Sepakbola

Pemerintah Prancis Bela Zidane di Tengah Kontroversi Agama Usai Dilantik Pelatih Timnas

Ringkasan

  • Anggota parlemen Prancis Abdelkader Lahmar membela pelatih baru timnas Zinedine Zidane setelah sejumlah pihak menyenggol agama Islam yang dianutnya, menilai pertanyaan serupa tidak pernah diajukan ke pelatih-pelatih sebelumnya.

Penunjukan Zinedine Zidane menggantikan Didier Deschamps sebagai pelatih kepala timnas Prancis baru saja memicu gelombang kontroversi yang menyentuh sisi keagamaan. Sejumlah pihak yang diduga bermotivasi Islamofobia mempertanyakan keputusan Federasi Sepakbola Prancis (FFF) melantik mantan bintang Real Madrid tersebut, mengaitkan agama Islam yang dianutnya dengan kapabilitas kepelatihan.

Respons cepat datang dari ranah politik. Abdelkader Lahmar, anggota parlemen dari partai La France Insoumise, menolak keras narasi yang mengarah pada diskriminasi. Lewat akun X-nya, Lahmar menegaskan bahwa selama ini tidak ada satu pun pelatih sebelumnya — mulai dari Deschamps, Laurent Blanc, Raymond Domenech, Jacques Santini, Roger Lemerre, hingga Aime Jacquet — yang ditanya soal keyakinan mereka saat dilantik.

"Kami tidak pernah menanyakan soal agama kepada Didier Deschamps, Laurent Blanc, Raymond Domenech, Jacques Santini, Roger Lemerre, atau Aime Jacquet saat mereka ditunjuk. Lalu mengapa pertanyaan ini diajukan kepada Zidane," tulis Lahmar dalam kicauannya yang segera viral di media sosial Prancis.

Latar belakang kontroversi ini tidak terlepas dari sejarah panjang Zidane sebagai ikon kebangsaan Prancis. Lahir di Marseille dari orang tua keturunan Algeria, Zidane membawa Prancis meraih Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 sebagai pemain. Karier pelatihnya di Real Madrid juga gemilang dengan tiga gelar Liga Champions beruntun (2016-2018). Prestasi itu seharusnya menjadi parameter utama penilaian, bukan identitas agama.

Deschamps yang digantikan Zidane baru saja mengakhiri masa jabatan 14 tahun di bangku pelatih timnas. Di bawah kepemimpinannya, Prancis meraih Piala Dunia 2018 dan UEFA Nations League 2021. Transisi kepemimpinan ini direncanakan sejak lama, mengingat kontrak Deschamps berakhir pasca Euro 2024. FFF menilai Zidane sebagai pewaris alami yang memahami DNA sepakbola Prancis.

Sikap FFF tetap tenang di tengah kebisingan. Federasi yakin Zidane memiliki ketahanan mental yang dibangun dari pengalaman bermain dan melatih di level tertinggi. Zidane sendiri belum memberikan komentar publik soal kontroversi agama, memilih fokus pada persiapan debut di UEFA Nations League September mendatang.

Jadwal debut Zidane tidak akan mudah. Prancis ditempatkan di grup yang berisi Italia, Belgia, dan Turki — tiga tim dengan kualitas tinggi. Laga pembuka melawan Italia di Paris pada 6 September akan menjadi uji nyata pertama sistem taktik Zidane di level timnas. Tekanan hasil instan akan hadir bersama tekanan ekstra dari kontroversi yang tidak seharusnya ada.

Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial Prancis yang kompleks. Sepakbola sering dijadikan cermin integrasi nasional, namun juga jadi arena identitas. Kasus Karim Benzema yang pernah dikecam soal "ke Prancis-an"nya, hingga'affaire" sambutan ke Mbappé soal politik, menunjukkan betapa rawan ruang publik Prancis terhadap isu identitas.

Di konteks Indonesia, kasus Zidane relevan mengingat kita juga negara multireligius dengan tradisi sepakbola yang berkembang. Pelatih berbasis agama non-Islam seperti Shin Tae-yong atau Luis Milla tidak pernah ditanya keyakinan mereka saat memimpin timnas. Profesionalisme harus jadi satu-satunya tolok ukur, bukan identitas pribadi yang dilindungi konstitusi.

Analis sepakbola Prancis, Philippe Auclair, menilai kontroversi ini justru menguji kematangan demokrasi Prancis. "Jika negara yang mengaku pembawa nilai liberté, égalité, fraternité masih terjebak diskriminasi agama di sepakbola, maka kita punya rumah kaca yang rapuh," ujarnya ke media lokal.

Masa depan Zidane di bangku pelatih timnas akan ditulis di lapangan, bukan di media sosial. FFF telah memberikan kepercayaan penuh, dan pemain-pemain senior seperti Kylian Mbappé, Antoine Griezmann, dan Aurélien Tchouaméni diharapkan mendukung transisi ini. Sepakbola Prancis butuh stabilitas pasca era Deschamps, dan Zidane dipilih karena rekam jejaknya — bukan karena nama di KTP atau kitab suci yang dibacanya.

Mengapa Ini Penting

Kasus Zidane menguji konsistensi nilai kesetaraan di sepakbola Eropa dan jadi precedent berbahaya: jika agama jadi pertimbangan jabatan pelatih, pintu diskriminasi terbuka lebar. Bagi Indonesia, ini pengingat bahwa profesionalisme harus di atas identitas — pelatih asing kita dinilai hasil, bukan keyakinan. FFF yang menolak terprovokasi menunjukkan institusi yang matang, pelajaran bagi PSSI dalam manajemen krisis serupa.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
16 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit