Olahraga

Pau Cubarsi, Bek 19 Tahun yang Tak Tergantikan di Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Pau Cubarsi (19) jadi pemain muda terbaik Piala Dunia 2026 usai antar Spanyol juara dengan penampilan solid di delapan laga.

Pau Cubarsi Paredes menerima penghargaan pemain muda terbaik Piala Dunia 2026 dari FIFA setelah membawa Spanyol menjadi juara pada turnamen yang berlangsung di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Pemain kelahiran 22 Januari 2007 itu tampil sebagai bek tengah utama La Roja dan tidak pernah diganti sepanjang delapan pertandingan fase final.

Penobatan Cubarsi bukan sekadar penghargaan simbolis. Statistik mencatat ia bermain penuh di semua laga dengan total 270 menit dan rasio umpan akurat mencapai 96 persen. Pada partai final kontra Argentina, ia melepaskan 115 umpan sukses dari 117 percobaan, disertai tiga sapuan bersih serta dua tekel yang berhasil seratus persen.

Kematangan Cubarsi di usia 19 tahun menjadi alasan pelatih Luis de la Fuente memercayakannya sejak menit pertama. Ia tidak menunjukkan kegugupan meski berhadapan dengan pemain sekaliber Lionel Messi. Ketenangan dalam membaca pergerakan lawan dan minimnya pelanggaran tak perlu menjadi kunci stabilitas lini belakang Spanyol.

Kiprah apik di Piala Dunia sejatinya merupakan puncak dari proses panjang di level klub. Cubarsi memulai debut profesional bersama Barcelona pada 18 Januari 2024, hanya empat hari sebelum ulang tahunnya yang ke-17, saat tim masih ditangani Xavi Hernandez. Musim perdana 2023/2024 ia mencatatkan 19 penampilan Liga Spanyol dan 24 laga di seluruh kompetisi.

Pemain yang menimba ilmu perdana di Girona itu lalu menjelma menjadi pilar utama Blaugrana pada 2024/2025. Ia mengoleksi 56 pertandingan dalam satu musim, angka yang jarang dicapai bek seumurannya. Konsistensi itulah yang mengundang perhatian De la Fuente untuk memanggilnya membela tim nasional.

Cubarsi melakoni debut internasional pada Maret 2024. Ia tampil lima kali untuk Spanyol di tahun yang sama dan jumlah serupa pada 2025. Memasuki 2026, perannya melesat drastis: 10 pertandingan dilakoninya, delapan di antaranya berlangsung di Piala Dunia. Ia praktis tak tergantikan.

Bagi pecinta sepak bola Tanah Air, prestasi Cubarsi menyajikan cerminan tentang pentingnya jenjang pembinaan usia dini yang terukur. Di Indonesia, bakat muda kerap naik ke tim senior tanpa jam terbang klub yang cukup. Padahal Cubarsi baru jadi starter reguler setelah puluhan laga di La Liga.

Model pelatihan di Barcelona yang memadukan akademi dan eksposur tim utama terbukti melahirkan bek dengan ketajaman pengamatannya. Sementara itu, kompetisi domestik Indonesia masih tertatih membangun sistem serupa. Liga 1 belum banyak menghasilkan defender 19 tahun yang langsung kompetitif di level internasional.

De la Fuente pernah menegaskan bahwa kehadiran Cubarsi memberi karakter permainan yang ia inginkan untuk La Roja. Pelatih asal Spanyol itu menyebut kecocokan gaya main menjadi alasan utama pemain muda tersebut dipercaya sejak awal turnamen. Keselarasan visi pelatih dan pemain muda menjadi katalis keberhasilan tim.

Keberhasilan Cubarsi juga menegaskan bahwa posisi bek tengah tak lagi didominasi pemain senior berpengalaman. Ia membuktikan bahwa usia bukan batas jika fondasi teknis dan mental sudah terbentuk sejak dini. Hal ini meruntuhkan asumsi lama bahwa lini pertahanan wajib diisi sosok berusia di atas 25 tahun.

Ke depan, Cubarsi diproyeksikan menjadi tulang punggung pertahanan Spanyol untuk satu dekade ke depan. Ia akan menghadapi Euro 2028 dan Piala Dunia 2030 dengan bekal pengalaman juara dunia di usia sangat belia. Barcelona pun dipastikan akan semakin mengandalkannya sebagai bagian dari proyek jangka panjang klub.

Tren pemakaian pemain di bawah 20 tahun di turnamen besar diprediksi makin lazim. Spanyol telah memberi contoh lewat Cubarsi, dan negara lain termasuk Indonesia perlu mengevaluasi cara mereka mematangkan bakat muda agar tak sekadar jadi pelengkap di panggung global.

Mengapa Ini Penting

Prestasi Cubarsi menyoroti urgensi reformasi pembinaan usia dini di Indonesia yang masih minim eksposur kompetitif bagi pemain di bawah 20 tahun. Klub lokal perlu meniru model akademi Eropa yang mengukur kesiapan mental dan teknis sebelum promosi ke tim utama. Keberhasilan ini juga mengubah paradigma scouting internasional yang kini lebih berani memercayakan lini pertahanan kepada pemain sangat muda. Penggemar sepak bola Indonesia mendapat pelajaran berharga bahwa jam terbang berkualitas lebih menentukan daripada sekadar usia dalam membentuk bintang masa depan.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit