Bajul Ijo menutup turnamen pramusim dengan kemenangan manis atas rival sejati. Setelah 120 menit bermain imbang 1-1, dua tim harus berhadapan di titik putih untuk menentukan pemilik trofi. Kegigihan Persebaya teruji hingga detik terakhir saat kiper Giedson mengamankan penalti penentu yang mengantarkan timnya ke puncak podium.
Gol pembuka dicatat pada menit ke-20 melalui Ramadhan Sananta yang memanfaatkan kebocoran pertahanan Maung Bandung. Keunggulan itu hanya bertahan empat menit sebelum Patricio Matricardi menyamakan kedudukan dengan tendangan keras dari luar kotak penalti. Sejak saat itu, pertarungan beralih ke lini tengah di mana kedua tim saling menutupi ruang hingga wasit mengakhiri waktu normal dan dua babak tambahan tanpa gol tambahan.
Sejarah Piala Presiden yang bergulir sejak 2015 mencatat Arema FC sebagai raja turnamen dengan empat trofi. Persib, Persija, dan Port FC Thailand pernah merasakan sensasi juara, namun Persebaya baru kali ini mengukir namanya di daftar pemenang. Kemenangan ini menghapus kesedihan tim Surabaya yang gagal lolos ke babak final edisi sebelumnya.
Pelatih Persebaya, Paul Munster, mengandalkan susunan yang relatif stabil sejak paruh kedua musim lalu. Sananta yang digiring dari PSIS Semarang menunjukkan adaptasi cepat dengan mencetak gol penting di final. Di sisi lain, Persib yang diperkuat rekrutan anyar seperti Matricardi dan Tyronne del Pino masih mencari kimia tim yang optimal di awal musim.
Adu penalti menjadi panggung drama tersendiri. Dua penendang Persib, Del Pino dan Beckham Putra, gagal mengubah peluang mereka. Sementara Persebaya hanya kehilangan satu penalti melalui Paulo Victor. Giedson, kiper asal Brasil yang baru bergabung musim ini, muncul sebagai pahlawan tak terduga dengan menyelamatkan tendangan penentu dan sekaligus mengakhiri kemarahan supporters Bajul Ijo.
Kemenangan ini memberikan momentum psikologis besar bagi Persebaya menghadapi Liga 1 2026/2027 yang akan dimulai minggu depan. Tiga poin dari hasil imbang waktu normal tidak ada, tapi mental juara dan keyakinan tim meningkat drastis. Munster mendapat bukti bahwa skuadnya mampu bertahan di bawah tekanan dan mengeksekusi di momen krusial.
Bagi Persib, kekalahan ini menjadi evaluasi awal sebelum debut liga. Pelatih Bojan Hodak harus memperbaiki efisiensi finishing dan ketahanan mental saat menghadapi situasi tekanan tinggi. Kedua kegagalan penalti dari pemain senior menunjukkan beban psikologis yang perlu dikelola sebelum musim kompetitif berlangsung.
Stadion Kapten I Wayan Dipta yang dipenuhi 20 ribu penonton menyaksikan atmosfer final yang memanas. Suporter kedua tim saling menggebrak tribun dengan tifo dan nyanyian hingga akhir pertandingan. Keamanan berjalan lancar meski rivalitas kedua basis pendukung dikenal sengit, membuktikan kematangan pengelolaan pertandingan besar di era baru.
Secara komersial, Piala Presiden 2026 menarik perhatian sponsor utama baru dari sektor teknologi dan perbankan digital. Tayangan siaran langsung mencatat puncak penonton di menit adu penalti, menunjukkan daya tarik produk sepak bola Indonesia saat dikemas dengan naratif rivalitas klasik. Ini menjadi modal bargaining klub untuk negosiasi hak siar musim depan.
Jadwal padat menanti Persebaya yang harus segera beranjak ke Surabaya untuk persiapan laga pembukaan Liga 1 lawan PSM Makassar. Istirahat hanya tiga hari sebelum tim harus tampil di depan penonton kandang. Manajemen fisik dan rotasi pemain menjadi kunci agar momentum juara tidak terbuang sia-sia akibat kelelahan atau cedera.
Sejarah akan mencatat edisi ke-8 Piala Presiden sebagai milik Persebaya Surabaya. Trofi ini bukan hanya simbol kejuaraan pramusim, tapi bukti bahwa tim dari Timur Jawa mampu bangkit dari musim lalu yang mengecewakan. Untuk Persib, perjalanan mencari gelar juara kedua di turnamen ini harus menunggu kesempatan berikutnya.