Pelatih tim nasional Kanada, Jesse Marsch, secara terbuka mengakui bahwa laga melawan Maroko pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian paling berat bagi anak asuhnya. Pertandingan krusial yang dijadwalkan berlangsung di Houston Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu (5/7) pukul 00.00 WIB ini diprediksi akan menjadi salah satu laga paling sengit dalam fase gugur turnamen.
Marsch menyoroti kombinasi kualitas individu, kedisiplinan organisasi permainan, dan kepercayaan diri tinggi yang dimiliki skuad Singa Atlas. Menurut pelatih asal Amerika Serikat tersebut, Maroko saat ini merupakan salah satu tim paling berbahaya yang tampil konsisten sepanjang turnamen. Ia menegaskan bahwa timnya telah melakukan persiapan intensif untuk meredam kekuatan lawan yang dinilai memiliki kematangan taktik yang luar biasa.
Dalam sesi konferensi pers pralaga, Marsch menyatakan antusiasmenya menghadapi tantangan ini. Ia menekankan bahwa performa Maroko selama fase grup dan babak 32 besar menunjukkan bahwa mereka bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh para pemain Maroko menjadi perhatian khusus bagi tim pelatih Kanada agar tetap waspada sepanjang 90 menit pertandingan.
Perjalanan Maroko menuju babak 16 besar memang sangat impresif. Mereka berhasil melaju tanpa terkalahkan, termasuk menahan imbang Brasil di fase grup serta menyingkirkan Belanda melalui drama adu penalti pada babak 32 besar. Rekam jejak tersebut mempertegas status Maroko sebagai salah satu kuda hitam yang paling diwaspadai oleh negara-negara besar di pentas dunia.
Di sisi lain, Kanada mencatatkan sejarah baru bagi sepak bola negara tersebut dengan menembus fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya. Setelah kegagalan pada edisi 1986 dan 2022, capaian ini menjadi momentum penting bagi skuad Kanada untuk membuktikan kemampuan mereka di panggung internasional. Meski dihadapkan pada lawan yang tangguh, Marsch tetap optimistis bahwa timnya mampu memberikan perlawanan maksimal.
Bek Kanada, Alistair Johnston, memberikan pesan tegas kepada rekan setimnya agar tidak terintimidasi oleh nama besar Maroko. Ia mengingatkan bahwa dalam sepak bola, atmosfer pertandingan dan ekspektasi publik seringkali menjadi beban mental. Johnston mengajak timnya untuk fokus pada substansi permainan, yakni 11 lawan 11 di atas lapangan, dengan harapan dapat memberikan performa terbaik bagi pendukung mereka di seluruh dunia.