Nama besar dan pengalaman internasional kini menjadi harapan baru PBSI dalam merestorasi kejayaan ganda campuran Indonesia. Nova Widianto resmi ditunjuk sebagai kepala pelatih ganda campuran Pelatnas Cipayung, mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Rionny Mainaky. Keputusan ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan langkah strategis PBSI untuk mengembalikan nomor prestisius ini ke peta persaingan tertinggi bulu tangkis dunia.
Indonesia sedang tidak baik-baik saja di sektor ganda campuran. Tidak ada satu pun pasangan Merah Putih yang bertengger di 10 besar ranking BWF saat ini. Kondisi ini sangat kontras dengan masa keemasan dua dekade lalu, ketika Indonesia selalu menjadi ancaman serius di setiap turnamen internasional untuk nomor ganda campuran.
Nova bukan nama asing di dunia ganda campuran Indonesia. Semasa aktif sebagai atlet, ia pernah merengkuh dua gelar juara dunia pada 2005 dan 2007 saat berpasangan dengan Liliyana Natsir. Pencapaian tersebut menjadikannya salah satu figur terpenting dalam sejarah ganda campuran Indonesia. Ketajaman insting permainan dan pemahaman mendalam terhadap dinamika nomor ini menjadi bekal berharga saat ia beralih ke dunia kepelatihan.
Perjalanan karier kepelatihan Nova tergolong dinamis. Setelah gantung raket, ia ditunjuk sebagai asisten pelatih ganda campuran, bekerja di bawah bimbingan Richard Mainaky. Dari situlah ia menyerap filosofi melatih dan memahami seluk-beluk pengelolaan tim nasional. Pada 2021, ketika Richard Mainaky mengundurkan diri, Nova dipromosikan menjadi kepala pelatih. Namun ia sendiri kemudian memutuskan hengkang pada akhir 2022.
Kepergian Nova ke Malaysia sempat menjadi pukulan tersendiri bagi PBSI. Di negeri jiran, ia justru mencatatkan prestasi gemilang. Nova berhasil membawa pasangan Chen Tang Jie dan Toh Ee Wei menjuarai Kejuaraan Dunia 2025 — gelar dunia kedua sepanjang sejarah bulu tangkis Malaysia setelah keberhasilan pasangan sebelumnya. Capaian ini membuktikan kapasitas Nova sebagai pelatih kelas dunia yang mampu mengangkat performa atlet ke level tertinggi.
Mengapa Nova memilih kembali ke Indonesia? Salah satu faktor emosional yang kuat adalah permintaan dari sang ibu. Faktor keluarga ini menjadi pendorong signifikan di balik keputusan pribadi Nova, meski secara profesional ia sudah nyaman dan sukses di Malaysia. Keputusan ini menunjukkan bahwa ikatan emosional dengan tanah air masih memiliki bobot tersendiri bagi para pelaku olahraga Indonesia.
Bagi Indonesia, kembalinya Nova adalah berita positif yang sudah lama ditunggu. Ia membawa pulang pengalaman melatih di luar negeri yang berbeda dengan lingkungan Pelatnas. Pemaparan terhadap metode pelatihan modern, manajemen atlet internasional, dan standar kompetisi global diharapkan bisa menjadi katalis perubahan di Cipayung.
Tantangan yang menanti Nova sungguh tidak ringan. Membangun pasangan ganda campuran dari nol butuh waktu, kesabaran, dan akurasi dalam membaca potensi atlet muda. Ia harus mampu menemukan duet yang kompatibel, mengasah teknik sekaligus membangun chemistry — sesuatu yang tidak bisa dipaksakan dalam waktu singkat.
Sementara itu, kehadiran Nova juga diharapkan memicu efek kompetisi positif di internal Pelatnas. Kombinasi antara pengalaman luar negeri dan pemahaman mendalam terhadap karakter atlet Indonesia menjadi keunggulan yang bisa dimaksimalkan. Apalagi, ia sudah pernah bekerja di sistem Cipayung sebelumnya.
Ke depan, PBSI kemungkinan akan memberikan Nova keleluasaan untuk merombak dan menyusun ulang program pelatihan ganda campuran. Target jangka pendek tentu adalah mengembalikan pasangan Indonesia ke 10 besar dunia, sementara target jangka panjangnya adalah mencetak pasangan yang mampu bersaing di Olimpiade dan kejuaraan dunia berikutnya.