Lionel Messi akan melakoni penampilan terakhirnya bersama tim nasional Argentina dalam laga melawan Benin di Stadion Monumental, Buenos Aires, Selasa ini. Momen ini menandai tirai penutup bagi karier internasional sang megabintang yang telah membentang selama lebih dari dua dekade, sekaligus mengakhiri sebuah perjalanan emosional yang penuh liku antara seorang jenius sepak bola dan negara yang sempat meragukannya.
Kisah cinta antara Messi dan Argentina tidak dimulai dengan gegap gempita. Pada awal kariernya, federasi sepak bola Argentina bahkan tidak mengenal siapa Messi. Remaja asal Rosario ini harus meniti karier di Spanyol bersama akademi La Masia milik Barcelona. Saat itu, Spanyol sempat mencoba membujuk Messi untuk membela tim nasional mereka, sementara di tanah kelahirannya sendiri, namanya nyaris tak terdengar.
Bahkan, dalam administrasi resmi Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), sempat terjadi kekacauan birokrasi yang menggelitik. Dokumen yang dikirimkan ke Barcelona salah menuliskan namanya sebagai 'Mecci', dengan asumsi bahwa ia mungkin pemain keturunan Italia. Kesalahan administratif ini menjadi simbol betapa jauhnya jarak antara talenta besar Messi dengan radar sepak bola Argentina pada masa itu.
Skeptisisme publik Argentina terhadap Messi pun sempat mencapai titik nadir. Ia sering dilabeli sebagai pemain yang tidak memiliki jiwa nasionalisme, bahkan dijuluki 'pecho frio'—istilah lokal yang merujuk pada pemain tanpa hati atau gairah. Tekanan untuk membuktikan diri di tanah airnya sendiri jauh lebih berat dibandingkan saat ia bermain untuk klub.
Titik balik hubungan ini mulai terlihat pada kualifikasi Piala Dunia 2011 melawan Kolombia. Messi menunjukkan dedikasi luar biasa di tengah kondisi fisik yang terkuras hingga muntah di lapangan demi memastikan kemenangan bagi La Albiceleste. Momen tersebut menjadi gerbang pembuka bagi publik Argentina untuk melihat Messi bukan lagi sebagai pemain yang tumbuh di Eropa, melainkan sebagai pejuang bagi negaranya.
Ikatan batin tersebut semakin menguat pasca-kekalahan di final Copa America 2016. Saat Messi sempat menyatakan pensiun, publik Argentina justru bersatu dan memohon agar sang kapten kembali. Mereka menyadari bahwa Messi adalah sosok yang membawa Argentina ke partai puncak, bukan penyebab kegagalan tim. Sejak saat itu, narasi 'pecho frio' perlahan terkubur digantikan oleh rasa hormat yang mendalam.
Di bawah kepemimpinan Lionel Scaloni, Messi berevolusi menjadi pemimpin yang vokal dan karismatik. Puncaknya adalah keberhasilan Argentina meraih dua gelar Copa America dan trofi Piala Dunia 2022. Pencapaian ini menegaskan statusnya sebagai ikon yang setara dengan legenda Argentina lainnya, Diego Maradona, meski dengan karakter yang berbeda.
Bagi penulis buku 'Messi and Everything Else', Sergio Levinsky, mencintai Messi adalah sebuah proses yang unik. Hubungan ini diibaratkan seperti menemukan seorang anak berusia 18 tahun yang tiba-tiba muncul dan harus dicintai tanpa proses pengenalan sejak kecil. Ini adalah bentuk cinta yang dibangun secara bertahap melalui pembuktian di lapangan hijau.
Kini, setelah semua medali emas dan trofi dikumpulkan, Messi meninggalkan warisan yang sulit ditandingi. Ia bukan lagi pemain asing yang kebetulan lahir di Rosario, melainkan simbol identitas sepak bola Argentina modern. Perpisahan di Stadion Monumental bukan sekadar laga pensiun, melainkan perayaan atas sebuah penantian panjang yang berujung pada kebahagiaan.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Messi ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana membangun ekosistem pemain diaspora. Seringkali, pemain keturunan Indonesia yang berkarier di luar negeri menghadapi tantangan serupa terkait penerimaan publik dan birokrasi. Perjuangan Messi membuktikan bahwa penerimaan publik tidak datang dari paspor, melainkan dari dedikasi nyata yang diwujudkan di atas lapangan.
Ke depannya, tanpa Messi, Argentina akan memasuki babak baru dalam sejarah sepak bolanya. Generasi penerus akan memikul beban ekspektasi yang tinggi, namun mereka memiliki fondasi yang kuat berkat kepemimpinan Messi selama bertahun-tahun. Warisan yang ditinggalkan oleh sang kapten tidak hanya berupa piala, melainkan mentalitas pemenang yang kini mendarah daging dalam skuad Argentina.
Industri olahraga global kini menanti bagaimana era setelah Messi akan berlangsung. Kehadiran sosok pemimpin baru tentu akan dinantikan, namun sulit untuk membayangkan ada pemain lain yang mampu menyatukan emosi sebuah bangsa dengan cara yang sama dramatisnya dengan perjalanan seorang Lionel Messi.