Laga perebutan tempat ketiga atau yang disebut FIFA sebagai Bronze Final akan mempertemukan Inggris dan Prancis di Miami pada Sabtu mendatang, dalam pertandingan yang sejak 1954 selalu hadir di setiap edisi Piala Dunia. Kedua pelatih menyatakan pemainnya tidak ingin bermain, namun situasi ini tetap memberikan nilai historis dan finansial bagi negara yang berlaga.
Didier Deschamps, pelatih Prancis, menyatakan sebelum laga di Miami bahwa yang terbaik bagi Prancis dan Inggris adalah jika pertandingan tersebut tidak ada. Thomas Tuchel, manajer Inggris, awalnya sepakat setelah kekalahan dari Argentina di Atlanta pada Rabu lalu, namun berubah lebih positif saat konferensi pers Jumat dengan menyebut peluang meraih hasil terbaik Inggris dalam 60 tahun jika menang.
Pertandingan perebutan posisi ketiga pertama kali diperkenalkan pada 1934 dan menjadi agenda tetap sejak 1954. Inggris pernah dua kali tampil di laga ini setelah 1966, yakni kalah dari tuan rumah Italia pada 1990 dan dari Belgia di Rusia 2018. Kroasia justru menyambut laga ini pada 2022 meski sudah jadi runner-up 2018, sementara Maroko menyebutnya sebagai 'booby prize' atau hadiah hiburan.
FIFA mempertahankan laga ini karena menentukan peraih medali perunggu dan urutan resmi keempat. Selain itu, ada selisih hadiah uang sekitar 2 juta dolar AS atau hampir 1,5 juta poundsterling antara posisi ketiga dan keempat. Catatan statistik resmi, sejarah turnamen, serta kepentingan penyiaran dan komersial juga menjadi alasan pengurus sepak bola dunia itu.
Dari sisi olahraga, laga ini sering melahirkan pencetak gol terbanyak atau Golden Boot. Empat dari tujuh peraih sepatu emas membutuhkan gol di laga perebutan ketiga untuk memastikan gelar, termasuk Thomas Muller 2010, Davor Suker 1998, Salvatore Schillaci 1990, dan Leonidas dari Brasil 1938. Grzegorz Lato, Eusebio, serta Just Fontaine juga mencetak gol di laga serupa.
Laga ini nyaris selalu menghasilkan banyak gol. Sejak 1974, hanya satu pertandingan yang tidak menghasilkan minimal dua gol, dan 11 dari 12 laga memproduksi lebih dari tiga gol. Rekor itu menunjukkan daya tarik tersendiri bagi penonton yang sudah membayar tiket dan biaya perjalanan.
Bagi penggemar di Indonesia, format Bronze Final menarik karena menambah pertandingan berkualitas tinggi di tengah dahaga akan tayangan sepak bola elite. Televisi dan platform streaming lokal biasanya menayangkan seluruh laga Piala Dunia, sehingga laga ini menambah jam tayang dan iklan. Di sisi lain, mentalitas pemain yang ogah main karena kecewa gagal final merupakan pelajaran soal manajemen emosi yang jarang dibahas analis domestik.
Indonesia belum pernah tampil di putaran final Piala Dunia sejak era modern, namun pengalaman timnas di Piala Asia kerap menunjukkan betapa pentingnya laga penentuan posisi bagi pemasaran sepak bola. Jika suatu saat tim Merah Putih berlaga di level tertinggi, laga perebutan ketiga bisa jadi ajang pembuktian bagi pemain pelapis sekaligus menaikkan valuasi sponsor.
Mantan bek Prancis dan Liverpool, Ibrahima Konate, yang baru main 14 menit di fase grup, mengaku tidak ada satupun pemain yang ingin laga ini, tapi tidak punya pilihan. Tuchel justru melihat kesempatan memberi menit bermain bagi James Trafford atau Kobbie Mainoo yang belum tampil di turnamen. Zlatko Dalic, pelatih Kroasia, menyebut medali perunggu 2022 memiliki 'lapisan emas' karena penting bagi negara dan suporter.
Louis van Gaal pernah menolak laga ini saat melatih Belanda 2014 dengan alasan tidak adil karena tim kelelahan usai semifinal. Gareth Southgate sebelum tampil 2018 juga bilang jujur saja tidak ada tim yang mau main. Namun FIFA tidak berniat menghapusnya karena urutan klasifikasi resmi dan nilai komersial tetap relevan.
Ekspansi turnamen menjadi 104 laga musim panas ini membuat sebagian pihak mempertanyakan perlu tidaknya laga tambahan. Jika Piala Dunia 64 tim digelar dengan 128 pertandingan dalam enam pekan, tekanan jadwal akan makin berat. Bronze Final mungkin bertahan, namun debat soal relevansinya akan terus menguat di masa depan.