Sebanyak 35 suporter di Argentina mengalami serangan jantung selama gelaran Piala Dunia 2026 berlangsung. Lonjakan kasus itu disebabkan oleh tingginya tekanan emosional penonton saat menyaksikan laga sengit timnasnya, termasuk kemenangan tipis atas Inggris di semifinal.
Menteri Kesehatan Argentina, Luis Medina Ruiz, mencatat dua kasus serangan jantung tambahan terjadi usai pertandingan Inggris kontra Argentina. Angka tersebut menjadikan total 35 orang terdampak selama turnamen, melampaui rata-rata 20 kasus serupa dalam satu bulan. Ruiz mengungkapkan panggilan darurat terkait nyeri dada, tekanan darah tinggi, dan gangguan jantung meningkat tajam seiring berjalannya kompetisi.
Kementerian Kesehatan setempat mencatat lebih dari 30 panggilan darurat berhubungan dengan gejala kardiovaskular selama periode tersebut. Data itu memperlihatkan korelasi langsung antara intensitas pertandingan dengan kondisi fisiologis penduduk yang menonton. Stres akut dipicu oleh ritme permainan yang mendebarkan serta nasib tim favorit yang kerap berada di ujung tanduk.
Perjalanan Argentina menuju final Piala Dunia 2026 terbilang terjal dan penuh kejutan. Lionel Messi bersama rekan setimnya nyaris tersingkir sejak babak 32 besar saat menghadapi Cape Verde. Di fase 16 besar, Mesir memberikan perlawanan sengit sebelum Albiceleste lolos dengan margin tipis.
Swiss kembali memaksa Argentina bermain hati-hati pada perempat final. Inggris, yang menjadi rintangan terakhir sebelum partai puncak, memaksa laga berlangsung sangat menegangkan hingga wasit meniup peluit akhir. Rentetan pertandingan berisiko tinggi itulah yang membuat sistem kardiovaskular sebagian suporter tidak kuat menahan beban psikologis.
Fenomena ini menarik perhatian mengingat Indonesia memiliki basis penggemar sepak bola yang sangat besar dan emosional. Meski tidak memiliki tim di Piala Dunia, masyarakat Tanah Air kerap ikut merasakan euforia dan stres saat mendukung negara tertentu secara informal di kedai kopi atau siaran televisi. Lonjakan tekanan darah mendadak saat menonton laga besar sudah lazim terjadi, namun belum ada catatan sistematis seperti di Argentina.
Di Indonesia, layanan kesehatan darurat seperti ambulans dan call center 119 belum terintegrasi dengan agenda siaran olahraga berskala global. Padahal, pertandingan final Liga Champions atau Piala Asia kerap memicu kerumunan penonton di ruang publik. Ketiadaan protokol kesehatan khusus untuk even nonton bareng berisiko memperbesar dampak medis jika kejadian serupa terjadi di dalam negeri.
Dari sisi industri olahraga, turnamen sekelas Piala Dunia bukan sekadar produk hiburan. Ajang ini membentuk respons biologis massa yang bisa menjadi beban sistem kesehatan nasional. Broadcaster dan penyelenggara even di negara peserta wajib mempertimbangkan kampanye edukasi jantung sehat saat promosi pertandingan besar.
“Pertandingan benar-benar jadi satu hal karena stres yang kami rasakan. Beruntung pertandingan berakhir manis namun juga berdampak buruk untuk jantung,” ujar Ruiz merujuk pada tensi tinggi di kalangan suporter. Pernyataan itu menegaskan bahwa euforia kemenangan tidak selalu berujung positif bagi kondisi fisik penonton awam.
Argentina kini bersiap menghadapi Spanyol pada final Piala Dunia 2026. Laga digelar di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7) pukul 02.00 WIB. Albiceleste berpeluang mengoleksi trofi keempat, sementara Spanyol mengincar gelar kedua dalam sejarah mereka.
Kementerian Kesehatan Argentina diproyeksikan akan menyiagakan layanan kardiovaskular tambahan selama final berlangsung. Tren peningkatan kasus serangan jantung terkait even olahraga besar diprediksi memicu kajian epidemiologi di negara-negara dengan tingkat fanatisme sepak bola tinggi, termasuk kemungkinan panduan medis bagi penonton rentan di masa depan.