Mark Darbon, Chief Executive The R&A, menyatakan organisasinya sudah mendekati keputusan untuk menggelar Open Championship di luar Britania Raya untuk pertama kalinya, yakni di Portmarnock Golf Club, Dublin, Irlandia. Pernyataan tersebut disampaikan menjelang turnamen ke-154 di Royal Birkdale, sekaligus menandai babak baru dalam sejarah kejuaraan golf tertua di dunia.
Rencana itu pertama kali muncul ke publik pada 2023 ketika The R&A membuka kemungkinan Portmarnock menjadi tuan rumah. Pemerintah Irlandia kemudian menunjukkan dukungan nyata dengan menyiapkan dana hingga 40 juta euro atau sekitar 34 juta poundsterling pada 2024. Klub yang berlokasi di pesisir ibu kota Irlandia itu sebelumnya sudah beberapa kali menyelenggarakan kejuaraan amatir putra dan putri, sehingga memiliki pengalaman mengelola event berskala internasional.
Menurut Darbon, tantangan terbesar terletak pada skala Open Championship yang jauh lebih besar dibandingkan event amatir. Butuh kerja sama intens dengan pengelola klub, otoritas lokal, dan pemerintah pusat untuk memastikan kelayakan venue. Studi kelayakan telah rampung dan The R&A meyakini Portmarnock mampu menampung turnamen level mayor tersebut.
Langkah ini bukan sekadar memindahkan lokasi turnamen. The R&A sedang merancang model penyelenggaraan yang membuka peluang bagi AIG Women's Open dan The Open untuk digelar di sana dalam jangka panjang. Pembicaraan dengan pemerintah Irlandia berjalan optimistis, meski Darbon mengakui prosesnya lebih lambat dari perkiraan awal karena kompleksitas penyesuaian infrastruktur.
Darbon menargetkan kejelasan posisi Portmarnock sebagai tuan rumah keluar sebelum akhir tahun ini. Transparansi menjadi kunci karena keterlambatan tersebut sempat menimbulkan spekulasi di kalangan pegolf dan penggemar. Jika terealisasi, ini menjadi pergeseran paradigma bahwa Open Championship tidak lagi eksklusif di tanah Britania.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana sebuah federasi global berani merevisi tradisi demi ekspansi pasar dan aksesibilitas. Indonesia sendiri memiliki venue golf kelas dunia seperti TPC Bali dan Royale Jakarta, namun belum pernah menjadi tuan rumah turnamen mayor pria. Regulasi dan investasi infrastruktur menjadi penghalang utama yang masih harus diselesaikan jika suatu saat ingin mencontoh langkah Irlandia.
Dampaknya juga menyentuh aspek bisnis siaran dan sponsor. Turnamen yang berpindah benua tentu mengubah jadwal tayang dan strategi pemasaran di Asia, termasuk Indonesia yang punya basis penggemar golf menengah ke atas. Televisi dan platform streaming lokal berpotensi mendapatkan hak siar dengan nilai lebih kompetitif bila jadwal lebih dekat ke zona waktu Asia.
Padraig Harrington, pegolf asal Dublin peraih tiga gelar mayor, menyambut gagasan tersebut dengan antusiasme. Ia menilai sebagian pihak mungkin menganggap aneh karena Open identik dengan Inggris, padahal secara historis The R&A memayungi golf di luar Amerika Serikat dan Meksiko. Baginya, Irlandia adalah tempat paling tepat untuk perluasan pertama.
Rory McIlroy dan Shane Lowry turut mendukung rencana tersebut. Lowry yang menjuarai Open 2019 mengunjungi klub pekan lalu dan menyebut infrastruktur di sana sudah memadai. Ia meyakini Portmarnock layak menyelenggarakan event tertinggi karena kualitas lapangan termasuk elite dunia.
The R&A sudah menetapkan St Andrews sebagai tuan rumah 2027, disusul Royal Lytham & St Annes pada 2028 yang terakhir kali menggelar turnamen 16 tahun sebelumnya. Venue setelah 2028 masih dibiarkan terbuka, memberi ruang bagi Portmarnock masuk dalam rotasi resmi. Pengumuman resmi diperkirakan menjadi momen bersejarah bagi golf Eropa.
Ekspansi ke Irlandia berpeluang memicu tren penyelenggaraan turnamen mayor di negara non-tradisional. Jika modelnya sukses, bukan mustahil federasi lain mempertimbangkan Asia Tenggara sebagai destinasi masa depan. Indonesia perlu menyiapkan ekosistem dari sekarang agar tak hanya menjadi penonton dalam evolusi golf global.