Pengurus Pusat PBSI pada Kamis (30/7) mengumumkan berakhirnya tugas Rionny Mainaky sebagai kepala pelatih ganda campuran beserta asistennya Amon Sunaryo. Keputusan itu diambil usai rangkaian evaluasi program pembinaan yang mencakup perkembangan atlet, efektivitas latihan, hingga dinamika pasangan yang terbentuk di Pelatnas.
Eng Hian, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, menegaskan pergantian ini bukan sekadar reaksi terhadap hasil pertandingan jangka pendek. Menurutnya, tim manajemen telah menilai seluruh proses pembinaan secara holistik serta mengacu pada KPI yang sudah ditetapkan sejak awal periode. Hasil evaluasi menunjukkan perlunya perspektif baru agar sektor ini mampu melonjak lebih optimal menghadapi target besar ke depan.
Selama menangani ganda campuran, Rionny dan Amon berhasil membimbing sejumlah pasangan muda meraih gelaran di ajang internasional tingkat menengah. Namun, konsistensi performa di turnamen beregu serta kejuaraan dunia masih menjadi catatan yang dinilai belum memenuhi standar yang ditargetkan PBSI untuk siklus Olimpiade mendatang.
Vakum kepemimpinan teknis di sektor ini tidak dibiarkan lama. PBSI mengambil langkah transisional dengan menggabungkan kelompok utama dan pratama dalam satu program latihan terpadu. Langkah ini dirancang agar alur pembinaan tetap berkesinambungan, beban latihan terkontrol, dan atlet tidak kehilangan momentum persiapan menghadapi kalender padat musim panas.
Eng Hian mengungkapkan pihaknya sudah mengantongi kandidat pelatih kepala baru yang dinilai cocok memimpin sektor ganda campuran. Proses penunjukan saat ini masih melewati tahapan internal administrasi dan hukum, dengan target pengumuman resmi pada bulan Agustus. Identitas kandidat tersebut dijaga kerahasiaan demi menjaga kelancaran negosiasi.
Pergantian pelatih di tengah siklus persiapan kejuaraan besar memang membawa risiko sendiri. Adaptasi metode latihan, filosofi permainan, dan komunikasi antar pasangan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. PBSI sadar akan hal ini, sehingga kebijakan penggabungan kelompok latihan juga berfungsi sebagai buffer agar transisi berjalan lebih licin.
Di sisi lain, keputusan ini menandakan keseriusan PBSI menerapkan akuntabilitas berbasis data dan evaluasi berkelanjutan — bukan sekadar mengandalkan nama besar di bangku pelatih. Eng Hian yang sendiri pernah menguasai sektor ganda campuran memahami nuansa teknis dan manajemen pasangan, sehingga arah kebijakan diharapkan lebih tajam dan terukur.
Bagi para atlet ganda campuran, momen ini menjadi uji mental sekaligus peluang. Mereka yang terbiasa dengan gaya komunikasi Rionny harus siap menerima pendekatan baru dari pelatih pengganti. Pasangan unggulan seperti Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja atau pasangan muda hasil regenerasi akan menjadi barometer keberhasilan transisi ini.
Sejarah menunjukkan sektor ganda campuran Indonesia pernah memproduksi juara dunia dan Olimpiade. Era Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir masih menjadi referensi emas. PBSI berharap penyegaran kepelatihan kali ini bisa membuka babak baru yang mengembalikan dominasi Merah Putih di papan atas dunia, bukan sekadar mempertahankan eksistensi.
Langkah PBSI ini juga mengirim sinyal ke seluruh sektor lain: performa dan proses dievaluasi terus-menerus, dan tidak ada posisi yang kebal dari perubahan. Kultur meritokrasi ini diperlukan agar badminton Indonesia tetap relevan di era kompetisi yang semakin ketat dan tidak memaafkan kesalahan manajemen.
Masa depan dekat akan menguji apakah kandidat pelatih baru mampu menterjemahkan visi PBSI ke dalam hasil nyata di gelanggang. Agustus akan menjadi bulan penentu, bukan hanya soal siapa yang duduk di bangku pelatih, tapi juga soal arah pembinaan ganda campuran Indonesia untuk empat tahun ke depan.