Olahraga

Paredes Amok Usai Final Piala Dunia: Cekik Laporte, Hampir Hajar Gavi

Ringkasan

  • Leandro Paredes kehilangan kendali usai Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, menyerang Aymeric Laporte dan hampir memukul Gavi di tengah keributan massa.

Leandro Paredes tidak menerima kekalahan Argentina dengan lapang dada. Gelora final Piala Dunia 2026 di Stadion New Jersey berakhir tidak hanya dengan kemenangan Spanyol 1-0 lewat gol Ferran Torres di menit ke-106, tapi juga adegan kekacauan yang melibatkan pemain tengah Argentina itu. Video yang beredar di media sosial menunjukkan Paredes mencekik leher Aymeric Laporte sebelum didorong pelatih Lionel Scaloni, lalu berbalik menyerang Gavi hingga pemain Barcelona itu terjungkal ke rumput.

Kebrutalan Paredes bukan kejadian terisolasi. Sejak babak tambahan, emosi timnas Argentina sudah meledak. Enzo Fernandez dikartu merah langsung setelah menjegal Pau Cubarsi hingga jungkir balik di menit injury time. Sebelumnya, Paredes sendiri sudah melanggar keras Rodri dan mendorong Dani Olmo hingga terjatuh. Kekalahan kedua beruntun di pesta besar — setelah gagal di Copa America 2024 — tampak memecah ketahanan mental tim yang selama ini dikenal dingin di bawah tekanan.

Spanyol memang bermain superior selama 120 menit. Luis de la Fuente menguasai tengah lapangan dengan trio Rodri, Pedri, dan Fabian Ruiz, mengunci aliran pas Argentina. Lionel Messi, yang kemungkinan besar menutup karier Piala Dunianya, terlihat frustasi karena jarang disentuh bola. Dominasi posisi bola La Roja mencapai 68 persen dengan 18 tembakan ke gawang, sedangkan Argentina hanya mencatat tiga. Gol Torres lahir dari kontra serbu cepat setelah Argentina tergesa-gesa naik mengejar kemenangan.

Kehilangan kendali Paredes mencerminkan krisis kepemimpinan di lini tengah Argentina. Sejak pensiun Javier Mascherano dan Sergio Aguero, tim ini kekurangan figur yang bisa menenangkan rekan saat tekanan puncak. Paredes, yang seharusnya jadi penyeimbang taktis, justru jadi sumber ketidakstabilan. Scaloni harus memikirkan regenerasi serius: Alexis Mac Allister dan Enzo Fernandez berbakat tapi masih muda, sedangkan Rodrigo De Paul mulai menurun performa usia 32 tahun.

Di sisi Spanyol, kemenangan ini menandai era baru dominasi sepak bola Eropa. Setelah gelar Euro 2024, La Roja kini menyandang dua trofi besar berturut-turut — pencapaian yang belum pernah diraih sejak 2008-2012. De la Fuente membangun tim dengan fondasi akademi La Masia dan sistem posisi bola yang fleksibel. Lamine Yamal, baru berusia 19 tahun, sudah jadi bintang global. Spanyol tidak hanya menang, tapi menaklukkan Argentina di kandang mereka sendiri dengan gaya.

Kecaman internasional tak terelakkan. FIFA pasti akan membuka disipliner terhadap Paredes, dengan sanksi minimal tiga laga internasional. Preceden kasus serupa — seperti Zinedine Zidane di 2006 atau Luis Suarez menggigit Giorgio Chiellini — menunjukkan badan induk tidak kompromi soal kekerasan pasca-pertandingan. Argentina berisiko kehilangan pilar tengah di kualifikasi Piala Dunia 2030, yang dimulai bulan depan.

Viralnya video keributan di platform X, Instagram, dan TikTok memperparah citra Argentina. Jutaan penggemar di Indonesia — pasar sepak bola terbesar Asia Tenggara — menyaksikan adegan memalukan itu dalam hitungan jam. Hashtag #ParedesDisgrace trending global. Bagi sponsor dan penyiaran, ini kerugian reputasional. Televisi berbayar Indonesia yang membayar hak siar besar harus hadapi keluhan penonton soal nilai olahraga yang dihancurkan sekelompok pemain.

Sejumlah mantan bintang Argentina ikut menanggapi. Sergio Aguero di streaming pribadinya menegaskan: "Ini bukan Argentina yang kita kenal. Kita menang dengan kelas, kalah pun harus dengan kelas." Pablo Aimar, kini bagian staf pelatih, menolak berkomentar tapi wajahnya muram di konferensi pers. Scaloni hanya bilang singkat: "Kita akan evaluasi internal. Ini bukan citra kita."

Masa depan Paredes di timnas kini kabur. Kontraknya dengan Roma berakhir Juni 2026, dan performa klub musiman ini menurun. Beberapa klub Premier League yang minat — Aston Villa dan Fulham — kemungkinan menarik minat setelah insiden ini. Lebih parah, citranya sebagai profesional tercoreng permanen. Pemain berusia 31 tahun ini mungkin sudah memakai jersi albiceleste untuk terakhir kali di malam kelam New Jersey.

Bagi sepak bola Indonesia, episode ini jadi pelajaran keras: bakat teknis tanpa karakter mental adalah bom waktu. Pengembangan pemain muda di akademi lokal — seperti Garuda Select atau PSSI Elite Pro Academy — harus menanamkan disiplin emosional sejak dini. Federasi juga perlu memastikan regulator disiplin berlaku ketat di liga domestik, agar pemain terbiasa menjaga komposure di bawah tekanan.

Piala Dunia 2026 berakhir dengan Spanyol di puncak, tapi kenangan final ini akan selalu tercatat bukan karena gol Torres, tapi karena amok Paredes. Sejarah akan mengingat Argentina 2026 sebagai tim yang kalah dua kali: di skor papan dan di papan moral. Tugas Scaloni dan manajemen AFA sekarang bukan hanya membangun tim baru, tapi memulihkan martabat jersi yang dicoret noda kemarahan tak terkendali.

Mengapa Ini Penting

Insiden Paredes bukan sekadar keributan lapangan — ini titik balik narasi Argentina pasca-Messi. Kegagalan regenerasi kepemimpinan mental di lini tengah membuka peluang Brasil, Uruguay, dan Colombia mendominasi CONMEBOL. Bagi industri sepak bola Indonesia, viralitas kekerasan ini memperburuk citra liga dan akademi lokal di mata sponsor global yang semakin sensitif soal nilai olahraga. PSSI harus gunakan momentum ini untuk memperketat sanksi disiplin di BRI Liga 1 dan kompetisi muda, sekaligus memperkuat kurikulum psikologi olahraga di pembinaan pemain. Jangka panjang, karakter akan jadi diferensiasi utama saat bakat teknis semakin setara.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit