Tim kriket India, yang masih menyandang gelar juara dunia Twenty20 (T20), kini menghadapi tekanan besar setelah menelan kekalahan beruntun di dua seri internasional. Pasukan Negeri Bollywood itu takluk 4-0 dari Inggris dalam seri lima pertandingan, dengan satu laga pembuka berakhir tanpa hasil akibat hujan, serta sebelumnya dipermak 2-0 oleh Irlandia dalam sandiwara putih (whitewash) bulan lalu. Performa buruk ini langsung memicu sorotan tajam terhadap lini batting yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung skuad.
Kekalahan terakhir dari Inggris terjadi pada laga kelima dan pamungkas di Southampton, di mana tuan rumah menang dengan margin 56 run. Hasil tersebut melengkapi dominasi Inggris secara keseluruhan 4-0, setelah pertemuan pertama terpaksa dibatalkan karena cuaca buruk. Catatan ini berbanding terbalik dengan image India saat merebut gelar juara dunia T20 tahun lalu, di mana mereka kerap menghancurkan lawan dengan pukulan agresif dan percaya diri tinggi.
Mantan wicketkeeper sekaligus komentator Dinesh Karthik menjadi salah satu suara kritis yang menyoroti ritme batting India sepanjang tur. Dalam wawancara dengan situs berita kriket Cricbuzz, ia menegaskan bahwa skuad tamu memiliki masalah dalam beradaptasi dengan pantulan ekstra (extra bounce) di pitch Inggris. Menurutnya, urutan tengah (middle order) terlihat goyah, tidak yakin, dan sama sekali tidak mencerminkan tim India yang kita saksikan saat Piala Dunia atau seri bilateral sebelumnya.
Karthik lebih jauh menyoroti hilangnya faktor ketakutan (fear factor) yang dulu disebarkan India kepada lawan-lawannya. Ketika batting lineup mereka tampil trenggini dan ragu-ragu, oposisi tidak lagi merasa terintimidasi. Kondisi ini diperparah oleh masa transisi kepemimpinan, mengingat Shreyas Iyer baru ditunjuk sebagai kapten T20I pada Juni lalu, sehingga harmoni dan pemahaman antar pemain belum sepenuhnya matang menghadapi tantangan eksternal.
Kapten sendiri, Shreyas Iyer, mengakui kegagalan adaptasi terhadap kondisi berbeda menjadi biang keladi kekalahan. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa perpindahan dari satu venue ke venue lain menghadirkan tantangan tersendiri, terutama soal dimensi lapangan, karakter ground, dan cuaca. Timnya tidak bisa beradaptasi secepat yang diharapkan, sehingga strategi yang disiapkan tidak berjalan optimal di atas rumput Inggris dan Irlandia yang cenderung mendukung pergerakan bola cepat.
Legenda kriket India, Sunil Gavaskar, ikut memperingatkan bahwa batting harus segera bangkit karena itu adalah bagian terkuat dari tim. Jika komponen terkuat saja tidak berfungsi, maka dampaknya akan merambat ke sektor lain seperti bowling dan fielding. Memang terlihat dalam seri ini, ketika batsman gagal, para bowler merasa terbebani harus mengejar target besar, yang berujung pada penurunan konsentrasi saat menangkap bola di lapangan.
Komentator senior Harsha Bhogle memberikan perspektif menarik: pada dasarnya Inggris mengalahkan India dengan memainkan gaya permainan yang selama ini diklaim sebagai milik India sendiri, yakni batting eksplosif dan berani mengambil risiko. Baginya, kekalahan ini bisa menjadi alarm yang menyegarkan (wake-up call). Jika India bersedia menjadikan hasil ini sebagai cermin untuk melihat retakan kecil pada sistem mereka, maka banyak hal positif yang bisa diambil ke depan.
India kini akan menghadapi ujian lain dengan tiga pertandingan One-Day International (ODI) melawan Inggris mulai Selasa depan. Seri ini menjadi kesempatan emas untuk membuktikan bahwa kekalahan T20 hanyalah anomali sementara. Kemungkinan besar staf pelatih akan merombak susunan pemain, terutama di posisi middle order, dan perhaps memanggil kembali pemain berpengalaman yang lebih paham teknik menghadapi bounce.
Secara lebih luas, tren ini mengingatkan tentang pentingnya kedalaman skuad dan adaptabilitas dalam olahraga modern. Meski Board of Control for Cricket in India (BCCI) memiliki sumber daya melimpah dan sistem pelatihan elite, realitas di luar negeri menunjukkan bahwa teknologi analitik dan data pertandingan—seperti yang dipakai Cricbuzz—harus diimbangi dengan fleksibilitas taktis di lapangan. Negara-negara seperti Inggris dan Irlandia memanfaatkan kondisi rumah untuk mengeksploitasi kelemahan teknis lawan.
Akhirnya, sorotan terhadap batting India pasca-kekalahan ini sejatinya adalah proses evaluasi wajar bagi sebuah tim juara. Kritik dari within dan luar negeri akan memaksa manajemen untuk melakukan koreksi dini, sehingga saat turnamen ICC mendatang bergulir, India bisa kembali menampilkan wajah yang menakutkan bagi kombatan kriket global.