Ajang Formula 1 di Madrid menuai kritik pedas dari para pembalap setelah gelaran Grand Prix Spanyol yang berlangsung di kompleks IFEMA dianggap gagal menyajikan tontonan menarik. Sepanjang balapan, aksi salip-menyalip hampir mustahil dilakukan, yang membuat para pembalap merasa frustrasi karena terjebak di belakang lawan tanpa peluang nyata untuk menyerang. Bahkan, beberapa orang di paddock secara terang-terangan mengaku hampir tertidur karena minimnya dinamika di lintasan.
Juara balapan, Kimi Antonelli, mengungkapkan bahwa meskipun sirkuit tersebut terasa menyenangkan saat sesi kualifikasi dengan satu putaran cepat, karakteristiknya sangat buruk untuk balapan. Menurutnya, tata letak lintasan tidak memberikan ruang bagi pembalap untuk bermanuver karena risiko kontak yang sangat tinggi. Ia menyoroti tikungan kedua sebagai titik krusial yang berbahaya jika dipaksakan untuk menyalip.
Kritik serupa datang dari pembalap Haas, Oliver Bearman, yang menyoroti desain sirkuit yang sejak awal dirasa kurang matang. Bearman menjelaskan bahwa kombinasi tikungan dengan pintu keluar dan masuk yang sulit membuat pertahanan posisi menjadi terlalu mudah, sementara serangan menjadi sangat menantang. Ia menegaskan bahwa para pembalap tidak pernah dimintai masukan oleh pihak perancang sirkuit saat proses desain awal.
Fenomena ini sebenarnya sudah terprediksi saat balapan kategori junior berlangsung sebelum balapan utama F1 dimulai. Pembalap Williams, Alex Albon, menyebut bahwa jika mobil F3 saja kesulitan untuk menyalip di lintasan tersebut, maka sudah dipastikan tidak akan ada aksi berarti di kelas premier. Ia berharap ada keterbukaan dari penyelenggara untuk melakukan revisi layout demi masa depan balapan di Madrid.
Saran perubahan spesifik pun mulai bermunculan. Albon mengusulkan penghapusan chicane di antara tikungan 5 dan 6 yang dianggap hanya menghambat aliran balapan. Selain itu, ia menyarankan agar tikungan 13 diubah menjadi tikungan yang lebih lambat dengan zona pengereman yang lebih besar agar tercipta peluang menyalip yang lebih natural.
Sementara itu, juara dunia Lando Norris mengusulkan perombakan total pada sektor terakhir sirkuit. Ia merasa tikungan 18 dan 19 tidak memiliki fungsi strategis dan sebaiknya diubah menjadi lintasan lurus menuju hairpin yang lebih lebar. Norris mencontohkan Sirkuit Amerika (COTA) sebagai standar emas bagaimana tikungan besar bisa menciptakan peluang menyalip yang kompetitif bagi para pembalap.
Bagi audiens di Indonesia, keluhan ini menjadi pengingat penting akan standar kualitas sirkuit modern. Indonesia, yang sempat memiliki pengalaman dalam pengembangan Sirkuit Mandalika, tentu memahami bahwa tantangan terbesar dalam membangun sirkuit balap kelas dunia adalah menyeimbangkan aspek estetika dengan kebutuhan teknis balap yang kompetitif.
Kualitas sebuah sirkuit tidak hanya diukur dari seberapa cepat mobil melaju dalam satu putaran, tetapi juga seberapa besar peluang yang diberikan kepada pembalap untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam melakukan overtaking. Jika sebuah sirkuit hanya memanjakan kecepatan satu lap namun membunuh aksi balap, maka nilai komersial dan hiburan dari ajang tersebut akan menurun drastis.
Para pembalap mendesak FIA dan penyelenggara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh sebelum musim 2027. Mereka berharap ada kolaborasi yang lebih erat antara desain sirkuit dan kebutuhan teknis pembalap, sebagaimana yang pernah dilakukan di Jeddah setelah tahun pertama sirkuit tersebut dianggap terlalu berbahaya.
Langkah selanjutnya kini berada di tangan penyelenggara. Apakah mereka akan tetap mempertahankan desain saat ini demi keunikan karakter, atau bersedia melakukan perombakan besar-besaran demi menjaga reputasi F1 sebagai ajang balap paling kompetitif di dunia? Keputusan ini akan menjadi penentu apakah Madrid bisa menjadi tuan rumah yang dicintai atau justru terlupakan dalam kalender F1 masa depan.