Gelandang Paul Pogba menghadapi masa depan karier yang tidak menentu di AS Monaco setelah mengalami cedera anyar yang dideritanya sesaat setelah kembali berlatih pada Selasa (11/8). Pemain asal Prancis itu dilaporkan mengalami masalah pada hamstring kirinya saat berpartisipasi dalam sesi latihan gim kecil di Lapangan St. George's Park, Inggris, di mana Monaco sedang menjalani program pramusim.
Kejadian ini menandai episode terbaru dari serangkaian cedera yang menghantui Pogba sejak bergabung dengan Monaco pada 2025. Sejak kedatangannya, pemain berusia 33 tahun itu hanya mampu tampil dalam enam pertandingan resmi dengan total waktu bermain 115 menit. Rekam jejak kesehatannya memang menjadi kekhawatiran besar, dengan masalah lutut kronis yang mengganggunya sebelum cedera hamstring terkini, sebagaimana dilaporkan beIN Sports.
Masa sulit Pogba ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum ia menandatangani kontrak dengan Monaco. Setelah hengkang dari Juventus untuk kedua kalinya, karier sang juara Piala Dunia 2018 itu terus menurun akibat cedera berkepanjangan yang membatasi kontribusinya di lapangan. Transfer ke Monaco pada 2025 seharusnya menjadi peluang untuk memulihkan kariernya, namun kenyataannya justru menjadi catatan kelam baru.
Pemeriksaan MRI yang dilakukan pada sore hari kecelakaan latihan tersebut mengonfirmasi bahwa Pogba akan absen selama beberapa bulan ke depan. Cedera ini menjadi pukulan telak bagi upaya Monaco untuk membangun skuad kompetitif. Dengan sisa kontrak hanya satu musim hingga akhir 2026/2027, manajemen klub disebut sedang berupaya mencapai kesepakatan dengan pemain untuk memutus kontrak lebih awal.
Langkah Monaco ini bisa dipahami dari perspektif manajemen risiko dan efisiensi anggaran klub. Pogba yang seharusnya menjadi pilar kreativitas di lini tengah justru lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perawatan. Selama pramusim tahun ini, ia hanya bermain 45 menit dalam uji coba melawan Saint-Priest sebelum absen dalam empat laga berikutnya. Ketidakmampuan untuk berkontribusi secara konsisten membuat nilainya di mata klub merosot drastis.
Kondisi serupa sebenarnya pernah dialami oleh beberapa pemain kelas dunia lainnya. Karier mereka kerap memasuki fase penurunan tak terhindarkan akibat tubuh yang tak lagi mampu menopang intensitas kompetisi elit. Kasus Pogba ini mengingatkan pada pola yang kerap terjadi di mana klub-klub Eropa harus membuat keputusan bisnis yang berat, meski terhadap pemain bintang sekalipun.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, situasi Pogba ini memberikan pelajaran penting tentang manajemen karier pemain dan risiko investasi klub. Di Liga 1 Indonesia, beberapa klub juga pernah mengalami situasi serupa ketika merekrut pemain dengan riwayat cedera atau usia di atas 30 tahun. Keputusan merekrut pemain harus dilakukan dengan analisis risiko medis yang cermat, bukan sekadar berbasis nama besar atau rekam jejak masa lalu.
Monaco kini berada dalam posisi harus menyusun ulang strategi perekrutan pemain tengah. Ketiadaan Pogba yang diharapkan menjadi kreator permainan memaksa klub untuk mencari alternatif lain di bursa transfer. Keputusan ini akan sangat menentukan kekuatan skuad Monaco di kompetisi domestik dan Eropa musim depan.
Meski belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak, proses negosiasi pemutusan kontrak diperkirakan akan berjalan dalam beberapa pekan ke depan. Pogba sendiri masih memiliki waktu untuk membuktikan kelayakannya, meski situasinya kini sangat berat. Jika akhirnya berpisah, ini akan menjadi akhir yang menyedihkan bagi salah satu talenta terbaik generasinya.
Kisah Pogba di Monaco menggarisbawahi realitas keras dunia sepak bola profesional modern, di mana tubuh atlet menjadi aset utama yang harus terus terjaga. Cedera berulang tidak hanya menghancurkan mimpi pemain, tetapi juga merusak rencana keuangan dan strategis klub yang telah menginvestasikan sumber daya besar.