Jakarta menjadi pusat perhatian dunia sepak bola regional sepanjang perhelatan FIFA ASEAN Cup 2026. Turnamen yang mempertemukan negara-negara Asia Tenggara dan tamu undangan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai pihak, termasuk dari pelatih timnas Pakistan, Nolberto Solano. Legenda sepak bola asal Peru yang pernah membela Newcastle United tersebut secara terbuka memuji standar operasional dan profesionalisme Indonesia sebagai tuan rumah.
Dalam jumpa pers yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (2/10), Solano menyatakan bahwa pengalaman timnya berkompetisi di Indonesia sangat berkesan. Bagi pria yang kini mengarsiteki Pakistan, kenyamanan dan kualitas penyelenggaraan turnamen ini melampaui ekspektasinya. Ia merasa bahwa atmosfer kompetitif yang terbangun di lapangan menjadi modal berharga bagi timnya untuk menatap masa depan.
Kehadiran Pakistan di Grup B FIFA ASEAN Cup 2026 memang menjadi sorotan tersendiri. Tergabung bersama tim-tim kuat seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam, skuad asuhan Solano harus berjuang keras di setiap laga. Meski akhirnya finis di posisi juru kunci dengan catatan satu hasil imbang dan dua kekalahan, Solano melihat partisipasi ini sebagai langkah awal yang krusial untuk memperbaiki performa sepak bola Pakistan di masa mendatang.
Kesenjangan kualitas sepak bola antara Pakistan dan negara-negara Asia Tenggara menjadi poin utama yang disoroti Solano. Ia mengungkapkan bahwa ketiadaan liga sepak bola profesional di negaranya sejak 2004 hingga 2021 telah memutus rantai regenerasi pemain. Tanpa kompetisi domestik yang rutin, para pemain lokal Pakistan kesulitan untuk bersaing di level internasional, sebuah tantangan besar yang belum ditemukan solusinya hingga saat ini.
Sebaliknya, Solano menunjuk liga domestik di Asia Tenggara, seperti Liga 1 Indonesia, Thai League, serta kompetisi di Vietnam dan Malaysia, sebagai contoh nyata bagaimana ekosistem sepak bola seharusnya dibangun. Baginya, konsistensi liga profesional adalah fondasi utama yang memungkinkan sebuah negara untuk melahirkan pemain berbakat yang siap membela tim nasional di ajang bergengsi.
Bagi Indonesia, pujian dari sosok sekaliber Solano merupakan pengakuan atas kemajuan infrastruktur dan manajemen olahraga nasional. Keberhasilan menggelar turnamen internasional FIFA bukan sekadar soal kesiapan stadion, namun mencakup pelayanan logistik, keamanan, hingga kenyamanan bagi kontestan mancanegara. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia semakin layak menjadi tuan rumah bagi ajang-ajang sepak bola berskala global.
Namun, apresiasi ini juga menyisakan pekerjaan rumah. Industri sepak bola tanah air, meski sudah memiliki liga profesional, masih menghadapi tantangan dalam hal konsistensi prestasi tim nasional. Perbandingan yang dilontarkan Solano tentang kemajuan liga di Asia Tenggara harus menjadi cermin bagi pengelola sepak bola di Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas kompetisi agar lebih kompetitif di level Asia.
Dampak dari gelaran FIFA ASEAN Cup 2026 ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kesuksesan operasional. Bagi para pemain lokal, pengalaman menghadapi tim dengan gaya bermain berbeda menjadi pelajaran berharga. Sementara bagi publik, ajang ini meningkatkan standar ekspektasi terhadap kualitas pertandingan dan manajemen suporter di stadion.
Lebih jauh, Solano menekankan bahwa generasi mendatang di Pakistan akan menghadapi rintangan yang sangat berat jika sistem liga profesional tidak segera dibenahi secara permanen. Tanpa adanya kompetisi domestik yang sehat, bakat-bakat muda akan terus layu sebelum berkembang. Pesan ini menjadi pengingat bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk tetap menjaga keberlangsungan liga sebagai jantung dari ekosistem sepak bola nasional.
Menatap masa depan, keberhasilan penyelenggaraan turnamen ini diharapkan membuka pintu bagi Indonesia untuk dipercaya menjadi tuan rumah event olahraga internasional lainnya. Dengan dukungan infrastruktur yang semakin memadai dan pengalaman manajemen yang teruji, Indonesia kini berada di posisi yang lebih kuat dalam peta persaingan sepak bola Asia.
Optimisme Solano terhadap perkembangan sepak bola di Asia Tenggara memang beralasan. Ia melihat adanya gairah dan komitmen kuat dari federasi di kawasan ini untuk terus berbenah. Meskipun terdapat tantangan dalam hal peringkat FIFA, setidaknya struktur liga yang berjalan menjadi pembeda utama antara negara yang serius membangun sepak bola dengan negara yang masih berjuang mencari identitas.
Sebagai penutup, partisipasi Pakistan di FIFA ASEAN Cup 2026 memberikan perspektif unik bagi para pecinta sepak bola di tanah air. Bahwa di balik kemegahan stadion dan sorak sorai penonton, terdapat kebutuhan fundamental berupa ekosistem liga yang profesional dan berkelanjutan sebagai syarat mutlak untuk mencapai kejayaan di panggung internasional.