Port FC harus mengubur mimpi mempertahankan gelar juara Piala Presiden. Tim asal Thailand itu tersingkir setelah dikalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 1-2 dalam laga yang berlangsung di Surabaya, Sabtu (1/8/2026). Kekalahan ini memastikan langkah sang juara bertahan terhenti di babak penyisihan grup, jauh dari target yang mereka bawa sejak awal turnamen.
Pelatih Port FC, Sarawut Treephan, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia mengakui timnya tampil di bawah standar dan kehilangan kendali permainan di babak kedua. "Tentu saja sangat kecewa. Sangat kecewa karena kami tidak lolos. Namun, di dalam pertandingan, jika bicara soal pertandingan, kami kehilangan satu pemain di babak kedua," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Kehilangan pemain akibat kartu merah itu jelas mengubah peta permainan, tetapi Sarawut menilai persoalan timnya lebih dalam dari sekadar jumlah pemain.
Ia menyoroti lini pertahanan yang terlalu mudah ditembus. Kebobolan dua gol dari Persebaya di kandang sendiri menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi. Sarawut memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan begitu tim kembali ke Thailand. Selain masalah taktik, ia juga menyinggung kondisi dua pemainnya yang cedera selama turnamen berlangsung. Pemulihan keduanya akan menjadi prioritas utama dalam persiapan menuju kompetisi musim depan.
Kekalahan ini menjadi ironi bagi Port FC. Mereka datang ke Indonesia dengan status juara bertahan dan ambisi besar mengulang sukses tahun lalu. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Persebaya tampil lebih efektif dan memanfaatkan setiap celah di lini belakang Port FC. Kegagalan ini juga mempertegas bahwa turnamen pramusim tidak pernah menjadi ajang yang mudah, terutama bagi tim yang sedang dalam masa transisi.
Kiper Port FC, Michael Aksel Bataican, mengungkapkan kekecewaan yang sama. Penjaga gawang berdarah Indonesia itu menilai performa timnya dalam dua pekan terakhir jauh dari harapan. "Tidak mudah untuk bermain di sini, tetapi sekali lagi ini adalah kekecewaan besar karena sebagai juara bertahan, kami tidak bisa tampil lebih baik dalam dua minggu terakhir ini," kata Michael. Baginya, status juara bertahan justru menjadi beban tersendiri yang membuat setiap kekalahan terasa lebih menyakitkan.
Michael juga menjelaskan situasi internal tim yang sedang tidak ideal. Port FC masih dalam tahap awal pramusim dan dihuni banyak pemain baru. Perpaduan pemain anyar dengan skuad lama jelas membutuhkan waktu untuk mencapai kekompakan. "Saya pikir kami sudah mencoba, tetapi pada akhirnya kami juga tim baru, banyak pemain baru, dan masih di awal masa pra-musim," ucapnya. Pengakuan ini menunjukkan bahwa kegagalan Port FC bukan semata soal kualitas, melainkan juga masalah kesiapan tim.
Kekalahan Port FC ini membuka mata banyak pihak tentang kekuatan klub-klub Indonesia. Persebaya, yang bermain di hadapan pendukungnya sendiri, mampu tampil percaya diri dan mengalahkan juara bertahan. Keberhasilan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa persepsi soal tim asing selalu superior harus dikoreksi. Di Piala Presiden, atmosfer kandang dan dukungan suporter terbukti menjadi pemain keduabelas yang sangat menentukan.
Bagi Persebaya, kemenangan ini bukan sekadar tiket menuju semifinal. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan ambisi untuk bersaing di level tertinggi. Bonek, sebutan suporter Persebaya, pasti berharap tim kesayangannya tidak berhenti di sini dan mampu melangkah lebih jauh. Semangat itu yang kerap menjadi pembeda antara tim yang hanya sekadar tampil dengan tim yang benar-benar haus gelar.
Turnamen Piala Presiden sendiri memang selalu menjadi panggung kejutan. Sebelum Port FC, beberapa tim besar juga telah merasakan pahitnya tersingkir lebih awal. Persiapan yang belum matang, rotasi pemain, dan strategi uji coba sering kali membuat tim-tim unggulan terjegal. Namun, bagi Port FC, kegagalan ini tetap meninggalkan luka karena mereka datang dengan status juara bertahan.
Kepergian Port FC meninggalkan catatan penting bagi peserta lain. Turnamen pramusim tidak mengenal status atau nama besar. Tim yang paling siap secara fisik dan mental yang akan melaju jauh. Adapun bagi Port FC, evaluasi besar-besaran menanti. Mereka harus segera menemukan kembali bentuk permainan terbaik sebelum kompetisi resmi dimulai.
Sarawut Treephan enggan berlarut dalam kekecewaan. Ia lebih memilih fokus pada perbaikan tim ke depan. "Kami akan kembali dan bekerja lebih keras," tegasnya. Pernyataan singkat itu mengandung tekad besar untuk bangkit dari keterpurukan. Liga Thailand yang semakin kompetitif menuntut setiap tim tampil prima sejak awal musim, dan Port FC tidak punya banyak waktu untuk bersedih.
Bagi pengamat sepak bola Asia Tenggara, tersingkirnya Port FC menjadi bahan analisis menarik. Klub-klub Thailand selama ini dianggap berada satu level di atas mayoritas klub Indonesia. Namun, hasil di Piala Presiden kali ini membuktikan bahwa jarak tersebut semakin tipis, bahkan boleh dikatakan sudah tidak relevan. Persaingan di kawasan ini semakin ketat dan menarik untuk diikuti.
Langkah Port FC di Piala Presiden 2026 memang telah usai. Namun, perjalanan mereka musim ini masih panjang. Piala Liga Thailand, Piala FA, dan kompetisi liga utama akan segera bergulir. Semua itu menjadi kesempatan bagi Port FC untuk membuktikan bahwa kegagalan di Indonesia hanyalah bagian dari proses membangun tim yang lebih kuat.