Final Piala Dunia 2026 di Stadion New Jersey berakhir dengan kemenangan tipis Spanyol 1-0 atas Argentina lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106. Kemenangan itu menghadirkan gelar juara dunia kedua bagi La Roja setelah 2010, namun momen sejarah itu tercoreng oleh aksi kekerasan yang melibatkan pemain Argentina Leandro Paredes pasca peluit panjang.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan Paredes mendekati Aymeric Laporte dan mencengkeram lehernya dengan keras. Lionel Scaloni, pelatih Argentina, terlihat bergegas mengantarai kedua pemain tersebut sebelum situasi semakin memanas. Namun campur tangan pelatih senior itu justru memicu reaksi berantai dari sejumlah staf dan pemain Argentina lainnya.
Dalam kekacauan itu, Gavi menjadi sasaran amarah Paredes. Gelandang muda Spanyol digenggam dan didorong hingga terjatuh ke rumput, sementara Paredes mengangkat tangan seolah hendak memukul. Kehadiran petugas keamanan dan rekan setim akhirnya berhasil menahan gelandang berusia 30 tahun itu sebelum tragedi lebih parah terjadi.
Ketegangan sebenarnya sudah terasa sejak babak normal. Paredes melakukan pelanggaran berat terhadap Rodri di tengah lapangan, memicu bentrokan verbal yang melibatkan Dani Olmo. Spanyol yang mendominasi penguasaan bola 65 persen dan menciptakan 14 tembakan ke gawang membuat Argentina semakin frustrasi. Puncaknya, Enzo Fernandez menerima kartu merah langsung di menit injury time babak kedua usai menjegal Pau Cubarsi hingga jungkir balik.
Kartu merah untuk Fernandez berarti Argentina harus bermain dengan 10 orang di babak tambahan. Kehilangan gelandang Chelsea itu memaksa Scaloni mengubah formasi jadi 4-4-1, menyerahkan inisiatif penuh ke Spanyol. Ferran Torres, yang baru masuk menggantikan Alvaro Morata pada menit ke-91, memanfaatkan kelelahan pertahanan Argentina dengan menyelesaikan umpan silang Lamine Yamal dengan tenang di depan Emiliano Martinez.
Spanyol bermain dengan sistem 4-3-3 yang fleksibel berubah jadi 4-2-3-1 saat bertahan. Rodri berperan sebagai penjaga tempo, sementara Pedri dan Gavi bebas bergerak ke samping menciptakan kelebihan numerik di sayap. Argentina yang mengandalkan transisi cepat melalui Lionel Messi dan Julian Alvarez terkekang total oleh pressing tinggi La Roja.
Kemenangan ini menandai dominasi baru sepak bola Spanyol di kancah internasional. Sejak Luis de la Fuente mengambil alih Juli 2022, La Roja mengumpulkan 38 kemenangan dari 45 laga, hanya kekalahan tunggal datang dari Brasil di fase grup Piala Konfederasi 2025. Rata-rata usia tim starter final baru 25,3 tahun, menjanjikan era keemasan baru.
Bagi Argentina, kekalahan ini menutup era Scaloni-Messi dengan catatan gemilang: juara Copa America 2021 dan 2024, Finalissima 2022, serta Piala Dunia 2022. Namun insiden Paredes menimbulkan pertanyaan serius tentang manajemen emosi dan disiplin tim saat menghadapi tekanan ekstrem. AFA (Asosiasi Sepak Bola Argentina) diharapkan mengeluarkan sanksi internal keras.
FIFA pasti akan membuka disipliner terhadap Paredes dan mungkin pula terhadap staf Argentina yang terlibat. Referensi kasus serupa seperti Zinedine Zidane di final 2006 (sanksi 3 laga internasional) atau Luis Suarez menggigit Giorgio Chiellini 2014 (larangan 9 laga internasional) menjadi tolok ukur. Paredes berisiko kehilangan awal kualifikasi Piala Dunia 2030.
Di sisi Spanyol, gelar ini memperkuat narasi regenerasi sukses. Gavi (20 tahun), Pedri (23), Lamine Yamal (19), dan Pau Cubarsi (19) membentuk tulang punggung tim untuk dekade ke depan. De la Fuente layak mendapat pujian atas keberanian mempromosikan pemain muda ke tim senior tanpa periode transisi panjang.
Kebangkitan Spanyol juga berdampak komersial besar. La Liga melaporkan peningkatan permintaan hak siar global 18 persen kuartal lalu, dan sponsorship jersey nasional naik 35 persen tahunan. Pemain-pemain muda ini menjadi aset marketing emas bagi federasi dan klub-klub mereka.
Masa depan Argentina kini bergantung pada transisi generasi. Messi (39) dan Angel Di Maria (38) kemungkinan besar pensiun internasional. Lautaro Martinez, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernandez (jika bebas sanksi) harus memikul beban. Scaloni sendiri kontraknya berakhir Desember 2026, membuka spekulasi lanjutan kariernya.