Olahraga

Pemain Spanyol Gunting Jaring Gawang Usai Juara Dunia 2026, Warisi Tradisi Pique

Ringkasan

  • Usai mengalahkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, sejumlah pemain Spanyol menggunting jaring gawang sebagai suvenir kemenangan, melanjutkan tradisi yang dimulai Gerard Pique pada 2010.

Euforia kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 tidak hanya berhenti pada pengangkatan trofi. Setelah peluit panjang berbunyi menandakan kemenangan 1-0 atas Argentina di Stadion MetLife, East Rutherford, Senin (20/7) dini hari WIB, sejumlah pemain La Roja terlihat bergegas menuju gawang lawan. Mereka membawa gunting dan memotong jaring nylon putih tersebut dengan antusias, sebuah adegan yang sudah menjadi ciri khas tim juara dunia.

Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 di babak perpanjangan waktu menjadi penentu tunggal partai final yang sengit. Kemenangan itu menghadirkan gelar juara dunia keempat bagi Spanyol, setelah sebelumnya berhasil pada 2010, 2014, dan 2022. Namun, aksi memotong jaring gawang justru mencuri perhatian media internasional usai laga berakhir, mengingat tradisi ini memiliki akar sejarah yang dalam dalam budaya sepak bola modern.

Tradisi membawa pulang potongan jaring gawang pertama kali dipopulerkan Gerard Pique usai Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Bek mantan Barcelona itu mengakui inspirasi datang dari liga basket NBA, di mana pemain tim juara memotong ring basket sebagai kenang-kenangan. "Saya memutuskan ini akan menjadi kenangan hebat dari Piala Dunia di Afrika Selatan," ujar Pique saat itu, membuka pintu bagi generasi penerus untuk melanjutkan ritual tersebut.

Sejak 2010, tradisi ini diwariskan ke skuad Spanyol yang beruntung tampil di panggung final. Argentina pun meniru hal serupa usai menggebrak gelar juara dunia 2022 di Qatar. Lionel Messi dan rekan-rekannya saat itu terlihat memotong jaring Stadion Lusail, menciptakan momen ikonik yang tersebar luas di media sosial. Jaring gawang, yang selama ini hanya berfungsi sebagai penanda gol, bertransformasi menjadi artefak sejarah yang diburu para pemenang.

Bagi para pemain, potongan jaring itu bukan sekadar kain nylon. Ia melambangkan puncak perjuangan bertahun-tahun, bukti fisik bahwa mereka telah menaklukkan lawan di pertandingan paling berat. Gawang adalah tujuan utama dalam sepak bola — tempat di mana semua usaha berkumpul menjadi satu titik. Membawa pulang sebagian jaringnya berarti membawa pulang esensi kemenangan itu sendiri.

Tak sedikit pemain yang kemudian membingkai potongan jaring tersebut di ruang tamu atau museum pribadi. Sergio Ramos pernah memajang jaring Afrika Selatan 2010 di samping medali emasnya. Jordi Alba menyimpan potongan jaring Rusia 2018 — meskipun Spanyol tidak juara, ia memotong jaring usai laga grup sebagai kenangan debut Piala Dunia. Benda sederhana itu menjadi pengingat momen bersejarah yang sulit terulang, bahkan bagi pemain yang sudah menggantung sepatu.

Di era digital, aksi memotong jaring gawang juga memiliki nilai komersial dan branding yang signifikan. Klip video pemain berpose dengan gunting dan jaring terpotong langsung viral di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Sponsor kit sepak bola seperti Adidas, Nike, dan Puma sering memanfaatkan momen ini untuk kampanye real-time marketing. Jaring gawang final Piala Dunia 2026 yang diproduksi oleh mitra resmi FIFA pun ikut mendapat eksposur global tanpa biaya tambahan.

Sisi teknisnya, jaring gawang final Piala Dunia terbuat dari polietilen kepadatan tinggi (HDPE) dengan standar FIFA Quality Pro. Diameter mesh 120 mm, ketebal benang 3,5 mm, dan dilapisi anti-UV untuk ketahanan cuaca ekstrem. Setiap jaring resmi final dihargai sekitar 1.200 hingga 1.500 euro. FIFA menyediakan cadangan, namun jaring yang terpasang selama 120 menit final menjadi yang paling bernilai sejarah.

Kendati demikian, tradisi ini pernah memicu kontroversi minor. Pada Piala Dunia 2014, seorang steward Stadion Maracana mencoba mencegah Philipp Lahm memotong jaring usai Jerman juara, mengira itu merusak aset stadion. Lahm harus menjelaskan bahwa ini tradisi hormat FIFA. Sejak itu, pengelola stadion final sudah menyiapkan jaring cadangan khusus untuk dipotong pemain juara, menghindari gesekan dengan petugas keamanan.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, tradisi ini menawarkan pelajaran tentang menghargai proses dan menciptakan simbol kemenangan yang tangibel. Meskipun Timnas Indonesia belum pernah mencapai final Piala Dunia, semangat membawa pulang 'bukti perjuangan' bisa diterapkan di tingkat liga domestik. Pemain Liga 1 yang juara bisa mengadopsi ritual serupa — misalnya memotong jaring gawang usai final Piala Presiden atau final Liga 1 — menciptakan narasi kebanggaan sendiri yang bisa diwariskan ke generasi muda.

Ke depan, tradisi memotong jaring gawang diperkirakan akan terus berkembang. Beberapa federasi mulai memproduksi jaring final dengan desain khusus — bermotif bendera negara, logo turnamen, atau tanda tangan pelatih — yang kemudian dilelang untuk amal. FIFA sendiri mulai mendokumentasikan tradisi ini dalam arsip resmi Museum FIFA di Zurich. Potongan jaring Spanyol 2026 nanti akan duduk bersebelahan dengan jaring Afrika Selatan 2010, Qatar 2022, dan generasi juara lain, menyimpan cerita kemenangan dalam benang-benang nylon yang sederhana namun penuh makna.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini mengungkap bagaimana ritual sederhana memotong jaring gawang berevolusi dari inisiatif personal Pique 2010 menjadi warisan budaya global yang melampaui batas nasional. Bagi industri sepak bola Indonesia, ini membuka peluang menciptakan tradisi juara lokal yang autentik — bukan meniru, tapi mengadaptasi semangat 'membawa pulang bukti perjuangan' ke Liga 1 atau Piala Presiden. Nilai komersial jaring final yang kini dijual hingga 1.500 euro juga menunjukkan potensi aset immateriel yang bisa dimonetisasi klub-kliub Indonesia. Lebih jauh, tradisi ini mengajarkan bahwa simbol kemenangan tak harus mahal — cukup gunting dan selembar nylon yang menyimpan ribuan jam pelatihan.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit