Persib Bandung resmi melangkah ke babak final Piala Presiden 2026 usai mengatasi rival klasik Persija Jakarta dengan skor 2-1 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (4/8). Kemenangan ini menegaskan dominasi Maung Bandung di babak pertama, di mana mereka mencetak dua gol tanpa balas sebelum Persija menyisipkan satu gol di menit akhir.
Dua gol Persib lahir dari efisiensi sayap kiri dan situasi bola mati. Uilliam Barros membuka keunggulan pada menit ke-22 usai menerima umpan melintang yang diselesaikan dengan tenang di hadapan kiper Muchamad Aqil Savik. Enam menit kemudian, Balsa Sekulic mengubah penalti menjadi gol setelah Denis Kolinger dinilai melakukan tangan di dalam kotak penalti saat menghadapi tendangan sudut.
Persija memang hadir dengan susunan yang cukup kuat, mengandalkan Stjepan Loncar dan Fabio Calonego di lini tengah serta Witan Sulaeman di sayap. Namun, koordinasi tim asuhan Shin Tae-yong terlihat belum menyatu sepenuhnya. Selama 45 menit pertama, Persib lebih menguasai tempo permainan melalui kontrol bola Gakuto Notsuda dan kreativitas Luciano Guaycochea di tengah.
Konteks pertandingan ini berbeda dari derbi biasa di Liga 1. Sebagai turnamen pramusim, kedua tim memprioritaskan kebugaran fisik dan menghindari cedera parah sebelum kompetisi resmi bergulir. Hal ini terlihat dari intensitas duel yang relatif terkendali, meskipun rivalitas emosional tetap terasa di setiap duel udara dan interupsi fisik.
Masuk babak kedua, Shin Tae-yong melakukan pergantian taktis dengan memasukkan Gustavo Almeida guna menambah daya gedor di lini depan. Persija memang mendominasi bola dan menciptakan beberapa peluang berbahaya, termasuk sundulan Fabio Calonego yang membentur mistar pada menit ke-59 serta tembakan Arlyansyah Abdulmanan yang juga menghantam kayu pada menit ke-71.
Pertahanan Persib, yang dipimpin Patricio Matricardi dan Gabriel Mutombo, menunjukkan ketahanan mental yang luar biasa. Mereka berhasil menutupi ruang dan memaksa Persija bertembak dari jarak jauh — strategi yang efektif mengurangi ancaman nyata ke gawang Teja Paku Alam. Kiper Persib sendiri hanya teruji serius pada menit ke-86 saat Kwon Chang Hoon menyelesaikan aksi Victor Dethan dengan finish yang tajam.
Gol Kwon Chang Hoon memicu gelora baru bagi Macan Kemayoran. Dalam lima menit injury time, Persija melancarkan pengepungan total, mengandalkan tembakan jarak jauh dan bola tinggi ke kotak penalti. Namun, ketidakklisian penyerang serta keamanan pertahanan Persib memastikan skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang.
Momen khusus juga tercatat saat Mariano Peralta debut resmi bagi Persib pada menit ke-80, menggantikan Balsa Sekulic. Kehadiran pemain asal Argentina ini diharapkan menjadi senjata tambahan untuk final, mengingat kemampuannya menciptakan peluang dari posisi playmaker. Pelatih Persib, Bojan Hodak, tampak tenang di bangku cadangan, percaya pada sistem pertahanan yang sudah dibangun sejak awal musim.
Dari perspektif taktis, kemenangan Persib dibangun pada disiplin posisi dan efisiensi finishing. Mereka tidak memaksa serangan berlebihan, justru menyerang melalui transisi cepat dan bola mati — dua aspek yang menjadi kelemahan Persija musim ini. Sementara Persija, meskipun menguasai posse 60 persen di babak kedua, kesulitan menerobos blok bawah yang rapat.
Hasil ini juga memberikan gambaran awal kekuatan kedua tim sebelum Liga 1 2026/2027 dimulai. Persib tampak lebih siap secara kompak tim, dengan rekrutan Patricio Matricardi dan Gabriel Mutombo memberikan stabilitas di lini belakang. Persija hingegen masih mencari kimia terbaik antara rekrutan baru seperti Kerim Memija dan Ilham Rio Fahmi dengan kerangka tim lama.
Final Piala Presiden 2026 akan menunggu lawan Persib dari partai semifinal kedua. Apapun lawannya, momentum psikologis mengalahkan rival tertua di kandang mereka sendiri — meskipun di lapangan netral — menjadi modal besar. Bagi Persija, kekalahan ini jadi evaluasi berharga: dominasi posse tanpa finishing tajam tidak akan cukup di level kompetisi yang lebih tinggi.