Final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8) malam, berakhir dengan drama penuh emosi. Persebaya Surabaya berhasil mengalahkan Persib Bandung melalui adu penalti 7-6 setelah seri 1-1 hingga babak tambahan, meraih trofi pertama klub ini dalam delapan edisi turnamen pramusim tersebut.
Di tengah keramaian rekan satu tim yang bergembira dengan trofi dan medali, Rachmat Irianto justru duduk sendirian di pojok kiri podium. Pria berusia 26 tahun itu berkubang air mata sambil memeluk medali juara yang baru saja dikalungkan, lalu melepas dan menatapnya pelan sebelum mengembalikan ke lehernya. Di dadanya, kaus hitam bergambar wajah almarhum ayahnya, Bejo Sugiantoro — legenda Persebaya yang meninggal dunia 2022 silam.
"Terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidupku. Saya akan selalu menikmati anak tangganya. Saya datang, saya berucap, dan saya akan tepati. Persebaya juara, Yah," ucap Irianto menggambarkan isi hatinya saat diwawancarai pasca laga. Juara ini bukan sekadar trofi pramusim, melainkan penebusan janji pribadi yang tertunda selama berahun-tahun.
Bejo Sugiantoro pernah membela Bendera Bajul Ijo dengan dedikasi total, namun gelar juara liga kasta tertinggi belum sempat diraih saat ia hidup. Irianto, yang dibesarkan di lingkungan Persebaya, membuat komitmen pribadi untuk menyelesaikan apa yang tidak terselesaikan sang ayah. Kemenangan malam itu menjadi bukti nyata komitmen itu mulai terwujud.
Secara kompetitif, performa Persebaya di turnamen ini memang menjanjikan. Tim asuhan Bernardo Tavares tak kenal kekalahan sejak fase grup, menunjukkan kedalaman skuad yang memadai meski pelatih Brasil itu sering melakukan rotasi pemain. Ketiga gol Arlyansyah Abdulmanan yang membawanya meraih gelar Pemain Muda Terbaik jadi bukti regenerasi berjalan lancar.
Namun, angka rating televisi justru jadi pembicaraan hangat di luar lapangan. TVR final mencapai 8,9 persen — setara 25,8 juta penonton — dengan share 45,3 persen. Angka ini mengalahkan semua siaran sepak bola klub di Indonesia, termasuk Liga 1, dan hanya kalah dari pertandingan Timnas Indonesia. Direktur Emtek Media, Harsiwi Achmad, mengaku terkejut: "Rating dan share tertinggi belum pernah tercapai dalam siaran kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia."
Kenaikan hadiah juara dari Rp5,5 miliar (2025) menjadi Rp8 miliar edisi ini juga mencatat rekor baru turnamen klub di Asia Tenggara. Hanya ASEAN Club Championship (Rp8,9 miliar) dan FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan datang (Rp18 miliar) yang menyaingi nominal ini. Sponsor total turnamen mencapai Rp100 miliar, menandakan kepercayaan industri pada properti ini.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai hasil akhir turnamen — Persebaya juara, Persib runner-up, Persija ketiga — sebagai indikator awal dinamika perebutan juara Super League 2026/2027. "Kayaknya dinamika di liga untuk perebutan juara sudah mulai kelihatan," ujarnya. Tiga klub besar ini memang menunjukkan konsistensi performa sejak pramusim.
Di balik euforia, Persebaya harus menghadapi 'kutukan' statistik: belum ada juara Piala Presiden yang kemudian juara liga di musim yang sama. Ketua Umum Persebaya, Arlyansyah Abdulmanan (bukan pemain, tapi manajemen), menegaskan hal itu hanyalah mitos. Fokus klub kini beralih ke persiapan fisik dan mental menghadapi liga panjang yang lebih menuntut.
Turnamen ini juga menjadi edisi terakhir Piala Presiden sebagai kompetisi antarklub. Mulai 2027, format akan berubah menjadi kejuaraan Timnas Indonesia — langkah yang disiapkan PSSI untuk memperkuat tim nasional menjelang kualifikasi Piala Dunia. Perubahan ini membuat edisi 2026 bersejarah sebagai penutup era sekaligus puncak prestasi turnamen selama delapan tahun.
Bagi Irianto, malam 6 Agustus 2026 bukan hanya tentang trofi. Itu adalah malam di mana janji seorang anak kepada ayahnya tergenapi di hadapan ribuan penonton di tribun dan jutaan di layar kaca. Air mata yang mengalir di kesunyian podium jadi pengingat: di balik setiap kemenangan besar, ada narasi pribadi yang tak terlihat kamera — tapi terasa di hati.