Olahraga

Piala Dunia 2026: Keempat Mantan Juara Dominasi Semifinal, Maroko dan Belgia Tergilas Takdir

Ringkasan

  • Keempat mantan juara dunia — Argentina, Prancis, Inggris, dan Spanyol — lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya sejak 1990.
  • Maroko gagal dengan eksperimen tanpa striker, Belgia kewalahan kendali bola Spanyol, dan Norwegia hancur oleh kontroversi VAR serta naivitas sendiri.

Piala Dunia FIFA 2026 menyimpan narasi sejarah di babak perempat final: keempat tim semifinalis — Argentina, Prancis, Inggris, dan Spanyol — semuanya adalah mantan juara dunia. Kejadian ini belum pernah terjadi sejak edisi 1990 di Italia, menandai kembalinya tatanan kekuasaan tradisional dalam sepak bola internasional setelah beberapa edisi yang diwarnai kemunculan tim-tim underdog seperti Kroasia (2018) dan Maroko (2022). Keempat tim tersebut memanfaatkan ketidakstabilan dan ketidakberanian lawan-lawannya yang relatif kurang berpengalaman di panggung besar, meskipun masing-masing lolos melalui jalur yang penuh drama dan kontroversi.

Perancis memperkuat status mereka sebagai tim paling sulit dikalahkan dengan mengalahkan Maroko 2-0 di Boston. Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, mengambil keputusan taktis yang mengejutkan seluruh dunia sepak bola: memainkan formasi tanpa striker alami. Keputusan itu terbukti fatal. Kylian Mbappé membuka keunggulan dengan tendangan melengkung indah ke gawang Yassine Bounou, sebelum Prancis mengunci kemenangan. Pelatih Prancis, Didier Deschamps, jujur mengaku terkejut melihat susunan pemain lawan: "Saya sangat terkejut dengan starting 11 mereka. Saya mencoba memahami alasan Ouahbi, tidak ada striker asli." Meskipun Maroko kekurangan Ismael Saibari yang cedera, mereka tetap memiliki opsi penyerang lain seperti Soufiane Rahimi yang baru masuk menit ke-60. Strategi Ouahbi tetap menjadi misteri, apakah ia berharap gol bunuh diri Prancis atau mengandalkan keajaiban Bounou yang tadi menendang penalti Mbappé.

Di Los Angeles, Spanyol menahan napas sebelum akhirnya mengalahkan Belgia 2-1 lewat gol dramatis Mikel Merino di menit ke-88. Tokoh tak terduga muncul dari lini belakang: Pau Cubarsi, bek berusia 19 tahun dari Barcelona. Ia bukan Lamine Yamal, bintang muda yang dikunci ganda oleh Jeremy Doku. Cubarsi berani menembak dari jarak 30 meter, tembakannya memaksa kiper cadangan Belgia, Senne Lammens, melakukan kesalahan fatal dengan tidak bisa mengamankan bola, memungkinkan Merino menyelesaikan rebound. Kehadiran Cubarsi sebagai bek tengah muda langka di Piala Dunia — sebelumnya hanya Giuseppe Bergomi (18 tahun, 1982) — menunjukkan keberanian Luis de la Fuente mempercayakan filosofi Barcelona: menguasai bola untuk bertahan. Merino sendiri menjadi super-sub andalan, mencetak gol dua menit setelah masuk lawan Belgia dan lima menit lawan Portugal di babak 16 besar.

Inggris lolos ke semifinal usai mengalahkan Norwegia 2-1 di Miami dalam laga penuh kontroversi VAR. Norwegia, yang sengaja memutar pemain utama Erling Haaland dan Martin Ødegaard di fase grup demi menyimpan tenaga untuk fase knockout, kehilangan momentum di menit-menit krusial. Gol Norwegia dibatalkan usai VAR mendeteksi dorongan Haaland ke Elliot Anderson. Kemudian, tendangan gawang panjang Orjan Nyland aneh-aneh melenceng — diduga terkena kabel kamera TV menurut pelatih Stale Solbakken — mengantarkan bola ke Anderson yang mengawali aksi gol setara Inggris lewat Jude Bellingham. Di babak tambahan, Bellingham kembali jadi penyelamat dengan mengubah rebound tembakan Morgan Rogers. Norwegia sempat punya peluang emas saat Jordan Pickford dan bek Inggris bertabrakan, tapi wasit Clement Turpin justru menghentikan permainan dan mengartu Kristoffer Ajer karena protes. Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, akui timnya "beruntung".

Argentina menyelesaikan babak perempat final dengan kemenangan tipis atas Swiss, memanfaatkan kesalahan kiper lawan yang melakukan "dive" sia-sia. Meskipun detail laga tidak sepenuhnya terekspos dalam laporan ini, kehadiran Albiceleste di semifinal memperkuat narasi dominasi Amerika Selatan dan Eropa. Lionel Messi, meskipun sudah di usia senja karier, tetap menjadi simbol kepercayaan tim yang dibangun Lionel Scaloni. Keseimbangan antara pengalaman veteranan dan energi muda seperti Julián Álvarez menjadi kunci Argentina bertahan di antara empat besar.

Pola yang terlihat jelas dari keempat laga perempat final adalah ketidakmampuan tim-tim "outsider" untuk mengeksekusi rencana taktis yang berani di hadapan tekanan besar. Maroko gagal dengan eksperimen tanpa striker, Belgia kewalahan oleh kendali bola Spanyol, Norwegia hancur oleh naivitas sendiri, dan Swiss tumbang karena kesalahan individual. Ini menguatkan tesis bahwa di tingkat tertinggi, pengalaman manajemen emosi dan efisiensi finishing jauh lebih menentukan dibandingkan inovasi taktis yang terlalu radikal tanpa fondasi mental yang matang.

Babak semifinal akan mempertemukan Prancis vs Spanyol (remaja vs pengalaman, kecepatan vs kendali) serta Argentina vs Inggris (drama sejarah 1986/1998 vs proyek baru Tuchel). Pertemuan Prancis-Spanyol menawarkan kontras menarik: Mbappé vs Yamal/Doku battle, Deschamps pragmatis vs De la Fuente idealis. Sementara Argentina-Inggris membawa beban sejarah yang berat, diperkuat narasi Messi vs generasi baru Inggris (Bellingham, Saka, Kane). Keempat tim memiliki peluang setara, namun Prancis tampak paling lengkap dengan kedalaman skuad dan ketahanan mental.

Bagi sepak bola Indonesia, edisi ini menjadi pengingat bahwa konsistensi pengembangan pemain muda (seperti Cubarsi, Yamal, Bellingham, Saka) harus didukung sistem kompetisi domestik yang kompetitif dan kurikulum pelatihan yang terstruktur. Kegagalan Maroko dan Norwegia juga mengajarkan bahwa manajemen beban fisik dan mental di turnamen besar butuh keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi pelatih. Piala Dunia 2026, dengan format 48 tim, justru semakin memvalidasi kualitas di atas kuantitas: tim-tim besar dengan infrastruktur matang tetap yang bertahan di ujung turnamen.

Mengapa Ini Penting

Dominasi keempat mantan juara di semifinal menegaskan bahwa infrastruktur sepak bola jangka panjang dan pengembangan pemain muda berkelanjutan tetap menjadi kunci keberhasilan di panggung terbesar. Bagi Indonesia, ini menjadi bukti nyata bahwa investasi pada akademi, liga domestik kompetitif, dan manajemen data performa pemain bukan lagi pilihan tapi keharusan untuk mengejar standar global. Format 48 tim justru mempertajam kesenjangan kualitas, bukan memudahkan tim-tim berkembang.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit