan sepak bola dalam menyatukan masyarakat. Bendera Merah Putih dan lagu Indonesia Raya mampu merekatkan suporter dari berbagai daerah. "Yang ada hanyalah satu identitas Indonesia. Pemain menyanyikan Indonesia Raya dan membawa nama Garuda semakin tinggi. Di situlah sepak bola adalah kekuatan yang menyatukan bangsa dan tanah air," tuturnya.

Target lolos Piala Dunia 2030 memang ambisius. Namun dengan dukungan pemerintah, PSSI harus segera menerjemahkan visi itu menjadi program konkret. Kualifikasi Piala Dunia 2030 baru akan dimulai pada 2028, tetapi persiapan harus dimulai sekarang.

Pembenahan Liga 1, kompetisi usia muda, hingga pengembangan pelatih lokal menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda. Euforia naturalisasi pemain diaspora juga perlu diimbangi dengan pembinaan jangka panjang agar regenerasi timnas berjalan alami.

Di sisi lain, masyarakat menantikan konsistensi. Pernyataan presiden kali ini memberi harapan besar, tetapi publik akan menilai dari hasil di lapangan. Dukungan politik harus disertai kebijakan yang memihak perkembangan sepak bola nasional.

Sepak bola Indonesia sudah lama menunggu momen ini. Dengan keberanian bermimpi dan kerja nyata, bukan tidak mungkin Garuda terbang ke panggung terbesar sepak bola dunia pada 2030.

Mengapa Ini Penting

Dukungan langsung dari Presiden terhadap target lolos Piala Dunia 2030 mengubah posisi sepak bola dari sekadar olahraga menjadi agenda politik nasional. Ini membuka peluang peningkatan anggaran, percepatan infrastruktur, dan perhatian serius pemerintah terhadap pembinaan usia muda. Namun tanpa perencanaan matang dan evaluasi berkala, target ini berisiko menjadi slogan semata. Publik perlu memastikan komitmen tersebut diikuti kebijakan nyata, bukan hanya seremoni di atas kertas.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
3 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit