Gol tunggal Yuran Fernandes pada menit ke-45+8 melalui tendangan penjuru Francisco Rivera menjadi penentu laga yang berlangsung penuh drama di Bali. Bek asal Portugal itu melompat lebih tinggi dari pertahanan Arema untuk menjebol gawang Adi Satryo tepat sebelum istirahat, memberikan keunggulan psikologis bagi Bajul Ijo.
Pertandingan dimulai dengan tempo hati-hati dari kedua belah pihak, meski Persebaya hampir unggul lebih awal lewat tendangan bebas Diogo Campos pada menit ketiga yang melambung tipis. Arema punya kesempatan balas melalui Johan Alfarizi, namun golnya dibatalkan akibat posisi offside yang tepat tertangkap kamera VAR.
Insiden paling mengubah alur pertandingan terjadi saat injury time babak pertama. Wasit awalnya mengeluarkan kartu merah ke Matheus Blade setelah duel tinggi dengan Miguel Pereira, namun keputusan dibatalkan usai review VAR dan diganti kartu kuning. Keputusan itu menenangkan emosi Singo Edan, meski momentum sudah bergeser ke sisi Persebaya.
Babak kedua berwarna merah kedua bagi Arema. Diego Landis terpaksa meninggalkan lapangan pada menit ke-67 usai menerima kartu merah langsung, memaksa pelatih Arema mengubah susunan jadi 4-4-1 yang bersifat defensif. Keanggotan 10 pemain itu justru memicu Arema untuk menekan lebih gencar, tapi ketajaman finishing menjadi masalah.
Persebaya dengan tenang mengontrol tempo lewat pengendalian bola di tengah medan. Gelandang Brasil Diogo Campos dan Paulo Henrique sering jatuh ke sayap untuk menguras stamina bek Arema, sambil menunggu konter mematikan. Strategi itu berhasil mengunci kemenangan tanpa perlu mencetak gol tambahan.
Kemenangan ini menandakan kembalinya Persebaya ke panggung final turnamen pra-musim setelah dua edisi sebelumnya gagal melangkah jauh. Bagi klub yang baru saja menyelesaikan transisi manajemen dan rekrutmen pemain asing baru, lolos ke final menjadi injeksi kepercayaan diri sebelum Liga 1 2026/2027 bergulir.
Di sisi lawan, Persib Bandung sudah menunggu di final usai mengalahkan Persija Jakarta di semifinal lain. Laga puncak nanti akan mempertemukan dua klub dengan basis pendukung terbesar di Indonesia — Bajul Ijo versus Maung Bandung — yang histori pertemuan mereka selalu memikat perhatian nasional.
Perspektif taktis, final ini menjanjikan pertarungan menarik. Persebaya bermain dengan sistem 4-2-3-1 yang fleksibel berubah jadi 4-5-1 saat bertahan, sedangkan Persib di bawah pelatih baru mereka cenderung memakai 4-3-3 dengan tekanan tinggi. Kunci kemenangan kemungkinan besar ada di pertarungan tengah lapangan dan efektivitas bola mati.
Bagi Arema, kekalahan ini jadi evaluasi keras. Tim dari Malang harus puas berebut tempat tiga lawan Persija, lawan klasik mereka sendiri. Kedua tim tersebut justru akan berhadapan dalam laga perebutan medali perunggu yang tidak kalah sengitnya, mengingat rivalitas jangka panjang yang ada.
Secara finansial dan branding, final Persebaya vs Persib menjadi emas bagi penyelenggara dan sponsor. Rating tayang TV dan streaming digital diprediksi melonjak signifikan, mengingat kedua klub memiliki jangkauan media sosial gabungan puluhan juta pengikut. Ini juga uji coba sistem VAR yang diterapkan penuh di turnamen ini.
Langkah selanjutnya bagi Persebaya adalah memastikan kondisi fisik pemain utama tetap prima hingga final. Beberapa pemain seperti Francisco Rivera dan Miguel Pereira bermain penuh 90 menit dan butuh recovery intensif. Sementara Persib punya keuntungan istirahat ekstra satu hari, faktor yang bisa menentukan di laga puncak nanti.