Pengurus Pusat Persatuan Tenis Indonesia (PP Pelti) tengah tancap gas membangun ekosistem tenis nasional yang komprehensif. Langkah strategis ini diambil sebagai fondasi utama untuk mentransformasi cabang olahraga tenis di Indonesia menjadi sebuah industri yang bernilai ekonomi tinggi, tidak sekadar mengandalkan prestasi di atas lapangan.
Sekretaris Jenderal PP Pelti, Andi Fajar Asti, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang merampungkan rencana pembangunan pusat sport science university yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi pusat riset dan pengembangan atlet, mulai dari aspek fisik, teknis, hingga psikologis, guna memastikan pembinaan petenis nasional berjalan secara sistematis dan terukur.
Transformasi menuju industri memang menjadi ambisi besar Pelti. Selama ini, pengembangan tenis di tanah air dinilai masih berjalan parsial. Dengan adanya ekosistem yang terintegrasi, Pelti ingin memastikan bahwa setiap petenis mendapatkan jalur pembinaan yang jelas, mulai dari jenjang akar rumput hingga profesional.
Keseriusan Pelti membangun ekosistem ini didasari oleh pemahaman bahwa prestasi atlet tidak bisa dipisahkan dari infrastruktur pendukung. Tanpa fasilitas yang memadai dan dukungan ilmu keolahragaan, sulit bagi petenis Indonesia untuk bersaing di level internasional secara konsisten.
Salah satu tantangan utama yang ingin dijawab melalui inisiatif ini adalah minimnya jam terbang petenis Indonesia di level internasional. Andi menyoroti bahwa untuk sektor putra, idealnya seorang pemain harus mengikuti setidaknya 10 turnamen level M15 dalam satu tahun kalender untuk meningkatkan peringkat serta jam terbang.
Masalah ketersediaan lapangan berstandar internasional juga menjadi perhatian serius. Pelti menyadari bahwa untuk menggelar turnamen kelas dunia yang mampu menarik sponsor dan penonton, dibutuhkan infrastruktur yang memenuhi persyaratan teknis global. Kekurangan fasilitas ini menjadi hambatan klasik yang kini mulai coba diurai melalui perencanaan ekosistem baru.
Selain itu, model bisnis dalam industri tenis akan diperkuat melalui kolaborasi. Pelti membuka pintu lebar bagi pihak swasta maupun akademi internasional untuk terlibat. Kerjasama ini diharapkan dapat menciptakan pusat pelatihan kelas dunia di Indonesia yang mampu menarik talenta muda lokal.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa pendekatan berbasis industri ini adalah langkah yang tepat untuk menciptakan keberlanjutan. Dalam dunia olahraga profesional, ketergantungan pada anggaran pemerintah atau hibah semata tidak akan mampu mencetak atlet kelas dunia secara berkelanjutan. Tenis harus mampu menghidupi dirinya sendiri melalui daya tarik komersial.
"Kita sedang dalam proses pembangunan ekosistem ini secara menyeluruh. Lokasi pusat sport science memang masih kami rahasiakan, namun langkah menuju industrialisasi tenis adalah harga mati yang harus kita wujudkan," tegas Andi di Stadion Tenis Gelora Bung Karno, Jakarta.
Transformasi ini bukan sekadar tentang membangun gedung, melainkan mengubah mindset dalam mengelola olahraga. Pelti ingin memastikan bahwa setiap turnamen yang digelar memiliki nilai jual yang tinggi, yang pada akhirnya akan menarik minat sponsor dan media untuk terus berinvestasi di dunia tenis.
Langkah ke depan, Pelti menargetkan petenis muda Indonesia untuk mampu menembus peringkat 1.000 besar ATP. Target ini bukan sekadar angka, melainkan indikator bahwa ekosistem yang dibangun mulai membuahkan hasil nyata di kancah internasional.
Optimisme Pelti didukung oleh potensi pasar olahraga di Indonesia yang terus berkembang. Jika ekosistem ini berjalan sesuai rencana, tenis berpotensi menjadi komoditas olahraga yang menarik bagi investor, sekaligus memberikan jalur karier yang lebih menjanjikan bagi generasi petenis masa depan Indonesia.