Petisi yang diajukan Gisela Sanchez melalui platform Change.org telah mengumpulkan 78.956 tanda tangan hingga Kamis (23/7) pagi waktu Indonesia. Angka itu melonjak drastis dari laporan awal Marca yang mencatat 61.500 dukungan, menandakan amarah masif penggemar La Albiceleste terhadap keputusan keputusan wasit asal Slovenia tersebut.
Kontroversi memuncak saat Vincic mengeluarkan kartu merah langsung kepada Enzo Fernandez di menit injury time babak kedua. Kedudukan tengah Argentina itu menjegal keras Pau Cubarsi, namun penggemar menilai hukuman terlalu berat dan mengubah momentum laga. Spanyol akhirnya mencetak gol kemenangan lewat Ferran Torres di menit ke-106, membawakan gelar juara dunia pertama bagi La Roja.
Tidak hanya soal kartu merah. Sanchez menuding Vincic konsisten memihak Spanyol dalam duel-duel fisik, mengabaikan pelanggaran lawan, dan tidak memanfaatkan VAR secara adil. "Wasit tersebut jelas memihak satu tim, mengubah alur pertandingan, dan menimbulkan kekecewaan besar bagi pemain, pelatih, dan penggemar," tulisnya dalam narasi petisi. Ia menuntut FIFA meninjau insiden dengan transparan dan mempertimbangkan replay tanpa pengaruh wasit yang diklaim korup.
Kericuhan pasca laga memperparah citra kekalahan Argentina. Nahuel Molina terlibat gesekan dengan offisial Spanyol, sementara Leandro Paredes dan asisten pelatih Roberto Ayala ikut terjun ke dalam konfrontasi fisik. Video viral di media sosial memperlihatkan emosi tak terkendali pemain Argentina yang merasa dikhianati keputusan wasit.
Di sisi lain, media Argentina El Canciller menanggapi keras laporan soal petisi ini. Mereka mengklaim tidak ada inisiatif resmi dari federasi sepak bola Argentina (AFA) maupun kelompok suporter terorganisir. "Laporan soal petisi meminta final diulang itu palsu. Tidak ada rencana atau gerakan resmi yang mewakili negara," tulis media tersebut, mengutip sumber internal AFA.
Perbedaan narasi ini menciptakan kekaburan informasi. Di satu sisi, angka puluhan ribu tanda tangan nyata ada di platform petisi. Di sisi lain, otoritas sepak bola Argentina menyangkal adanya gerakan terstruktur. Hal ini mengingatkan pada kasus-kasus serupa di masa lalu di mana petisi online sering kali tidak mewakili keputusan resmi klub atau federasi.
Sejarah mencatat FIFA tidak pernah mengulang final Piala Dunia meski kontroversi wasit mewarnai laga. Final 1966 (gol Geoff Hurst yang kontroversial), 1986 ("Hand of God" Maradona), hingga 2010 (kesalahan wasit pada final Belanda vs Spanyol) semua tetap sah. Preseden hukum internasional sepak bola sangat mengutamakan keputusan wasit di lapangan sebagai final (final and binding).
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang dinamika kekuatan media sosial dalam olahraga modern. Petisi online mampu mengumpulkan puluhan ribu suara dalam hitungan jam, menciptakan tekanan naratif meski tidak memiliki kekuatan hukum. Fenomena serupa pernah terjadi di Liga 1 Indonesia, di mana keluhan wasit sering jadi trending topic tapi jarang mengubah keputusan resmi.
Ahuk hukum olahraga Andi Narogong menilai peluang replay hampir nol. "FIFA memiliki protokol ketat. Keputusan wasit di lapangan mutlak, kecuali ada bukti manipulasi pertandingan (match-fixing) yang terbukti di pengadilan, bukan sekadar kesalahan teknis," ujarnya saat dihubungi. Ia menambahkan, VAR justru dirancang untuk meminimalisir kesalahan, tapi keputusan akhir tetap di tangan wasit utama.
Sementara itu, federasi Spanyol (RFEF) memilih diam. Juara dunia baru itu fokus merayakan kemenangan sejarah. Pelatih Luis de la Fuente menegaskan timnya menang adil. "Kami bermain lebih baik di perpanjangan waktu. Argentina tim hebat, tapi kami layak juara," ucapnya di konferensi pers pasca laga.
Petisi ini kemungkinan besar akan menjadi catatan sejarah sebagai protes digital terbesar dalam sejarah final Piala Dunia, tanpa mengubah hasil. FIFA hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi. Untuk Argentina, fokus kini bergeser ke kualifikasi Copa America 2028 dan regenerasi tim pasca era Lionel Messi yang semakin dekat dengan pensiun internasional.