Sebelum Piala Dunia FIFA 2026 resmi dimulai, muncul berbagai kekhawatiran terkait aksesibilitas penonton hingga kesiapan infrastruktur stadion. Namun, dengan berakhirnya 72 pertandingan fase grup, turnamen ini justru mencatatkan sejarah baru. FIFA mengumumkan bahwa jumlah penonton telah melampaui rekor sepanjang masa sebanyak 3,6 juta orang, menggeser catatan Piala Dunia 2022 di Qatar, padahal turnamen masih menyisakan tiga pekan lagi.
Dominasi kekuatan tradisional Eropa dan Amerika Selatan tetap menjadi poros utama turnamen. Tim-tim UEFA tampil sesuai ekspektasi, dengan Prancis memimpin melalui catatan sempurna di babak grup. Sementara itu, Norwegia menunjukkan peningkatan performa yang signifikan di bawah asuhan Stale Solbakken, bersiap untuk melangkah lebih jauh di fase gugur setelah strategi taktis mereka di babak grup.
Di sisi lain, CONMEBOL tetap perkasa dengan Argentina, Brasil, dan Kolombia yang berhasil menjuarai grup masing-masing. Kejutan datang dari Ekuador yang sukses menumbangkan Jerman, mengamankan tiket ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Dinamika persaingan ini membuktikan bahwa peta kekuatan sepak bola dunia semakin merata meski tetap berpusat pada dua benua tersebut.
Fenomena menarik lainnya adalah kebangkitan tim-tim Afrika. Sembilan dari sepuluh perwakilan benua tersebut berhasil lolos ke fase gugur. Maroko, yang sempat mencapai semifinal pada edisi 2022, kini tampil lebih agresif di bawah arahan pelatih baru, Mohamed Ouahbi. Perubahan gaya bermain dari bertahan ke menyerang terbukti efektif saat mereka menaklukkan Haiti dengan skor 4-2.
Tim tuan rumah juga menunjukkan performa impresif. Meksiko tampil dominan dengan menyapu bersih tiga kemenangan di fase grup, sebuah pencapaian yang hanya bisa disamai oleh raksasa seperti Argentina dan Prancis. Keberhasilan ini semakin memanaskan atmosfer turnamen di tanah Amerika Utara yang memang menjadi pusat perhatian global sejak awal kompetisi.
Amerika Serikat, yang sejak awal di bawah asuhan Mauricio Pochettino memasang target juara, terus menjadi sorotan. Dukungan suporter lokal yang masif menjadi bahan bakar bagi tim nasional mereka untuk terus melaju. Dengan dimulainya babak 32 besar, pertarungan untuk memperebutkan trofi bergengsi ini diprediksi akan semakin sengit seiring dengan gugurnya tim-tim yang tidak mampu mengimbangi intensitas permainan di fase grup.