Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar secara resmi menunjuk Judit Polgar, grandmaster catur yang pernah menduduki peringkat pertama dunia di kategori perempuan, untuk memegang jabatan presiden sementara. Pengumuman disampaikan Magyar melalui akun Facebook resminya pada Minggu (19/7) waktu setempat, sehari setelah Tamas Sulyok mengakhiri masa jabatannya sebagai kepala negara.
Dalam keterangannya, Magyar menegaskan bahwa pilihan Polgar didasarkan pada jejak bakat dan ketekunan yang ia bangun selama beberapa dekade di papan catur internasional. "Negara kita membutuhkan persatuan, perdamaian, dan seorang presiden yang bisa dibanggakan setiap warganya," tulis Magyar. Ia menambahkan bahwa jabatan presiden bukan sekadar pekerjaan atau tempat kerja, melainkan pengabdian tertinggi bagi masyarakat Hungaria.
Keputusan ini datang di tengah pergeseran politik signifikan di negara Eropa Tengah tersebut. Sejak menguasai pemerintahan, Magyar berupaya mengurangi pengaruh era Viktor Orban yang memerintah selama lebih dari satu dekade. Salah satu langkah konkretnya adalah mendorong Sulyok — yang dianggap dekat dengan rezim Orban — untuk menandatangani amandemen konstitusi yang mempersingkat masa jabatannya sendiri.
Profil Polgar jauh berbeda dari tokoh-tokoh politik tradisional. Lahir di Budapest 50 tahun lalu, ia meraih gelar grandmaster pada usia 15 tahun, memecahkan rekor Bobby Fischer sebagai grandmaster termuda saat itu. Selama kariernya, Polgar menolak ikut turnamen khusus perempuan dan bersaing langsung dengan para grandmaster pria, meraih kemenangan atas juara dunia seperti Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan Magnus Carlsen. Ia pensiun dari kompetisi profesional pada 2014, namun tetap aktif dalam pendidikan catur dan advokasi gender equality di olahraga.
Pengangkatan seorang atlet non-politik ke posisi kepemimpinan tertinggi — meski sementara — jarang terjadi di demokrasi modern. Magyar menyadari hal ini dengan menyatakan bahwa ketenaran Polgar "bukan karena afiliasi atau koneksi politik, tetapi karena bakat, ketekunan, ketabahan yang luar biasa dan patut dicontoh." Frasa ini mengindikasikan upaya Magyar memproyeksikan citra bersih dan meritokrasi sebagai pembeda dari predecessornya.
Reaksi publik di Hungaria sendiri bercampur. Pendukung menganggap langkah ini sebagai simbol segar: seorang wanita, intelektual, dan ikon internasional yang bebas dari kotoran politik partai. Kritikus menilai Polgar tidak punya pengalaman administrasi negara, hukum konstitusi, atau diplomasi bilateral — kemampuan yang krusial bagi kepala negara, meski jabatan presiden di Hungaria bersifat seremonial dengan kekuasaan eksekutif nyata ada di tangan perdana menteri.
Di konteks internasional, langkah Magyar menarik perhatian media global. The Times of Israel mengutip keterangan Magyar secara lengkap, sedangkan BBC dan The Guardian menyoroti keunikan narasi: dari papan catur ke istana kepresidenan. Beberapa analis politik bandingkan kasus ini dengan pengangkatan Volodymyr Zelenskyy di Ukraina — komediwan yang jadi presiden — meski Polgar tidak memiliki mesin partai di punggungnya.
Magyar berharap Polgar menerima penunjukan ini dan menjabat hingga konstitusi baru Hungaria disahkan. Proses pembuatan konstitusi baru sendiri menjadi salah satu janji kampanye utama Magyar, yang menuduh konstitusi era Orban dirancang untuk mengunci kekuasaan partai Fidesz. Jika Polgar menerima, ia akan jadi presiden wanita pertama Hungaria dan grandmaster catur pertama dalam sejarah yang memimpin negara.
Bagi Indonesia, kasus ini menawarkan refleksi menarik. Sering kali kita mendengar nama mantan atlet di parlemen atau jabatan eselon tinggi Kemenpora, namun jarang — bahkan tidak pernah — seorang legenda olahraga non-politik diangkat ke posisi kepala negara atau gubernur. Tradisi kami cenderung mengirim mantan atlet ke komisi DPR atau struktural Kemenpora, bukan ke posisi yang membutuhkan legitimasi moral lintas golongan.
Kehadiran Polgar — jika ia menerima — akan menguji apakah simbolisme "tokoh bangsa yang bersih" cukup menstabilkan negara di masa transisi konstitusional. Hungaria menghadapi tekanan Uni Eropa terkait rule of law, inflasi ganda, dan polarisasi masyarakat. Sebuah grandmaster catur terbiasa memikirkan 10 langkah ke depan; pertanyaannya, apakah keterampilan itu transferable ke ruang politik yang penuh ketidakpastian?
Langkah selanjutnya ada di tangan Polgar. Ia belum mengeluarkan pernyataan resmi hingga Senin (20/7) pagi WIB. Jika menolak, Magyar harus mencari figur lain yang bersifat netral namun memiliki capital kepercayaan publik. Jika menerima, dunia akan menyaksikan eksperimen unik: apakah logika, ketahanan mental, dan etos kerja seorang juara catur bisa menavigasi perairan politik yang jauh lebih kompleks dari 64 kotak papan catur.